Pre 2018

Lama tidak muncul, dan ternyata kita sudah di sini. Di awal tahun ini, ya tahun 2018.

Tahun lalu pergi belum genap 24 jam. Tapi sudah terasa sangat jauh. pun dengan segala cerita dan kenangannya. tiga ratus enam puluh lima hari – jika merujuk perhitungan matematika – di tahun 2017 sudah berlalu, dan mari bersiap untuk 365 hari berikutnya.

Menulis ini memaksa otak kembali kepada aktivitas memilah kenangan yang sudah-sudah. dan sialnya hanya ada satu kisah yang paling terngiang, AH!.

Tahun ini menjadi tahun pertama berkesempatan ke kepulauan Kei di Maluku. Subhanallah! asik. Perjalanan yang disertai dengan pekerjaan tentunya. Ya! WWF yang membayarkan tiket dan akomodasi saya selama satu minggu bekerja disana. Disini saya bertemu dan bicara banyak tentang bagaimana kamu harus bersikap dengan pekerjaanmu, sesi yang diisi oleh manager di divisi general support berlangsung dengan khidmat disela makan malam maupun disela makan siang. dilengkapi dengan dua hari tambahan liburan – yang tentunya kami bayar dengan biaya sendiri – ke pulau ba’ir dan bermalam di pantai pasir panjang.

Selain Kei, ada beberapa tempat yang jadi tempat perjalanan pertama kali juga, diantaranya: Nusa Penida (ini selama 23 tahun hidup di bali, baru pertama kali kesini inih!), Bromo, Alor, Gili Trawangan dan sekitarnya. Dan juga beberapa tempat ulangan antara lain: Jogjakarta, Lombok, Malang, dan Kupang. Beragam kegiatan, mulai dari pekerjaan, keharusan ikut test CPNS, sampai memang pingin buang uang. Semuanya berkesan, karena disetiap perjalanan selalu ada cerita yang bisa disiapkan untuk diceritakan ke siapapun.

2017 menyisakan duka juga, salah satu teman terbaik harus mendahului kami. Om Christian Holeng, General Support untuk tim WWF LSS harus pergi. Kepergian om Tian semakin menyadarkan saya, sebagai seorang manusia kita ngga bisa menerka sama sekali kisah kita. Pribadi yang terlihat prima, pribadi yang tidak merokok disetiap harinya, ternyata lebih sakit daripada pribadi lain yang acuh tak acuh dengan dirinya sendiri. dan dengan segala cerita dari Om Tian, Tuhan memberikan akhir yang baik mungkin bagi mendiang maupun keluarga. Sebagai manusia memang sudah menjadi kewajiban kita untuk berprasangka baik dengan rencana Yang Maha Segalanya.

Selamat jalan Om Tian! Ko orang baik om, kami ngga akan lupa!

Tahun ini juga diselipkan beberapa kali kegiatan luar ruangan. Ada camp di danau tamblingan, ndaki dan nge-camp di Gunung Agung, Gunung Batukaru, Bukit Pergasingan di Lombok, snorkeling di amed, serangan, juga di bali Barat. Semuanya menghitamkan raga yang memang sudah gelap. Paling berkesan memang puncak sih. ah, semoga 2018 ada salah satu dari tujuh puncak yang bisa kutengok, atau bahkan jangan cuman satu. semoga lah.

di tahun ini juga merupakan saat dimana pendewasaan saya benar benar teruji. satu alasan yang membuat saya cukup masygul. kebersamaan selama delapan tahun harus terhenti di tahun ini. Perpisahan yang tidak terlalu apik, setidaknya itu menurut saya. Tergantikan itu lebih menyesakkan daripada ditinggalkan. Tanpa temu, hanya berujung di chat WhatsApp. untuk urusan perpisahan seharusnya memang sudah saya siapkan dari waktu yang sudah cukup lama, namun entah kenapa saat tiba waktunya justru rasanya beda, ngga sesiap yang seharusnya. Marah, sakit hati, bingung bercampur saat itu.

Tapi makin kesini, semakin berasa kalo Allah itu baik banget. sudah ditunjukin bahwa jawaban dari permintaan hambaNya ini bukan Ya atau Nanti, tapi Jangan yang itu, ini nih yang lebih baik. yah walaupun yang “ini nih” belum dateng sih, tapi saya yakin kalo yang sebelumnya itu memang bukan yang baik untuk saya menurut versiNya. Satu hal yang saya inget pesen dari bapak, “jangan benci sama dia, wong selama ini juga udah banyak baik sama kita”. Siap Pak! dan akhirnya saya masih tetap bisa hidup dengan bahagia sentausa. Sehat selalu ya kamu!

 Di Tahun ini juga lebih luas lagi, alam Bali lagi bergejolak. Gunung Agung beberapa kali erupsi, Bali jadi beberapa hari meningkatkan status rawan bencananya. Pariwisata Bali sempat menurun kadar kebahagiaannya. hotel hotel sepi, tempat hiburan juga sendu, para pengungsi sih yang paling pilu. mereka harus pulang untuk sekedar liat ternak masih sehat ngga, atau bebersih rumah alakadarnya. tapi apa daya mereka juga ngga bisa mengira-ira kapan kira-kira puncak erupsi. mereka hanya bisa berdoa. ya, BERDOA.

Dan lebih meluas lagi, tahun ini kondisi politik di Indonesia dan dunia memburuk. Isu SARA menyeruak, toleransi hilang, ke-indonesiaan menjadi abu-abu. Banyak pihak yang memanas-manasi situasi ini. Entah tujuan akhirnya apa yang jelas, buruk.

Di Dunia, tahun 2017 ditutup dengan statement Trump soal Jerussalem. Pengakuan ini memperkuat pengakuan Israel sebagai negara. Statement resmi presiden Amerika Serikat ini menggemparkan politisi dunia. Bahkan beberapa anggota PBB juga sudah menentukan sikap untuk tidak mendukung sikap dari Amerika Serikat ini.

Ini beberapa hal yang bisa saya ingat selama tahun 2017. Tahun ini ditutup dengan akhir perjalanan yang baik saya rasa. Dan tulisan ini ditulis dengan tujuan menjadi pengingat dikemudian hari bahwa ternyata minim alasan untuk ngga bersyukur dengan semuanya. Satu yang perlu diingat adalah Allah adalah bagaimana kita berprasangka denganNya. Ketika kita yakin, maka itu akan terjadi (apapun itu).

Dan untuk 365 hari kedepan, semua masih misteri. Namun yang jelas harus lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Sudah ada beberapa rencana untuk bagaimana nanti hidup di tahun ini. Semoga rencana itu bisa berjalan dengan baik. dan selalu dipertemukan dengan orang baik pula.

Banyak semoga yang ingin saya ucapkan. Tapi sepertinya lebih baik diurungkan. Biarkan menjadi rahasiaku dan Nya di akhir sholatku, atau sepertiga malamku. semoga.

yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Yang hancur lebur akan terobati. Yang sia-sia akan jadi makna, yang terus berulang suatu saat akan terhenti, yang pernah jatuh akan berdiri lagi, yang patah tumbuh dan yang hilang berganti”.

-Banda Neira – Yang Patah Tumbuh yang Hilang Berganti-

PERGASINGAN 2017

Alhamdulillah, sekali lagi terima kasih untuk semuanya. 

Belajar dari Seorang Sarjana Pendidikan: Aku Bakal Ngelindungin Bahasa dari Kepunahan.

Foto Kak Nizar yang saya ambil dari facebooknya.
Foto Kak Nizar yang saya unduh dari facebooknya.

Kalo qe tau ya dit, banyak diksi yang kita pake tu bahasa asing daripada bahasa indonesia. Contohnya kita lebih familiar dengan kata Apartment daripada wisma, lebih seneng pake kata download daripada unduh, lebih milih upload daripada unggah. Padahal bahasa kita kaya banget kalo kita mau sadar dan make! – Nizar

Ngga semua orang yang mungkin sadar tentang terancamnya kedaulatan bahasa kita ini, saya salah satunya. Menjadi orang Indonesia sejak lahir membuat kita terlalu nyaman dengan keadaan bahasa kita. Sehingga kita menjadi kurang peka terhadap keberadaannya. Banyak istilah-istilah bahasa Indonesia yang posisinya mulai tergantikan oleh istilah-istilah bule. Bahkan kita sering dibuat bingung dan ketawa sendiri kalo ditanya bahasa indonesia dari istilah asing yang kita pake justru kita sampe lupa atau bahkan ngga tau, contohnya: mungkin ada diantara kita yang kurang ngeh istilah bahasa indonesia dari email itu apa(?).

Seminggu lalu, Kak Nizar (23 tahun) ini tumben ke rumah saya. Tujuannya, buat berbagi dan ngisi formulir bareng tentang program dikti ‘Menyapa Negriku. Ya, kita berdua punya rencana buat ikutan itu, jadi kita sharing aja tentang peluang daerah yang kita pilih sama rencana ke depannya. Saya lupa alasan kenapa si sarjana pendidikan yang lagi menempuh studi S2-nya ini mau ikutan program turun ke daerah pelosok, padahal dia ini salah satu orang ‘super kota’ yang pernah saya kenal. Dalam proses pemilihan daerah penempatan, kami dibuat bingung tentang makanan dan tempat ibadah kalo kira-kira nanti kita keterima di daerah pelosok (padahal belum tentu kepilih juga’. hhaha). Akhirnya saya juga lupa dia milih dimana dan saya memilih untuk ditempatin di Aceh, Ende, dan Raja Ampat, kalian taulah alasannya apalagi kalau bukan instagramable nya.

Prosesi pengisian form dan ngobrol tentang program ini terpaksa diputus oleh padamnya listrik di rumah saya. Engga mau rugi waktu karna jarang ketemu, babibu ini kami lanjut dengan beberapa obrolan tanpa nilai dan makna. Sampai akhirnya kita ketemu di satu topik yang menarik. Kalo saya tarik judul ilmiahnya, kurang lebih jadi seperti ini: Ancaman Keutuhan Bahasa Indonesia di Era Global. Studi Kasus: Berkurangnya Minat Pemuda Indonesia Menggunakan Bahasa Lokal.

Bahasa pada dasarnya tidak dapat terpisahkan dari dua konteks yaitu konteks sosial dan budaya. Dalam konteks sosial, bahasa merupakan suatu bentuk perilaku sosial yang digunakan sebagai sarana komunikasi yang menunjang interaksi antar individu. Dalam konteks budaya, bahasa merupakan sarana untuk mengekspresikan nilai budaya bagi masyarakat yang menuturkannya.

Bagi Nizar, penting bagi masyarakat indonesia terutama anak mudanya untuk mulai menumbuhkan kepedulian mereka terhadap bahasa indonesia. Perlunya mempertahankan kedaulatan bahasa Indonesia ditujukan agar bangsa Indonesia tidak terbawa arus pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan bahasa dan budaya bangsa Indonesia. Sebagai sarana komunikasi, bahasa merupakan salah satu identitas bangsa yang paling mudah untuk digoyah oleh perkembangan global. Menurunnya kepedulian anak muda terhadap bahasanya akan berpengaruh terhadap masa depan budaya kita. Hal ini dikarenakan pola pikir anak muda akan lebih merasa keren apabila memilih budaya asing yang dianggap lebih gaul.

Efek dari fenomena tersebut beragam. Salah satu dampaknya adalah seperti yang sudah disebutkan diatas, yaitu dapat menjadikan anak muda tidak percaya diri lagi untuk menggunakan budaya aslinya. Dengan menggunakan bahasa asing yang lebih gaul, anak muda akan sedikit demi sedikit menganggap penggunaan bahasa asli mereka menjadi kurang gaul atau takut dicap ‘kampungan’ apabila kita tidak menggunakan apalagi tidak tau istilah asing. Sehingga, saat ini kita bisa melihat beberapa bahasa asli kita mulai kehilangan tempat dalam setiap penggunaannya baik lisan maupun tulisan.

Apabila hal ini terus menerus terjadi, maka bukan tidak mungkin jika generasi muda bangsa kita akan mulai meninggalkan segala hal yang diproduksi dalam negeri mereka. Kebiasaan mereka untuk selalu menerima tanpa memfiltrasi atau menyaring terlebih dahulu budaya asing yang datang akan membuat psikologi mereka terbiasa menerima. Terlebih jika mereka selalu menganggap apa yang berasal dari luar negeri akan lebih keren, kreatifitas anak negeri akan sedikit demi sedikit tereduksi karena tidak ada lagi yang memberi apresiasi. Kita akan terus menjadi anak muda yang berada dalam posisi nyaman dengan import produk asing apapun bentuknya (bahasa, budaya, barang, gaya hidup, dan lain sebagainya). Sehingga kita tidak lagi terdorong untuk berkreasi.

Kembali ke persoalan bahasa, Nizar sebagai sarjana pendidikan mempunyai tekad untuk kembali mengeksistensikan bahasa indonesia untuk digunakan sebagai bahasa sehari-hari. Bahkan anak muda ini bercita-cita untuk menginternasionalkan beberapa kata maupun suku kata dari bahasa indonesia. Bagi dia, kedaulatan bahasa merupakan salah satu aspek penting paling fundamental apabila kita mau mempertahankan keberadaan dan eksistensi dari budaya dalam negeri kita.

Semoga tujuan muliamu bisa segera terwujud kak! Saya mendukung.

*nb: email bahasa kitanya adalah surel atau surat elektronik. Saya baru tau ini, hahaha.


Pemuda berdarahPakistan ini adalah alumnus dari S1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Bahasa Inggris) di Universitas Pendidikan Ganesha Denpasar dan saat ini sedang berjuang untuk mendapatkan gelar Magister Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Ganesha.

…………………… VS ……………………

(kantor, 24 Agustus 2015 15:15 WITA)

Sekali lagi sosial media mengusik ketenangan yang mulia aditlazu. Bukan tentang aplikasi yang dikeluarkan, bukan tentang tampilan, bukan tentang mark zuckerberg (tapi mungkin juga sih karna dia) juga. Keresahan yang muncul adalah apa yang ditampilkan oleh para penggunanya di Indonesia (saya tidak tau bagaimana mereka diluar sana mempergunakan sosial media itu).

Okke kita mulai..

Menjadi bebas dan tidak terbatas merupakan konsekuensi dari berkembangnya zaman. Hal tersebut didukung oleh banyak hal, terkhusus di Indonesia. Pasca bergolaknya aksi massa besar-besaran yang menuntut rezim orde baru untuk menyudahi dominasi mereka, reformasi mulai masuk ini ditandai dengan merdekanya hak untuk berpendapat.

Baik saya rasa cukup untuk memperkenalkan awal mula demokrasi di Indonesia. Akan lebih baik untuk langsung ke bagian yang cukup mengganggu saya sebagai salah satu warga negara di Indonesia.

Keresahan saya mulai muncul setiap saya membuka sosial media untuk kemudian menikmati apa yang disediakan didalamnya, apapun sosial media tersebut yang jelas sosial media itu menyediakan fasilitas home, timeline, feed atau apapun jenisnya. Fasilitas itu menyediakan fitur share, retweet, regram, repath, dan teman-temannya yang isinya berbagai macam hal. Banyak dari pengguna sosmed itu menggunakannya secara bijak hingga memiliki dampak yang positif bagi mereka, misalnya beberapa minggu lalu ada seorang teman yang kehilangan dua (atau tiga aku lupa) anjingya dan bisa ditemukan karena ia memposting informasi kehilangan dan banyak yang ikut ‘ngeshare’ juga. Beberapa waktu lalu juga kita dihebohkan dengan postingan anak hilang di sosial media dan berujung pada matinya anak tersebut secara tragis, ya itu kisah tentang angeline. Namun, tidak semua fitur tersebut dimanfaatkan secara bijak oleh penggunanya.

Salah satunya dan yang paling membuat saya kecewa adalah mereka (pengguna sosial media) yang menggunakan fitur tersebut untuk mensharing hal hal yang bersifat sensitif contohnya ngeshare isu SARA.

Sebelum jauh, mari saya ajak rehat sejenak untuk menyatukan maksud dulu.

Dumay yang akan saya bahas disini adalah facebook. Saya merupakan salah satu orang yang kembali menikmati sosial media tersebut. Apabila ditanya alasannya, jawabannya adalah facebook enak dibuka lewat leptop jadi bisa tetep keliatan kerja ngadep leptop walopun di layar bukan kerjaan yang dibuka (hahahaha). Selain itu facebook juga merupakan salah satu sosmed yang masih dipakai teman-teman saya untuk lebih banyak membagi banyak hal informatif. Tidak seperti di facebook, teman-teman saya di sosial media lain yang lebih banyak menggunakan akun mereka untuk (maaf, bisa dibilang) sekedar pamer walaupun sebagian kecil tidak, ingat! Hanya “Sebagian kecil”.

Sip,,

Bagi temen-temen yang masih menikmati facebook pasti akan merasakan apa yang saya rasakan saat ini, yaitu home akan berisi postingan tentang agama, politik, atau hal lain yang sifatnya sensitif dan empuk untuk menjadi perdebatan. Seperti sudah saya tulis di tulisan sebelum-sebelumnya, entah kenapa masyarakat kita ni gampang banget masuk ke arus perdebatan. Walaupun berdebat itu ada baiknya untuk saling bertukar pendapat, tapi yang ada di halaman (beranda) facebook saya lebih banyak perdebatan yang tidak berkualitas sifatnya. Walaupun kualitas itu sifatnya relatif, dan relatif yang saya gunakan adalah relatif yang menurut saya.

Pendebat yang sering saya temukan di halaman facebook saya biasanya didominasi oleh banyak kalangan, ada agamawan, politikus, anak awam, anak awam yang keagamaan, anak awam yang kepolitik-politikan dan banyak macamnya. Tidak sedikit dari mereka yang membagikan atau membuat status yang sumbernya tidak bisa dipertanggung jawabkan dan justru menimbulkan kontroversi dan persinggungan terhadap kaum lainnya. Hal ini (membuat status dan membagi link) juga biasanya ditujukan untuk menyindir golongan lain atau ingin menunjukkan bahwa ‘nehkan keyakinanku bener’.

Perdebatan yang paling saya sorot disini adalah tentang agama dan politik. Alasannya adalah kedua perdebatan ini saling berkaitan dan inilah perdebatan yang tidak akan pernah ada selesainya (hehehehe). Perdebatan politik yang biasanya saya temui adalah perdebatan antara anak loyalis indonesia hebat dan loyalis merah putih. Kalo kalian pikir persaingan ini sudah selesai pasca datengnya pak prabowo ke pelantikannya pak jokowi, ternyata pikiran kalian sama seperti saya. Hhahaha. Ini belum beres bor.

Para loyalis indonesia hebat akan mati-matian menjadi ujung lidah dari rencana rencana ‘kabinet kerja’ presiden kita. Sedangkan loyalis merah putih akan selalu mengomentari negatif segala bentuk rencana pemerintah sampe paket internet mereka habis dan diisi lagi. Di awal keadaan ini, saya sempat berpikir positif bahwa keadaan ini akan menjadi keren karena akan selalu ada keseimbangan antara koalisi dan oposisi, namun yang terjadi tidak secantik harapan saya. Karena banyak pendebat yang tidak memberikan tanggapan dengan dewasa dan malah justru menyampaikan pendapatnya tidak dengan elegan. Elegan yang saya maksud adalah cara penyampaian gagasan yang diberikan oleh orang itu seharusnya dengan bahasa yang tidak menyinggung dan memberikan seharusnya pendapat tersebut juga mengandung jalan keluar.

Situasi seperti ini dikhawatirkan akan membuat publik yang masih lugu atau tidak mengerti tentang politik akan semakin tidak tertarik dengan politik. Apabila hal tersebut terjadi maka bersiaplah seluruh masyarakat tidak akan lagi percaya dengan politik dan tidak akan ada lagi generasi emas yang diizinkan masuk ke dunia politik oleh orang tuanya.

Ah, lebay kamu dit, masak sampe segitunya sih?!

Mungkin memang ini keliatan luar biasa lebay, tapi entah kenapa saya yakin sekali ini bisa terjadi. Alasannya, gausah jauh jauh mbayangin yang belum terjadi di masa depan deh, kita bercermin aja dengan apa yang terjadi hari ini. Guru-guru di sekolah khususnya guru IPS akan selalu menceritakan kehebatan tokoh-tokoh nasional yang terlibat dalam pembentukan awal negara kita, kemudian ketika anak-anak murid itu pulang kerumah apakah ada diantara orang tua mereka yang mencita-citakan anaknya untuk menjadi seorang politikus? Kebanyakan dari orang tua tersebut pasti menyiapkan anaknya untuk menjadi seorang pilot, dokter, polisi, guru, dan cita cita lain selain politikus, kalaupun itu ada angkanya pasti sangat kecil.

Lah terus kenapa kalo itu terjadi? Kan semua profesi itu juga bagus dan mulia asalkan dijalankan sesuai sebagaimana mestinya.

Iya, memang semua profesi itu baik dan bagus apalagi dijalankan sesuai dengan kaidah, tapi kalo semua orang benci dan gamau masuk ke lingkungan politik, gimana sistem negara kita jalan?. Banyak yang udah beranggapan bahwa kalo semua orang baik gamau lagi masuk politik ya politik akan selalu dipegan oleh orang ga baik yang orientasinya di politik cuman uang dan keuntungan aja tanpa berpikir bagaimana seharusnya mereka menjabat.

Oke, aku sepakat deh jadinya. Nah sekarang hubungannya sama masalah yang kamu tulis tadi apa?

Ya sekarang pembentuk opini publik adalah media massa, apapun media massa itu bentuknya. Terlebih sosial media, dan kalo terus orang-orang itu berdebat tentang siapa yang lebih pantas, program siapa yang lebih pantas, kebijakan yang kaya apa yang lebih pantas, nah bagaimana publik bisa percaya sama politik. Yang harusnya dibangun adalah kepercayaan publik terhadap pemerintahan dalam tataran apapun (koalisi maupun oposisi, eksekutif maupun legislatif). Sehingga akan mudah kita melibatkan masyarakat untuk membantu membangun dan menata negara ini kedepannya karena masyarakat kita sudah saling percaya dan tidak saling curiga dan saling menyalahkan melainkan saling mengisi kekurangan masing-masing. Dan negara kita akan dikenal bukan lagi sebagai negara yang hebat beromong kosong tapi juga hebat dalam menjalankan negaranya. Wuhuuuuuuuwwww!!!!

Okkelah yaaaa, hhaha. Aku anggep beres aja deh yang satu ini, trus gimana dengan pendebat agama yang kamu ceritain diawal tadi? Apa salahnya bertukar pendapat?

Ya, seperti yang saya singgung di awal bahwa saya sangat tertarik dengan dua perihal ini (poitik dan agama). Untuk isu ini mungkin lebih seksi daripada politik karena yang kita hadapi bukan tentang common sense lagi, tapi ayat yang ada di setiap kitab di masing-masing kepercayaan. Iya engga sih sebenernya? Ya anggap aja iya deh ya.

Agama memang menjadi isu yang makin hari makin sering dibahas dimanapun itu. Perdebatan antar agama memiliki tujuan yang entah apa sih itu (menurut saya). Saya bilang gitu karena memang, agama tidak akan pernah bisa diperdebatkan, karna ya agama untuk dijalankan bagi setiap pemeluknya.

Perdebatan paling banyak timbul antara agama timur tengah dan agama barat (maaf kalo saya salah sebut). Ya, (mungkin) banyak yang mengatakan dua kutub itu saling berebut hegemoni. Indonesia menjadi salah satu lahan yang tidak luput dari target mereka untuk menyebarkan pengaruh. Pengaruh yang disebarkan melalui cara yang sangat beragam, mulai dari fashion, food, hingga lifestyle.

Contoh nyata adalah bagaimana perdebatan tentang cara berpakaian di lingkungan kita. Antara pihak yang saya sebut dengan baju rapat tertutup dan pihak dengan baju ketat terbuka.

Bagi mereka yang masuk ke dalam team ketat terbuka akan mengatakan bahwa jangan sampai Indonesia terlalu terobsesi dengan negara timur tengah, biarkan Indonesia ini barjaya dengan ciri khas budayanya. Team ini selalu berpendapat bahwa Indonesia harus menjaga teguh budaya aslinya jangan terpengaruh oleh budaya negara lain. biarkan masyarakat Indonesia hidup dengan gaya hidupnya disini, tidak seperti di timur tengah sana, yang terlalu mencampuri urusan personal orang hingga ke tatacaranya berpakaian. Sungguh tidak sesuai dengan negara kita yang menganut demokrasi yang membebaskan rakyatnya untuk berekspresi.

Team rapat tertutup juga akan berstatemen, bahwa mereka tidak hidup dengan cara atau budaya negara lain tetapi mereka hidup dengan aturan dari kitab agama yang mereka percayai. Kalian telah salah kaprah mengenai gaya hidup kami. Kami tidak mengkiblatkan negara Arab atau negara timur tengah lain sebagai aturan hidup kami tapi kami menggunakan kitab kami. Sedangkan bagaimana dengan kalian? Kalian menggunakan jeans yang jelas bukan budaya kita, itu budaya negara barat yang dikomandoi oleh Amerika. Hidup kalian bebas seperti tidak ada aturan tentang hak individu.

Dalam kehidupan nyata, kedua perdebatan ini lebih seru dan panjang daripada dua paragraf seperti ilustrasi tersebut. Sedangkan menurut saya dua kutub ini sama benar dengan argumen mereka masing-masing sehingga tidak akan pernah menemukan titik akhir. Sekiranya akan lebih baik apabila kedua belah pihak akan lebih bijak dalam menanggapi setiap issu, saya yakin tidak akan ada lagi perpecahan. Walaupun perbedaan pendapat akan tetap ada tetapi itu akan mengarah ke penyatuan persepsi yang lebih baik.

Lagi-lagi saya mengingatkan bahwa tulisan ini bebas nilai yang saya tulis hanya berdasarkan apa yang saya lihat, jadi jangan pernah menggunakannya sebagai sumber tulisan ilmiah.

Salam.

Agama dan Publik

“Lakum Dinukum Waliyadin – Bagimu Agamamu dan Bagiku Agamaku. QS Al-Kafirun ayat ke-6.”

Siang ini hariku diisi oleh ramainya pemberitaan di facebook, twitter, serta media online lain (karna memang kantor saya tidak menyediakan televisi diruangannya entah mengapa) tentang seorang artis yang memutuskan dirinya untuk pindah agama. Sesuatu yang menarik bukanlah ke agama apakah ia pindah, atau alasan mengapa artis tersebut memutuskan untuk pindah agama, tetapi melihat respon dan komentar netizen tentang keputusan yang diambil oleh artis tersebut.

beragam respon saya dapatkan dari yang mendukung maupun yang mengecam keras. tetapi yang menjadi pertanyaan mendasar saya adalah, “seberapa berhak orang lain menentukan keputusan yang diambil seseorang?”, terlebih keputusan tersebut merupakan suatu yang sifatnya sangat pribadi yaitu memilih agama atau menganut kepercayaan tertentu. Hal tersebut sudah diatur oleh konstitusi kita di pasal 28 E, dan pasal 29 (yang isinya bisa digugling).

Pertanyaan lain kemudian muncul (walaupun pertanyaan pertama belum terjawab), Apakah ini wujud kepedulian mereka para masyarakat luas kepada artis tersebut?, lalu reaksi apa yang diharapkan nantinya ketika cara menunjukan kepedulian itu disampaikan dengan bentuk yang seperti itu adanya?, inikah hasil dari pendidikan yang mengajarkan kita untuk saling peduli dengan orang lain?.

Berdebat terkait perbedaan memang selalu menjadi topik menarik yang dipilih oleh banyak orang baik itu perseorangan ataupun kelompok. Agama juga menjadi salah satu topik favorit yang dipilih untuk mengacaukan perbincangan hangat yang diselingi oleh sruput suara kopi. Huh, padahal betapa indahnya agama itu sebenarnya apabila kita menjalankan dengan aturan yang kita yakini masing-masing bukan untuk diperdebatkan apalagi untuk saling memecah suatu golongan antar umat.

Hmmh, saya memang tidak lahir dan besar di lingkungan keluarga yang berbeda keyakinan, dan bapak ibu saya merupakan seorang muslim yang benar-benar menjalankan aturan agamanya (benar menurut ilmu yang kami pelajari). Tetapi saya cukup senang ketika mendengar cerita mereka tentang perjalanan hidup mereka berdua yang sudah berkeliling Indonesia dan hidup di banyak suku, ras, adat dan agama yang berbeda. Tidak jarang mereka juga dituntut untuk survive dengan daerah yang membuat mereka menjadi minoritas. Tetapi mereka selalu bercerita kepada anak-anaknya tentang toleransi yang dilakukan oleh masyarakat mayoritas di setiap daerah yang mereka tinggali.

Tapi cerita yang mereka berdua ceritakan itu berlatar waktu “sekian tahun silam”. Saat itu orang orang belum terlalu mengenal TV, Radio, Surat Kabar,  dan hanya sedikit mungkin yang mengenyam bangku pendidikan. Sehingga saya berkesimpulan sementara, “Mungkin ilmu pengetahuan yang menjadi latar belakang ini semua”.

Ah, entahlah. toh semua pertanyaan dan praduga ini akan berakhir pada “kembali pada sudut pandang dan pribadi masing-masing”. Sudah masuk waktu dzuhur lebih baik saya shalat.

Terimakasih. Salam

toleransi beragama

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai