LKMM TD FISIP UNUD

IMG-20151121-WA0004_(2)[1]
Moderator, Gubernur BEM FISIP, sama Ketua Panitia

Pernah bergelut di organisasi mahasiswa ketika masa kuliah membuat BEM FISIP UNUD lewat panitia LKMM-nya menghubungi saya untuk menjadi pembicara di acara pelatihan kepemimpinan dan manajemen dasar untuk mahasiswa. Setidaknya itu yang mereka utarakan kepada saya ketika saya tanya mereka terkait alasan mengapa menunjuk saya untuk sharing pemikiran dengan sub-tema “Membentuk Jiwa Muda Revolusioner pada Era Kontemporer”. Adalah Putri Cahya sebagai ketua panitia acara, orang pertama yang menghubungi saya meminta untuk mau berbagi cerita ke peserta LKMM TD, yang kemudian diikuti panitia humas untuk masalah undangan, Diah LG untuk masalah tor plus materi dan pak gub – mas Arif untuk masalah haha-hihi.

***

IPD – Sabtu, 21 November 2015 / 10.00

Setelah berjuang untuk bangun pagi pasca perhelatan UJF yang pecah ambyar di malam sebelumnya, akhirnya saya bisa dateng tepat waktu ke lokasi LKMM berlangsung. Padang Sambian – Bukit, jimbaran yang biasanya memerlukan waktu tempuh sekitar 3/4 jam ternyata untuk hari ini bisa saya tempuh setengah jam, suatu pencapaian fantastis menurutku. Sesampainya di IPD, saya disambut panitia yang cukup cantik di meja registrasi, ternyata ini Diah LG yang di hari itu sekaligus menjadi moderator ku.

“Keputusan tepat untuk ngga ngajak febi kesini”, batinku.

Setelah pamit ke toilet sebelum saya memilih untuk masuk ke ruangan langsung dan menolak tawarannya untuk ke ruang tunggu pembicara terlebih dahulu. Berdalih pingin liat Clara-presma bem pm sebagai pemateri pertama, saya masuk ke ruangan acara berlangsung. Clara membawa materi dengan apik ngga keliatan kalo dia baru tidur 3 jam sebelumnya karna afgan. Selain itu, ngga nyangka juga kalo dia dulu pernah jadi anak baru di kampus, sekarang udah berubah. hha

Sesi pertama selesai, tiba waktuku ke depan untuk sesi kedua. Berbekal materi di TOR, saya mulai membawa materi dengan sub tema “Membentuk Jiwa Muda Revolusioner pada Era Kontemporer”.

***

Materi saya awali dengan keadaan pemuda sekarang.

Bicara tentang pemuda dan kepemimpinan, memang merupakan dua hal yang tidak terpisahkan akhir-akhir ini. Melihat keadaan bangsa sekarang, memang bukan berlebihan kalo kita para pemuda diharapkan mampu muncul membawa harapan baru, muncul dengan semangat baru, membawa ide baru. Mengutip quote Anies Baswedan – Anak muda itu memang minim pengalaman, maka dari itu mereka tidak menawarkan masa lalu. Mereka menawarkan masa depan. Ungkapan tersebutlah yang memunculkan kembali rasa optimis terhadap keberlangsungan negri sekaligus menjadi barometer untuk menyiapkan motor-motor penggerak bangsa di masa mendatang.

Namun, jauh panggang dari api. Peran pemuda di era ini masih belum terlihat mengambil andil dalam upaya memperbaiki wajah politik dan carut marutnya sistem yang ada di negara kita. Pemuda yang diharapkan mampu menjadi ujung tombak dalam perubahan nasib, justru tidak beripikiran tentang nasib bangsanya. Kondisi pemuda saat ini seperti kehilangan jati diri sebagai cendekiawan muda, mereka terjebak dalam gaya hidup yang pragmatis.

Memilih jalan pintas untuk mencapai segala keperluan mereka, anak muda sekarang terjebak dalam lingkaran kapitalisme global yang merasuki segala sendi kehidupan. Kita sedang dijajah oleh negara asing dengan bentuk yang berbeda. Jika dahulu kita dijajah dengan militer saat ini kita sedang dijajah oleh 3F yaitu Food, Fashion dan Fun yang mana tiga hal tersebut merupakan bagian dari yang sering kita sebut sebagai gaya hidup atau lifestyle. Menganggap apa yang berasal dari luar negeri itu lebih keren apapun itu bentuknya. Sehingga pemuda mulai kehilangan jati diri lokalnya.

Dampak dari penjajahan tersebut adalah anak muda (pelajar dan mahasiswa) sekarang ini, banyak yang tidak lagi memiliki sikap kritis, banyak memilih hidup hura-hura, menjadi mahasiswa “kupu-Kupu” atau Kuliah Pulang-kuliah pulang daripada ikut organisasi yang sibuk dengan diskusi-diskusi.

Selain itu, ada dampak lanjutan dari terjebaknya pemuda dalam gaya hidup yang pragmatis adalah membuat pemuda kita akan lebih memilih untuk tidak tersingkir dari kehidupan yang elitis daripada hidup dengan idealis. Mengambil apa yang bermanfaat dan berguna bagi mereka dan tidak mempedulikan serta mengabaikan segala hal yang tidak memunculkan manfaat baginya walaupun dapat membawa banyak manfaat bagi sekitarnya.

Hal ini juga yang menjadi satu alasan mengapa saat ini sangat sedikit mahasiswa yang mau memberikan sedikit perhatian mereka terhadap carut marutnya keadaan bangsa saat ini. Padahal menurut pengamatan mata bodoh saya, pemuda kita ini memiliki karakter yang cukup unik yaitu karakter mereka yang ‘latah’. Latah dengan segala hal yang sedang hits, latah dengan segala hal yang sering muncul di media. Andai saja ada yang membuat diskusi tentang buku dan debat-debat politik sederhana menjadi tren anak muda, mungkin kehidupan kampus akan lebih berdinamika disana. Khususnya kehidupan kampus di Bali – tempat saya berkuliah. Sayang, tren jalan-jalan ke tempat makan hits sambil gosip sana-sini yang lebih dominan disana (termasuk saya).

***

Membawakan materi tentang kepemimpinan di acara ini saya sedikit ingin menghubungkan fenomena tersebut dengan, bagaimana sebenarnya mahasiswa harus barkontribusi sebagai calon pemimpin masa depan. Ya, pemuda lah yang harus berperan atas keberlangsungan negara kita ini. Kitalah yang masih punya ide-ide kreatif, tenaga kita masih segar, waktu kita masih banyak, dan yang terpenting adalah kita ngga punya pengalaman masa lalu yang suram. (hahaha)

Fungsi kita adalah sebagai suplier utama kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan sosial. Hal utama yang akan saya tekankan disini adalah mahasiswa sebagai agent of change. Sebagai agen perubahan, ini dapat diwujudkan dengan mengembangkan pendidikan politik dan demokratisasi, sumberdaya ekonomi, kepedulian terhadap masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi, olahraga, seni, dan budaya, kepedulian terhadap lingkungan hidup, pendidikan kewirausahaan, serta kepemimpinan dan kepeloporan pemuda.

Ide-ide dan semangat baru yang kita tawarkan akan sangat berguna bagi perubahan, sob.Bayangin aja kalo semua sendi yang saya sebut di paragraf sebelumnya itu bisa kita kelola secara maksimal dan tanpa kepentingan segelintir pihak, bukan tidak mungkin kalo kita bisa semakin berdikari. Kitalah yang punya tanggung jawab untuk menciptakan terobosan-terobosan baru dengan gaya yang lebih fresh dan dapat diterima di semua kalangan.

Namun, Pemuda tidak akan mempunyai semangat yang abadi dalam pembangunan Indonesia melalui perubahan, bila bekerja secara sendiri. Oleh karena itu, diperlukan komunitas yang konsisten dengan perubahan tersebut. Disinilah kemudian lahir peran organisasi dalam mewujudkan tujuan pemuda dalam membangun Indonesia. Organisasi yang dimaksud tidak hanya organisasi yang terlihat saja, tetapi juga organisasi yang terselubung. Dalam organisasi akan lahir diskusi-diskusi dan budaya yang mendukung adanya sebuah perubahan. Perubahan di lingkungan sekitar hingga skala yang paling luas sekalipun sehingga organisasi dapat dianalogikan sebagai “kendaraan” pemuda sebagai agent of change (agen perubahan).

Pemuda Indonesia harus berani melakukan otokritik, sekaligus membenahi diri, meningkatkan kualitas sumberdaya manusianya, dan siap berkiprah di tengah-tengah masyarakat, mewarnai di berbagai lini kehidupan bangsa. Bangsa ini membutuhkan peran dan sumbangsih kalangan pemuda secara nyata, sehingga tentu sesungguhnya tugas dan peran pemuda tidaklah ringan. Pemuda Indonesia diharapkan mampu mengambil setiap peluang yang ada dan memanfaatkannya secara baik, demi kemajuan bangsa.

***

Bicara tentang kepemimpinan, ini bukan melulu tentang bagaimana mencapai pucuk kekuasaan di suatu kelompok, organisasi ataupun komunitas. Karena yang terpenting dari kepemimpinan itu sendiri adalah sifat dan pola pikir kita. Teringat celetukan sederhana dari peserta LKMM kemarin yaitu “setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri”, ya! semua orang harus punya sikap kepemimpinan.

Sikap kepemimpinan memiliki dasar yang sederhana menurut versi saya, yaitu kritis, bertanggung jawab dan peka terhadap keadaan sekitar, bagi saya inilah elemen yang harus dimiliki setiap orang. Mengapa kritis, bertanggung jawab dan harus peka?

Kalau kita kembali ke sub sebelum bagian ini, saya sudah membahas sedikit tentang ekspektasi bangsa terhadap pemudanya, kita juga sudah membahas tentang degradasi moral yang terjadi. Dengan menjadi lebih kritis, niscaya semua generasi muda akan selalu melihat semua hal dengan sudut pandang yang berbeda dari sudut pandang orang pada umumnya. Pemuda yang berpikir kritis akan selalu mempertanyakan segala hal yang terkadang tidak pernah orang umum pikirkan atau justru orang umum itu enggan memikirkannya. Sekaligus mereka akan selalu mencari jawaban dari pertanyaan yang mereka utarakan sampai mereka puas. Itu sederhananya.

Abistu, bertanggung jawab. Setelah mengkritisi sesuatu, kita juga harus menyiapkan solusi yang akan kita tawarkan. Disinilah sifat bertanggung jawab itu diperlukan, dengan bertanggung jawab segala tindak tanduk kita tidak akan sembarangan. Kita akan selalu berfikir dua langkah lebih depan sebelum kita bergerak satu langkah. Ini yang membedakan pola pikir dari pemimpin dengan orang sembarangan.

peka akan saya bahas di paragraf ini. Peka akan akan menuntut kita untuk sensitif terhadap segala hal, apapun itu. Orang yang peka akan merasakan hal-hal yang tidak semua orang bisa rasakan dan tau, sehingga ini juga akan membantu kita bersikap dan mengambil keputusan apakah berdampak negatif bagi orang lain atau tidak. Orang peka juga akan selalu bertindak tanpa komando, karena mereka akan tahu harus berbuat apa lebih dahulu dari orang lain.

Terkait hal tersebut, maka dapat kita simpulkan bahwa apabila setiap generasi muda kita memiliki aspek fundamental (menurut saya) dalam dirinya maka ekspektasi Indonesia terhadap pemudanya benar-benar bisa terjadi. Tidak perlu menunggu situasi pemerintah collapse pemuda kita akan selalu menjadi agent of change dan agent of control, mereka akan lebih kreatif dalam melihat keadaan dan menanggapinya. Tidak lagi anti politik, tidak lagi antipati terhadap pemerintahan, mereka akan selalu punya cara kreatif dalam menanggapi permasalahan yang sedang terjadi di negri ini. Tidak perlu menunggu menjadi ketua atau pemimpin dari suatu organisasi, menjadi orang di bali layar juga akan bermanfaat.

Menjadi salah satu agen dari kontrol pemerintah juga bukan berarti dari sebagai pemuda harus menjadi oposisi permanen dari segala kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Yang harus diperbaiki dari kata oposisi permanen itu adalah, kita harus mengambil peran sebagai oposisi permanen dari segala kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat, jadi kita akan terus mengontrol kebijakan yang dibuat oleh pemerintah kita. Jika kebijakannya baik kita harus dukung, dan apabila tidak baik maka harus kita evaluasi.

Bagaimana kita mengevaluasinya? ya itu kembali ke minat kalian masing-masing, tidak harus turun ke jalan kok, masih banyak cara lain yang mungkin lebih efektif.

***

Selain tentang kepemimpinan, dalam kesempatan itu saya juga lebih banyak menegaskan bahwa kita juga harus ikut berperan dalam rencana pembangunan nasional. Caranya? gampang, cukup dengan kita harus sedikit keluar dari zona nyaman kita, kita harus membuka sedikit pola pikir kita, dan yang terpenting adalah kita harus terus berkarya sesuai dengan minat dan potensi yang kita miliki.

Bayangkan, kalau kita sadar banyak potensi dari bakat yang dimiliki anak muda kita justru dikembangkan oleh negara lain. kenapa? karena negara kita masih belum memberikan apresiasi terhadap pemuda yang berkarya. Ini mengakibatkan tereduksinya minat generasi muda kita dalam menciptakan suatu karya-karya. Kita masih terjebak dalam generasi serba instan, gamau mikir ribet. Jadi ayo kita mulai lah dengan sedikit menyibukkan diri kita dengan karya-karya kreatif dan juga sibukkan dengan kegiatan yang sesuai dengan minat kita apapun itu, seni, olahraga, bisnis, jurnalis, fotografi, atau apapun itu. Siapa tau kegiatan kita itu bisa memberi sumbangsih lebih kan.

***

Melihat kenyataan tentang degradasi moral yang dialami pemuda jaman sekarang, mungkin beberapa orang semakin tidak yakin dengan rencana pembangunan nasional kedepan. Karena kemajuan bangsa tidak akan dilihat dari kekayaan sumber daya alamnya saja, tapi seperti apa negara tersebut mengolah sumber daya manusianya.

Tidak dengan saya. Saya sangat yakin dengan bangsa ini kedepannya. Kemajuan signifikan sudah mulai terlihat, ini ditunjukkan dengan semakin banyaknya generasi muda yang mulai ikut terjun di dunia sosial dengan alasan ingin menjadi salah satu penyebab dari kemajuan bangsa kelak, entah kapan itu akan terjadi namun saya yakin itu pasti.

***

Kesempatan kala itu saya tutup dengan sedikit ajakan kepada semua peserta LKMM untuk menikmati masa kuliahnya dan mulai mencari jati diri. Sibukkan dirimu di organisasi yang sesuai dengan minat kalian, kembangkan semua potensi yang kalian rasa itu passion kalian, jangan sampai kalian menyesal dengan fase ini yang tidak kalian maksimalkan untuk itu.

Bangku perguruan tinggi adalah bukan melulu tentang belajar di kelas, tapi juga tentang bagaimana kalian menggembleng pola pikir kalian untuk terjun di masyarakat.

90 menit waktu yang diberikan sudah habis, sesi saya akhiri dengan pekikan

UNITY TO GLORY…. FISIP!!!!!

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai