4 Maret 2022

Tahun ini merupakan tahun pertama saya merayakan ulang tahun tanpa kehadiran istri di samping saya. Sesuatu yang saya takutkan ternyata menjadi nyata, melewati hari ini tanpa Nisa. Ya! saya sudah menduganya dari jauh hari, bahwa jika hari ini terlewati, akan sangat berat saya rasakan.

Hari kelahiran yang biasanya saya lewati dengan segala kejutan dan doa yang dihaturkan oleh Nisa dengan tulus untuk saya. Tahun ini harus terlewati tanpa adanya itu semua. Semua, kenangan akhirnya harus terputar kembali untuk mengimbangi proses adaptasi kondisi baru ini. Kerinduan mendalam ini saya coba tangani dengan mencoba abai dengan ulang tahun. Semua akses orang untuk mengetahui ulang tahun saya, coba saya tutup. Facebook, Instagram yang saya coba untuk tidak saya publish.

Saya kehilangan sosok itu. Sosok yang selalu mendoakan langsung di depan muka, satu-satunya sosok yang instastoriesnya akan saya repost saat ulang tahun saya ini, sosok yang saya tunggu takarir instagramnya di hari ini. Walaupun banyak orang yang mencoba untuk mengisi kekosongan itu, mulai dari orang tua, keluarga, rekan dan sahabat. Itu semua berbeda rasanya. Saya harus lewati ini dengan tangis dan rasa berat. Semoga semua segera membaik. dan saya bisa segera melaluinya dengan hebat. Cantigi salah satu alasan saya untuk itu

Terima kasih Nisa. Aku sayang banget sama kamu, anakmu juga pasti. Sehat banget dia yang

Cantigi Zahira Prameswari

“Cantigi, nama anakku cantigi kalo perempuan nanti. ngga tau kalo anaknya laki nanti. kamu gimana? udah nyiapin nama belum?” tanya nisa di sela obrolan kami di kantor

“Pramudya kalo anakku cowok, kalo cewek pinginnya Zahra. Manis aja gitu rasanya” jawabku yakin dengan ide itu. Kalo alasan kenapa pramudya, sederhana, Pramoedya Ananta Toer! Saya suka dengan karyanya – tetralogi buru itu pemicunya. Alasan selanjutnya adalah pramoedya mempunyai arti bijaksana. Suatu kelebihan yang menurutku harus ada di setiap manusia.

16 Maret 2019 tanpa sengaja kami akhirnya menikah

iya ini foto MC-nya, Gratis. Agus Jaenudin namanya.

Waktu berlalu, rezeki yang kami tunggu akhirnya datang. Masih teringat tanggal 10 Maret 2021 waktu itu. Dua garis merah menghibur waktu subuh kami. Sampai pada akhirnya jenis kelamin terbaca di mesin canggih bernama USG, nama pun kami finalkan.

Cantigi Zahira Prameswari!

Cantigi – flora indah di puncak tinggi. Eksistensinya kalah dengan edelweis sang bunga abadi. Namun manfaatnya sangat memudahkan para pendaki. Nama Cantigi kami pilih karena kegemaran kami berdua yang suka berjalan mendaki gunung dan mencapai puncak tinggi. Selain itu Cantigi memiliki makna bagi kami.

Jika kita ketik “cantigi” di mesin pencari ‘google’, akan muncul di sana beragam cerita tentang tanaman ini. Satu kutipan yang paling saya suka adalah “Jadilah seperti cantigi, walau diterjang badai sekencang apapun, tetap tegak berdiri”. Kutipan yang diambil dari takarir instagram milik KLHK ini bukan tanpa alasan. Cantigi memang tumbuh baik sekalipun dengan tanah ber-ph rendah dan juga mengandung alumunium yang tinggi. Selain itu, dengan posisi tumbuhnya yang ada di dataran tinggi membuat terpaan badai dan cuaca ekstrim merupakan kondisi sehari-hari yang harus dihadapi oleh tanaman ini.

Cantigi kami terlahir dengan segala tantangannya, ibunya pejuang hebat yang rela melakukan apapun untuk anaknya. Perjuangan itu bahkan dimulai sebelum cantigi ada di rahim ibunya. Ibunya penyintas vaginismus, kondisi langka ini membuat kami harus berjuang lebih ekstra agar cantigi bisa lahir di dunia. Sampai akhirnya di tahun ke dua pernikahan kami cantigi muncul menghibur kami dengan tanda dua garis di test pack yang kami beli.

Hingga akhirnya di bulan ke lima cantigi bermukim di rahim ibunya, Cantigi harus menerima kondisi ibunya yang lumpuh karena diserang banyak penyakit. Sampai dengan kelahirannya, Cantigi harus menerima dirinya menjadi piatu di usia satu bulan satu minggu.

Beragam tantangan Cantigi membuat kami semakin yakin untuk memilih nama ini melekat erat pada anak kami.

Harapan dari nama yang kami beri adalah, utamanya pasti Cantigi bisa kuat dengan segala kondisi yang dia alami nanti. Cantigi bisa beradaptasi dengan kondisi di sekitarnya bahkan dalam situasi terburuk pun. Selain itu harapan kami dari pemberian nama Cantigi agar nantinya cantigi besar bisa membawa manfaat bagi orang sekitarnya. Cantigi ngga harus terlihat hebat untuk bisa bermanfaat.

Zahira – Menyalurkan keinginan saya apabila mempunyai anak perempuan dengan nama Zahra, akhirnya Zahira yang kami pilih. Zahira merupakan kata yang diambil dari bahasa arab dengan arti, cemerlang/bersinar. mengapa tidak jadi memilih zahra alasannya sangat sederhana, zahra artinya bunga dan cantigi tanaman. terlalu banyak flora dalam satu nama. -hahaha

Zahira dipilih dengan harapan buah hati kami berdua bisa cemerlang dengan segala hal yang dimiliki. Sebagai individu yang berdiri sendiri Zahira dapat memilih apa yang ia mau pilih, menjadi apa yang ia mau, semoga tidak banyak intervensi dan tuntutan dari orang-orang di sekitarnya. Zahira bisa bersinar dengan caranya sendiri.

Prameswari – Suku kata ketiga ini mengambil sanskrit jawa. hal ini merupakan permintaan dari sang ibu agar Cantigi tau darimana ia berasal. darah yang mengalir dalam tubuhnya adalah darah jawa, jadi sang Ibu yang besar di Ibu Kota mengharapkan anaknya memiliki kejawaan yang setidaknya sudah tersemat di namanya.

Selain itu Prameswari juga merupakan pelarian dari sang bapak yang berkeinginan untuk membuatkan nama anak laki-lakinya pramoedya. Karena perempuan, jadilah Prameswari dipilih agar tetap ada unsur Pram di namanya. Terkesan memaksa memang untuk alasan ini.

Prameswari berdiri atas harapan kami agar nantinya Cantigi bisa menjadi pribadi selayaknya permaisuri, atau wanita yang agung. Setelah harapan kami di nama pertama dan kedua yaitu Cantigi bisa menjadi kuat, bermanfaat dan menjadi penerang. Sebagai seorang wanita unsur kelembutan ala wanita yang agung semoga tetap menjadi ciri khas dari anak kami. Prameswari seperti menjadi perangkum dari do’a yang kami sematkan di suku kata pertama dan kedua.

Mungkin sementara ini dulu yang bisa saya ceritakan. Semoga bisa cukup untuk jadi bahan bacaan cantigi nanti ketika dia sudah bisa baca tentunya. dan yang terpenting, semoga apa yang kami harapkan ini tidak menjadi beban buat anak kami.

Kehilangan Nisa

Perpisahan adalah pencuri yang handal, karena selain mengambil sosok yang kita cintai ia juga mengambil kebahagiaan dan semangat hidup orang yang ditinggalkan. Memutar kembali kenangan merupakan satu-satunya aktivitas yang bisa dilakukan bersama pasangan, walau tak berasama tentunya. Menahan rindu dan menyalurkannya ke aktivitas lain merupakan kesibukan baruku untuk meralirkan diri dari kerinduan.

2021 Out – 2022 In

Pergantian tahun ini mungkin akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya saya hanya menganggap pergantian tahun tak lebih dari bertambahnya deretan angka-angka dan berkurangnya waktu hidup kita di dunia. Di tahun ini terucap do’a lebih banyak dari biasanya, terburainya air mata lebih deras dibanding tahun sebelumnya. Tapi ada yang tetap sama? Tentu, ucapan selamat dan dukungan dari banyak kolega yang mengalir harapan indah di dalamnya.

Tahun baru identik dengan harapan optimis di detik pergantiannya, namun seringkali berakhir pada kejutan yang tak pernah kita duga. Tahun ini pun iya.

Jika yang lain akan membuat daftar capaiannya, di tahun ini sepertinya saya absen sementara. Ambisi diri tak lebih dari berjuang untuk bisa tetap ada.

Ujian beruntun dari Sang Pencipta membuat saya sadar bahwa kita sangatlah kecil di hadapanNya. Semoga kami dihukum dengan pahala dan berkah yang berlipat jumlahnya, bukan hitungan manusia pastinya. Kami yakin Allah punya rencana. Lebih indah dari yang kita duga tentunya.

“Allahumma ajirna fii musibatina wakhlufna khairan minha”, adalah do’a rutin umi’ untuk anak mantu dan cucunya. Menjadi doa setiap pagi saya. Pasti mustajab! tunggu saja kejutannya

2021, terima kasih atas semuanya. Di masa baktimu saya belajar dan menyadari banyak hal. Saya dikelilingi orang baik. Terima kasih! Terima kasih banyak.

Badanku! Kamu hebat, ayo berjuang untuk lebih kuat. Nafasku! Atur iramamu, di depan sana masih banyak hal yang seru.
Bismillah

Lombok – Perjalanan Untuk Melupakan

“Nis, Tema perjalan sekarang pokoknya menuju kuat 2018 ya nis!”  ucapku pelan penuh keyakinan. 

 Denpasar, (sekitar) 4 Desember (an) 2017.

Entah darimana, yang pasti lagi diatas motor dan di lampu merah Jalan Tukad Yeh Aya ajakan dari Nisa (27) berawal. Yang bersangkutan ber-ide buat ngabisin jalan aspal  Denpasar – Lombok dalam rangka menghabiskan jatah liburan akhir tahun dari kantor kami. Oiya, Nisa juga berkantor di kantor yang sama yaitu WWF – Indonesia SBS. Jatah libur akhir tahun yang menjadi hak kami adalah lima hari kerja (25 – 29 Desember 2017)  kurang lebih, total satu minggu lebih kami bisa off kalo digabung sabtu minggu.

Kembali ke soal ajakan Nisa. Jadi Nisa punya ide untuk liburan ke Lombok itu karena ada temennya juga disana. Temen masa kuliah dia di Universitas Indonesia. Lumayan sih, adanya kenalan di tempat tujuan perjalanan itu sangat menghemat cost-mu (hahaha). Perjalanan ini memang kami konsepkan dengan standar low-budget atau sering dikerenin dengan istilah backpackeran. Rencana perjalanan disusun oleh tim bentukan Nisa yang terdiri dari tiga anggota yang dipimpin sama Nisa sendiri. Anggota tim Perumusan Persiapan Perjalanan Keliling Lombok (P3KL) – istilah yang saya buat sendiri – ini antara lain, Nisa sekaligus ketua rombongan, Nobi, dan Tika. Beragam rencana perjalanan hadir silih berganti, malahan ada wacana buat lanjut ke Sumbawa pula. Hebatnya cewek-cewek ini, batinku.

Rencana perjalanan dari Bali kami susun mulai dari waktu keberangkatan, jumlah orang yang akan terlibat, kendaraan dan jalur yang akan kita lewati. Perjalanan kami rencanakan dimulai tanggal Sabtu 23 Desember 2017 dari Denpasar, dan beat putih andalan Nisa yang akrab dipanggil Sambit oleh si penunggangnya kita pilih untuk mengantarkan kami. Sambit lebih kami percaya daripada si biru andalanku, dengan alasan Sambit punya ruang didepan khas motor matic untuk naruh tas jadi perjalanan lebih nyaman dan menyenangkan. Platform whatsapp dipilih oleh P3KL untuk saling komunikasi antar Bali – Lombok. Saya memilih untuk ngga jadi anggota P3KL, dengan alasan mengurangi jumlah kepala di dalemnya jadi harusnya lebih gampang sih ya mutusin rencananya, tapi ternyata enggak!.

Ini bukan pertama kaliku main ke lombok. tapi ini kayanya pertama kali sih kesini murni untuk main.

Denpasar, 7 sampai 1 hari sebelum keberangkatan

“Sambit harus diservis dulu nih, biar prima berangkatnya”

Itenerary masih belum beres juga. Jumlah orang masih berubah-ubah

Tempat bermalam masih “yha gampanglah dipikir nanti aja, adit gampang kan tidur dimana juga”

“DIT, HAPE AKU RUSAK DONG! (PANIK)”

Dapet pinjeman tab dari mba Nur

servis hape, tapi ngga beres beres (PANIK – 2)

Beli carrier eiger yang 35L

Makan bakso di Bakso Mahkota, trus si Aditnya akhirnya dimasukkin ke dalem grup “kuy ga nih” karena Nisa ngga bisa standby di tab terus. Yasudah ngalah.

 

Denpasar, 23 Desember 2017.

“Nis, berapa hari sih jadinya? ini tentang daleman” dan sepakat bawa tujuh unit + satu yang nempel.

Rencana awal 07.30 harus ngalah sama keadaan kita. Perjalanan Denpasar – PadangBai baru kita mulai sekitar 10.00 WITA dari kantor WWF di Renon. Saran sih kalo mau ke Padang Bai pas lagi cerah, mending mulai lebih pagi biar ngga kepanesan.

 

Padang Bai – Lembar

 

 

 

 

Pre 2018

Lama tidak muncul, dan ternyata kita sudah di sini. Di awal tahun ini, ya tahun 2018.

Tahun lalu pergi belum genap 24 jam. Tapi sudah terasa sangat jauh. pun dengan segala cerita dan kenangannya. tiga ratus enam puluh lima hari – jika merujuk perhitungan matematika – di tahun 2017 sudah berlalu, dan mari bersiap untuk 365 hari berikutnya.

Menulis ini memaksa otak kembali kepada aktivitas memilah kenangan yang sudah-sudah. dan sialnya hanya ada satu kisah yang paling terngiang, AH!.

Tahun ini menjadi tahun pertama berkesempatan ke kepulauan Kei di Maluku. Subhanallah! asik. Perjalanan yang disertai dengan pekerjaan tentunya. Ya! WWF yang membayarkan tiket dan akomodasi saya selama satu minggu bekerja disana. Disini saya bertemu dan bicara banyak tentang bagaimana kamu harus bersikap dengan pekerjaanmu, sesi yang diisi oleh manager di divisi general support berlangsung dengan khidmat disela makan malam maupun disela makan siang. dilengkapi dengan dua hari tambahan liburan – yang tentunya kami bayar dengan biaya sendiri – ke pulau ba’ir dan bermalam di pantai pasir panjang.

Selain Kei, ada beberapa tempat yang jadi tempat perjalanan pertama kali juga, diantaranya: Nusa Penida (ini selama 23 tahun hidup di bali, baru pertama kali kesini inih!), Bromo, Alor, Gili Trawangan dan sekitarnya. Dan juga beberapa tempat ulangan antara lain: Jogjakarta, Lombok, Malang, dan Kupang. Beragam kegiatan, mulai dari pekerjaan, keharusan ikut test CPNS, sampai memang pingin buang uang. Semuanya berkesan, karena disetiap perjalanan selalu ada cerita yang bisa disiapkan untuk diceritakan ke siapapun.

2017 menyisakan duka juga, salah satu teman terbaik harus mendahului kami. Om Christian Holeng, General Support untuk tim WWF LSS harus pergi. Kepergian om Tian semakin menyadarkan saya, sebagai seorang manusia kita ngga bisa menerka sama sekali kisah kita. Pribadi yang terlihat prima, pribadi yang tidak merokok disetiap harinya, ternyata lebih sakit daripada pribadi lain yang acuh tak acuh dengan dirinya sendiri. dan dengan segala cerita dari Om Tian, Tuhan memberikan akhir yang baik mungkin bagi mendiang maupun keluarga. Sebagai manusia memang sudah menjadi kewajiban kita untuk berprasangka baik dengan rencana Yang Maha Segalanya.

Selamat jalan Om Tian! Ko orang baik om, kami ngga akan lupa!

Tahun ini juga diselipkan beberapa kali kegiatan luar ruangan. Ada camp di danau tamblingan, ndaki dan nge-camp di Gunung Agung, Gunung Batukaru, Bukit Pergasingan di Lombok, snorkeling di amed, serangan, juga di bali Barat. Semuanya menghitamkan raga yang memang sudah gelap. Paling berkesan memang puncak sih. ah, semoga 2018 ada salah satu dari tujuh puncak yang bisa kutengok, atau bahkan jangan cuman satu. semoga lah.

di tahun ini juga merupakan saat dimana pendewasaan saya benar benar teruji. satu alasan yang membuat saya cukup masygul. kebersamaan selama delapan tahun harus terhenti di tahun ini. Perpisahan yang tidak terlalu apik, setidaknya itu menurut saya. Tergantikan itu lebih menyesakkan daripada ditinggalkan. Tanpa temu, hanya berujung di chat WhatsApp. untuk urusan perpisahan seharusnya memang sudah saya siapkan dari waktu yang sudah cukup lama, namun entah kenapa saat tiba waktunya justru rasanya beda, ngga sesiap yang seharusnya. Marah, sakit hati, bingung bercampur saat itu.

Tapi makin kesini, semakin berasa kalo Allah itu baik banget. sudah ditunjukin bahwa jawaban dari permintaan hambaNya ini bukan Ya atau Nanti, tapi Jangan yang itu, ini nih yang lebih baik. yah walaupun yang “ini nih” belum dateng sih, tapi saya yakin kalo yang sebelumnya itu memang bukan yang baik untuk saya menurut versiNya. Satu hal yang saya inget pesen dari bapak, “jangan benci sama dia, wong selama ini juga udah banyak baik sama kita”. Siap Pak! dan akhirnya saya masih tetap bisa hidup dengan bahagia sentausa. Sehat selalu ya kamu!

 Di Tahun ini juga lebih luas lagi, alam Bali lagi bergejolak. Gunung Agung beberapa kali erupsi, Bali jadi beberapa hari meningkatkan status rawan bencananya. Pariwisata Bali sempat menurun kadar kebahagiaannya. hotel hotel sepi, tempat hiburan juga sendu, para pengungsi sih yang paling pilu. mereka harus pulang untuk sekedar liat ternak masih sehat ngga, atau bebersih rumah alakadarnya. tapi apa daya mereka juga ngga bisa mengira-ira kapan kira-kira puncak erupsi. mereka hanya bisa berdoa. ya, BERDOA.

Dan lebih meluas lagi, tahun ini kondisi politik di Indonesia dan dunia memburuk. Isu SARA menyeruak, toleransi hilang, ke-indonesiaan menjadi abu-abu. Banyak pihak yang memanas-manasi situasi ini. Entah tujuan akhirnya apa yang jelas, buruk.

Di Dunia, tahun 2017 ditutup dengan statement Trump soal Jerussalem. Pengakuan ini memperkuat pengakuan Israel sebagai negara. Statement resmi presiden Amerika Serikat ini menggemparkan politisi dunia. Bahkan beberapa anggota PBB juga sudah menentukan sikap untuk tidak mendukung sikap dari Amerika Serikat ini.

Ini beberapa hal yang bisa saya ingat selama tahun 2017. Tahun ini ditutup dengan akhir perjalanan yang baik saya rasa. Dan tulisan ini ditulis dengan tujuan menjadi pengingat dikemudian hari bahwa ternyata minim alasan untuk ngga bersyukur dengan semuanya. Satu yang perlu diingat adalah Allah adalah bagaimana kita berprasangka denganNya. Ketika kita yakin, maka itu akan terjadi (apapun itu).

Dan untuk 365 hari kedepan, semua masih misteri. Namun yang jelas harus lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Sudah ada beberapa rencana untuk bagaimana nanti hidup di tahun ini. Semoga rencana itu bisa berjalan dengan baik. dan selalu dipertemukan dengan orang baik pula.

Banyak semoga yang ingin saya ucapkan. Tapi sepertinya lebih baik diurungkan. Biarkan menjadi rahasiaku dan Nya di akhir sholatku, atau sepertiga malamku. semoga.

yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Yang hancur lebur akan terobati. Yang sia-sia akan jadi makna, yang terus berulang suatu saat akan terhenti, yang pernah jatuh akan berdiri lagi, yang patah tumbuh dan yang hilang berganti”.

-Banda Neira – Yang Patah Tumbuh yang Hilang Berganti-

PERGASINGAN 2017

Alhamdulillah, sekali lagi terima kasih untuk semuanya. 

Ujung Tahun 2017

2017 bersiap purnatugas dan 2018 sedang bersiap mengambil amanah untuk mengisi masa jabatan dua belas bulan ke depan.

sebagai manusia biasa, mungkin saya ingin mengambil peran untuk berdoa. ya berdoa supaya 2018 bisa menjadi lebih baik, tidak lebih dari itu. karena Yang Maha segalanya sudah mengatur jalan kita.

Dan untuk kamu, terimakasih ya atas semua. Sehat selalu!

Bergabung Dengan WWF

Halo, Lama tidak mengunjungimu. sibuk bukan alasan yang masuk akal rasanya untuk hal ini, lebih tepatnya mungkin jika saya sebut ini malas.

Lama tidak bertegur sapa, saat ini saya hanya ingin menginformasikan bahwa saya sudah tidak lagi bekerja untuk Yayasan Bali Peduli. Tepat pada tanggal 16 Mei 2016, saya sudah menandatangani kontrak bersama WWF Indonesia site SBS yang berkantor di Bali, dengan posisi General Support.

Masih belum banyak yang bisa dibagi untuk ini. Jadi mungkin kali ini sedikit saja dulu…

oya, selamat tahun baru dan selamat menjalankan ibadah puasa buat kalian yang menjalaninya.

 

Salam,

LKMM TD FISIP UNUD

IMG-20151121-WA0004_(2)[1]
Moderator, Gubernur BEM FISIP, sama Ketua Panitia
 

Pernah bergelut di organisasi mahasiswa ketika masa kuliah membuat BEM FISIP UNUD lewat panitia LKMM-nya menghubungi saya untuk menjadi pembicara di acara pelatihan kepemimpinan dan manajemen dasar untuk mahasiswa. Setidaknya itu yang mereka utarakan kepada saya ketika saya tanya mereka terkait alasan mengapa menunjuk saya untuk sharing pemikiran dengan sub-tema “Membentuk Jiwa Muda Revolusioner pada Era Kontemporer”. Adalah Putri Cahya sebagai ketua panitia acara, orang pertama yang menghubungi saya meminta untuk mau berbagi cerita ke peserta LKMM TD, yang kemudian diikuti panitia humas untuk masalah undangan, Diah LG untuk masalah tor plus materi dan pak gub – mas Arif untuk masalah haha-hihi.

***

IPD – Sabtu, 21 November 2015 / 10.00

Setelah berjuang untuk bangun pagi pasca perhelatan UJF yang pecah ambyar di malam sebelumnya, akhirnya saya bisa dateng tepat waktu ke lokasi LKMM berlangsung. Padang Sambian – Bukit, jimbaran yang biasanya memerlukan waktu tempuh sekitar 3/4 jam ternyata untuk hari ini bisa saya tempuh setengah jam, suatu pencapaian fantastis menurutku. Sesampainya di IPD, saya disambut panitia yang cukup cantik di meja registrasi, ternyata ini Diah LG yang di hari itu sekaligus menjadi moderator ku.

“Keputusan tepat untuk ngga ngajak febi kesini”, batinku.

Setelah pamit ke toilet sebelum saya memilih untuk masuk ke ruangan langsung dan menolak tawarannya untuk ke ruang tunggu pembicara terlebih dahulu. Berdalih pingin liat Clara-presma bem pm sebagai pemateri pertama, saya masuk ke ruangan acara berlangsung. Clara membawa materi dengan apik ngga keliatan kalo dia baru tidur 3 jam sebelumnya karna afgan. Selain itu, ngga nyangka juga kalo dia dulu pernah jadi anak baru di kampus, sekarang udah berubah. hha

Sesi pertama selesai, tiba waktuku ke depan untuk sesi kedua. Berbekal materi di TOR, saya mulai membawa materi dengan sub tema “Membentuk Jiwa Muda Revolusioner pada Era Kontemporer”.

***

Materi saya awali dengan keadaan pemuda sekarang.

Bicara tentang pemuda dan kepemimpinan, memang merupakan dua hal yang tidak terpisahkan akhir-akhir ini. Melihat keadaan bangsa sekarang, memang bukan berlebihan kalo kita para pemuda diharapkan mampu muncul membawa harapan baru, muncul dengan semangat baru, membawa ide baru. Mengutip quote Anies Baswedan – Anak muda itu memang minim pengalaman, maka dari itu mereka tidak menawarkan masa lalu. Mereka menawarkan masa depan. Ungkapan tersebutlah yang memunculkan kembali rasa optimis terhadap keberlangsungan negri sekaligus menjadi barometer untuk menyiapkan motor-motor penggerak bangsa di masa mendatang.

Namun, jauh panggang dari api. Peran pemuda di era ini masih belum terlihat mengambil andil dalam upaya memperbaiki wajah politik dan carut marutnya sistem yang ada di negara kita. Pemuda yang diharapkan mampu menjadi ujung tombak dalam perubahan nasib, justru tidak beripikiran tentang nasib bangsanya. Kondisi pemuda saat ini seperti kehilangan jati diri sebagai cendekiawan muda, mereka terjebak dalam gaya hidup yang pragmatis.

Memilih jalan pintas untuk mencapai segala keperluan mereka, anak muda sekarang terjebak dalam lingkaran kapitalisme global yang merasuki segala sendi kehidupan. Kita sedang dijajah oleh negara asing dengan bentuk yang berbeda. Jika dahulu kita dijajah dengan militer saat ini kita sedang dijajah oleh 3F yaitu Food, Fashion dan Fun yang mana tiga hal tersebut merupakan bagian dari yang sering kita sebut sebagai gaya hidup atau lifestyle. Menganggap apa yang berasal dari luar negeri itu lebih keren apapun itu bentuknya. Sehingga pemuda mulai kehilangan jati diri lokalnya.

Dampak dari penjajahan tersebut adalah anak muda (pelajar dan mahasiswa) sekarang ini, banyak yang tidak lagi memiliki sikap kritis, banyak memilih hidup hura-hura, menjadi mahasiswa “kupu-Kupu” atau Kuliah Pulang-kuliah pulang daripada ikut organisasi yang sibuk dengan diskusi-diskusi.

Selain itu, ada dampak lanjutan dari terjebaknya pemuda dalam gaya hidup yang pragmatis adalah membuat pemuda kita akan lebih memilih untuk tidak tersingkir dari kehidupan yang elitis daripada hidup dengan idealis. Mengambil apa yang bermanfaat dan berguna bagi mereka dan tidak mempedulikan serta mengabaikan segala hal yang tidak memunculkan manfaat baginya walaupun dapat membawa banyak manfaat bagi sekitarnya.

Hal ini juga yang menjadi satu alasan mengapa saat ini sangat sedikit mahasiswa yang mau memberikan sedikit perhatian mereka terhadap carut marutnya keadaan bangsa saat ini. Padahal menurut pengamatan mata bodoh saya, pemuda kita ini memiliki karakter yang cukup unik yaitu karakter mereka yang ‘latah’. Latah dengan segala hal yang sedang hits, latah dengan segala hal yang sering muncul di media. Andai saja ada yang membuat diskusi tentang buku dan debat-debat politik sederhana menjadi tren anak muda, mungkin kehidupan kampus akan lebih berdinamika disana. Khususnya kehidupan kampus di Bali – tempat saya berkuliah. Sayang, tren jalan-jalan ke tempat makan hits sambil gosip sana-sini yang lebih dominan disana (termasuk saya).

***

Membawakan materi tentang kepemimpinan di acara ini saya sedikit ingin menghubungkan fenomena tersebut dengan, bagaimana sebenarnya mahasiswa harus barkontribusi sebagai calon pemimpin masa depan. Ya, pemuda lah yang harus berperan atas keberlangsungan negara kita ini. Kitalah yang masih punya ide-ide kreatif, tenaga kita masih segar, waktu kita masih banyak, dan yang terpenting adalah kita ngga punya pengalaman masa lalu yang suram. (hahaha)

Fungsi kita adalah sebagai suplier utama kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan sosial. Hal utama yang akan saya tekankan disini adalah mahasiswa sebagai agent of change. Sebagai agen perubahan, ini dapat diwujudkan dengan mengembangkan pendidikan politik dan demokratisasi, sumberdaya ekonomi, kepedulian terhadap masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi, olahraga, seni, dan budaya, kepedulian terhadap lingkungan hidup, pendidikan kewirausahaan, serta kepemimpinan dan kepeloporan pemuda.

Ide-ide dan semangat baru yang kita tawarkan akan sangat berguna bagi perubahan, sob.Bayangin aja kalo semua sendi yang saya sebut di paragraf sebelumnya itu bisa kita kelola secara maksimal dan tanpa kepentingan segelintir pihak, bukan tidak mungkin kalo kita bisa semakin berdikari. Kitalah yang punya tanggung jawab untuk menciptakan terobosan-terobosan baru dengan gaya yang lebih fresh dan dapat diterima di semua kalangan.

Namun, Pemuda tidak akan mempunyai semangat yang abadi dalam pembangunan Indonesia melalui perubahan, bila bekerja secara sendiri. Oleh karena itu, diperlukan komunitas yang konsisten dengan perubahan tersebut. Disinilah kemudian lahir peran organisasi dalam mewujudkan tujuan pemuda dalam membangun Indonesia. Organisasi yang dimaksud tidak hanya organisasi yang terlihat saja, tetapi juga organisasi yang terselubung. Dalam organisasi akan lahir diskusi-diskusi dan budaya yang mendukung adanya sebuah perubahan. Perubahan di lingkungan sekitar hingga skala yang paling luas sekalipun sehingga organisasi dapat dianalogikan sebagai “kendaraan” pemuda sebagai agent of change (agen perubahan).

Pemuda Indonesia harus berani melakukan otokritik, sekaligus membenahi diri, meningkatkan kualitas sumberdaya manusianya, dan siap berkiprah di tengah-tengah masyarakat, mewarnai di berbagai lini kehidupan bangsa. Bangsa ini membutuhkan peran dan sumbangsih kalangan pemuda secara nyata, sehingga tentu sesungguhnya tugas dan peran pemuda tidaklah ringan. Pemuda Indonesia diharapkan mampu mengambil setiap peluang yang ada dan memanfaatkannya secara baik, demi kemajuan bangsa.

***

Bicara tentang kepemimpinan, ini bukan melulu tentang bagaimana mencapai pucuk kekuasaan di suatu kelompok, organisasi ataupun komunitas. Karena yang terpenting dari kepemimpinan itu sendiri adalah sifat dan pola pikir kita. Teringat celetukan sederhana dari peserta LKMM kemarin yaitu “setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri”, ya! semua orang harus punya sikap kepemimpinan.

Sikap kepemimpinan memiliki dasar yang sederhana menurut versi saya, yaitu kritis, bertanggung jawab dan peka terhadap keadaan sekitar, bagi saya inilah elemen yang harus dimiliki setiap orang. Mengapa kritis, bertanggung jawab dan harus peka?

Kalau kita kembali ke sub sebelum bagian ini, saya sudah membahas sedikit tentang ekspektasi bangsa terhadap pemudanya, kita juga sudah membahas tentang degradasi moral yang terjadi. Dengan menjadi lebih kritis, niscaya semua generasi muda akan selalu melihat semua hal dengan sudut pandang yang berbeda dari sudut pandang orang pada umumnya. Pemuda yang berpikir kritis akan selalu mempertanyakan segala hal yang terkadang tidak pernah orang umum pikirkan atau justru orang umum itu enggan memikirkannya. Sekaligus mereka akan selalu mencari jawaban dari pertanyaan yang mereka utarakan sampai mereka puas. Itu sederhananya.

Abistu, bertanggung jawab. Setelah mengkritisi sesuatu, kita juga harus menyiapkan solusi yang akan kita tawarkan. Disinilah sifat bertanggung jawab itu diperlukan, dengan bertanggung jawab segala tindak tanduk kita tidak akan sembarangan. Kita akan selalu berfikir dua langkah lebih depan sebelum kita bergerak satu langkah. Ini yang membedakan pola pikir dari pemimpin dengan orang sembarangan.

peka akan saya bahas di paragraf ini. Peka akan akan menuntut kita untuk sensitif terhadap segala hal, apapun itu. Orang yang peka akan merasakan hal-hal yang tidak semua orang bisa rasakan dan tau, sehingga ini juga akan membantu kita bersikap dan mengambil keputusan apakah berdampak negatif bagi orang lain atau tidak. Orang peka juga akan selalu bertindak tanpa komando, karena mereka akan tahu harus berbuat apa lebih dahulu dari orang lain.

Terkait hal tersebut, maka dapat kita simpulkan bahwa apabila setiap generasi muda kita memiliki aspek fundamental (menurut saya) dalam dirinya maka ekspektasi Indonesia terhadap pemudanya benar-benar bisa terjadi. Tidak perlu menunggu situasi pemerintah collapse pemuda kita akan selalu menjadi agent of change dan agent of control, mereka akan lebih kreatif dalam melihat keadaan dan menanggapinya. Tidak lagi anti politik, tidak lagi antipati terhadap pemerintahan, mereka akan selalu punya cara kreatif dalam menanggapi permasalahan yang sedang terjadi di negri ini. Tidak perlu menunggu menjadi ketua atau pemimpin dari suatu organisasi, menjadi orang di bali layar juga akan bermanfaat.

Menjadi salah satu agen dari kontrol pemerintah juga bukan berarti dari sebagai pemuda harus menjadi oposisi permanen dari segala kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Yang harus diperbaiki dari kata oposisi permanen itu adalah, kita harus mengambil peran sebagai oposisi permanen dari segala kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat, jadi kita akan terus mengontrol kebijakan yang dibuat oleh pemerintah kita. Jika kebijakannya baik kita harus dukung, dan apabila tidak baik maka harus kita evaluasi.

Bagaimana kita mengevaluasinya? ya itu kembali ke minat kalian masing-masing, tidak harus turun ke jalan kok, masih banyak cara lain yang mungkin lebih efektif.

***

Selain tentang kepemimpinan, dalam kesempatan itu saya juga lebih banyak menegaskan bahwa kita juga harus ikut berperan dalam rencana pembangunan nasional. Caranya? gampang, cukup dengan kita harus sedikit keluar dari zona nyaman kita, kita harus membuka sedikit pola pikir kita, dan yang terpenting adalah kita harus terus berkarya sesuai dengan minat dan potensi yang kita miliki.

Bayangkan, kalau kita sadar banyak potensi dari bakat yang dimiliki anak muda kita justru dikembangkan oleh negara lain. kenapa? karena negara kita masih belum memberikan apresiasi terhadap pemuda yang berkarya. Ini mengakibatkan tereduksinya minat generasi muda kita dalam menciptakan suatu karya-karya. Kita masih terjebak dalam generasi serba instan, gamau mikir ribet. Jadi ayo kita mulai lah dengan sedikit menyibukkan diri kita dengan karya-karya kreatif dan juga sibukkan dengan kegiatan yang sesuai dengan minat kita apapun itu, seni, olahraga, bisnis, jurnalis, fotografi, atau apapun itu. Siapa tau kegiatan kita itu bisa memberi sumbangsih lebih kan.

***

Melihat kenyataan tentang degradasi moral yang dialami pemuda jaman sekarang, mungkin beberapa orang semakin tidak yakin dengan rencana pembangunan nasional kedepan. Karena kemajuan bangsa tidak akan dilihat dari kekayaan sumber daya alamnya saja, tapi seperti apa negara tersebut mengolah sumber daya manusianya.

Tidak dengan saya. Saya sangat yakin dengan bangsa ini kedepannya. Kemajuan signifikan sudah mulai terlihat, ini ditunjukkan dengan semakin banyaknya generasi muda yang mulai ikut terjun di dunia sosial dengan alasan ingin menjadi salah satu penyebab dari kemajuan bangsa kelak, entah kapan itu akan terjadi namun saya yakin itu pasti.

***

Kesempatan kala itu saya tutup dengan sedikit ajakan kepada semua peserta LKMM untuk menikmati masa kuliahnya dan mulai mencari jati diri. Sibukkan dirimu di organisasi yang sesuai dengan minat kalian, kembangkan semua potensi yang kalian rasa itu passion kalian, jangan sampai kalian menyesal dengan fase ini yang tidak kalian maksimalkan untuk itu.

Bangku perguruan tinggi adalah bukan melulu tentang belajar di kelas, tapi juga tentang bagaimana kalian menggembleng pola pikir kalian untuk terjun di masyarakat.

90 menit waktu yang diberikan sudah habis, sesi saya akhiri dengan pekikan

UNITY TO GLORY…. FISIP!!!!!

Belajar dari Seorang Sarjana Pendidikan: Aku Bakal Ngelindungin Bahasa dari Kepunahan.

Foto Kak Nizar yang saya ambil dari facebooknya.
Foto Kak Nizar yang saya unduh dari facebooknya.

Kalo qe tau ya dit, banyak diksi yang kita pake tu bahasa asing daripada bahasa indonesia. Contohnya kita lebih familiar dengan kata Apartment daripada wisma, lebih seneng pake kata download daripada unduh, lebih milih upload daripada unggah. Padahal bahasa kita kaya banget kalo kita mau sadar dan make! – Nizar

Ngga semua orang yang mungkin sadar tentang terancamnya kedaulatan bahasa kita ini, saya salah satunya. Menjadi orang Indonesia sejak lahir membuat kita terlalu nyaman dengan keadaan bahasa kita. Sehingga kita menjadi kurang peka terhadap keberadaannya. Banyak istilah-istilah bahasa Indonesia yang posisinya mulai tergantikan oleh istilah-istilah bule. Bahkan kita sering dibuat bingung dan ketawa sendiri kalo ditanya bahasa indonesia dari istilah asing yang kita pake justru kita sampe lupa atau bahkan ngga tau, contohnya: mungkin ada diantara kita yang kurang ngeh istilah bahasa indonesia dari email itu apa(?).

Seminggu lalu, Kak Nizar (23 tahun) ini tumben ke rumah saya. Tujuannya, buat berbagi dan ngisi formulir bareng tentang program dikti ‘Menyapa Negriku. Ya, kita berdua punya rencana buat ikutan itu, jadi kita sharing aja tentang peluang daerah yang kita pilih sama rencana ke depannya. Saya lupa alasan kenapa si sarjana pendidikan yang lagi menempuh studi S2-nya ini mau ikutan program turun ke daerah pelosok, padahal dia ini salah satu orang ‘super kota’ yang pernah saya kenal. Dalam proses pemilihan daerah penempatan, kami dibuat bingung tentang makanan dan tempat ibadah kalo kira-kira nanti kita keterima di daerah pelosok (padahal belum tentu kepilih juga’. hhaha). Akhirnya saya juga lupa dia milih dimana dan saya memilih untuk ditempatin di Aceh, Ende, dan Raja Ampat, kalian taulah alasannya apalagi kalau bukan instagramable nya.

Prosesi pengisian form dan ngobrol tentang program ini terpaksa diputus oleh padamnya listrik di rumah saya. Engga mau rugi waktu karna jarang ketemu, babibu ini kami lanjut dengan beberapa obrolan tanpa nilai dan makna. Sampai akhirnya kita ketemu di satu topik yang menarik. Kalo saya tarik judul ilmiahnya, kurang lebih jadi seperti ini: Ancaman Keutuhan Bahasa Indonesia di Era Global. Studi Kasus: Berkurangnya Minat Pemuda Indonesia Menggunakan Bahasa Lokal.

Bahasa pada dasarnya tidak dapat terpisahkan dari dua konteks yaitu konteks sosial dan budaya. Dalam konteks sosial, bahasa merupakan suatu bentuk perilaku sosial yang digunakan sebagai sarana komunikasi yang menunjang interaksi antar individu. Dalam konteks budaya, bahasa merupakan sarana untuk mengekspresikan nilai budaya bagi masyarakat yang menuturkannya.

Bagi Nizar, penting bagi masyarakat indonesia terutama anak mudanya untuk mulai menumbuhkan kepedulian mereka terhadap bahasa indonesia. Perlunya mempertahankan kedaulatan bahasa Indonesia ditujukan agar bangsa Indonesia tidak terbawa arus pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan bahasa dan budaya bangsa Indonesia. Sebagai sarana komunikasi, bahasa merupakan salah satu identitas bangsa yang paling mudah untuk digoyah oleh perkembangan global. Menurunnya kepedulian anak muda terhadap bahasanya akan berpengaruh terhadap masa depan budaya kita. Hal ini dikarenakan pola pikir anak muda akan lebih merasa keren apabila memilih budaya asing yang dianggap lebih gaul.

Efek dari fenomena tersebut beragam. Salah satu dampaknya adalah seperti yang sudah disebutkan diatas, yaitu dapat menjadikan anak muda tidak percaya diri lagi untuk menggunakan budaya aslinya. Dengan menggunakan bahasa asing yang lebih gaul, anak muda akan sedikit demi sedikit menganggap penggunaan bahasa asli mereka menjadi kurang gaul atau takut dicap ‘kampungan’ apabila kita tidak menggunakan apalagi tidak tau istilah asing. Sehingga, saat ini kita bisa melihat beberapa bahasa asli kita mulai kehilangan tempat dalam setiap penggunaannya baik lisan maupun tulisan.

Apabila hal ini terus menerus terjadi, maka bukan tidak mungkin jika generasi muda bangsa kita akan mulai meninggalkan segala hal yang diproduksi dalam negeri mereka. Kebiasaan mereka untuk selalu menerima tanpa memfiltrasi atau menyaring terlebih dahulu budaya asing yang datang akan membuat psikologi mereka terbiasa menerima. Terlebih jika mereka selalu menganggap apa yang berasal dari luar negeri akan lebih keren, kreatifitas anak negeri akan sedikit demi sedikit tereduksi karena tidak ada lagi yang memberi apresiasi. Kita akan terus menjadi anak muda yang berada dalam posisi nyaman dengan import produk asing apapun bentuknya (bahasa, budaya, barang, gaya hidup, dan lain sebagainya). Sehingga kita tidak lagi terdorong untuk berkreasi.

Kembali ke persoalan bahasa, Nizar sebagai sarjana pendidikan mempunyai tekad untuk kembali mengeksistensikan bahasa indonesia untuk digunakan sebagai bahasa sehari-hari. Bahkan anak muda ini bercita-cita untuk menginternasionalkan beberapa kata maupun suku kata dari bahasa indonesia. Bagi dia, kedaulatan bahasa merupakan salah satu aspek penting paling fundamental apabila kita mau mempertahankan keberadaan dan eksistensi dari budaya dalam negeri kita.

Semoga tujuan muliamu bisa segera terwujud kak! Saya mendukung.

*nb: email bahasa kitanya adalah surel atau surat elektronik. Saya baru tau ini, hahaha.


Pemuda berdarahPakistan ini adalah alumnus dari S1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Bahasa Inggris) di Universitas Pendidikan Ganesha Denpasar dan saat ini sedang berjuang untuk mendapatkan gelar Magister Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Ganesha.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai