2017 bersiap purnatugas dan 2018 sedang bersiap mengambil amanah untuk mengisi masa jabatan dua belas bulan ke depan.
sebagai manusia biasa, mungkin saya ingin mengambil peran untuk berdoa. ya berdoa supaya 2018 bisa menjadi lebih baik, tidak lebih dari itu. karena Yang Maha segalanya sudah mengatur jalan kita.
Dan untuk kamu, terimakasih ya atas semua. Sehat selalu!
Pernah bergelut di organisasi mahasiswa ketika masa kuliah membuat BEM FISIP UNUD lewat panitia LKMM-nya menghubungi saya untuk menjadi pembicara di acara pelatihan kepemimpinan dan manajemen dasar untuk mahasiswa. Setidaknya itu yang mereka utarakan kepada saya ketika saya tanya mereka terkait alasan mengapa menunjuk saya untuk sharing pemikiran dengan sub-tema “Membentuk Jiwa Muda Revolusioner pada Era Kontemporer”. Adalah Putri Cahya sebagai ketua panitia acara, orang pertama yang menghubungi saya meminta untuk mau berbagi cerita ke peserta LKMM TD, yang kemudian diikuti panitia humas untuk masalah undangan, Diah LG untuk masalah tor plus materi dan pak gub – mas Arif untuk masalah haha-hihi.
***
IPD – Sabtu, 21 November 2015 / 10.00
Setelah berjuang untuk bangun pagi pasca perhelatan UJF yang pecah ambyar di malam sebelumnya, akhirnya saya bisa dateng tepat waktu ke lokasi LKMM berlangsung. Padang Sambian – Bukit, jimbaran yang biasanya memerlukan waktu tempuh sekitar 3/4 jam ternyata untuk hari ini bisa saya tempuh setengah jam, suatu pencapaian fantastis menurutku. Sesampainya di IPD, saya disambut panitia yang cukup cantik di meja registrasi, ternyata ini Diah LG yang di hari itu sekaligus menjadi moderator ku.
“Keputusan tepat untuk ngga ngajak febi kesini”, batinku.
Setelah pamit ke toilet sebelum saya memilih untuk masuk ke ruangan langsung dan menolak tawarannya untuk ke ruang tunggu pembicara terlebih dahulu. Berdalih pingin liat Clara-presma bem pm sebagai pemateri pertama, saya masuk ke ruangan acara berlangsung. Clara membawa materi dengan apik ngga keliatan kalo dia baru tidur 3 jam sebelumnya karna afgan. Selain itu, ngga nyangka juga kalo dia dulu pernah jadi anak baru di kampus, sekarang udah berubah. hha
Sesi pertama selesai, tiba waktuku ke depan untuk sesi kedua. Berbekal materi di TOR, saya mulai membawa materi dengan sub tema “Membentuk Jiwa Muda Revolusioner pada Era Kontemporer”.
***
Materi saya awali dengan keadaan pemuda sekarang.
Bicara tentang pemuda dan kepemimpinan, memang merupakan dua hal yang tidak terpisahkan akhir-akhir ini. Melihat keadaan bangsa sekarang, memang bukan berlebihan kalo kita para pemuda diharapkan mampu muncul membawa harapan baru, muncul dengan semangat baru, membawa ide baru. Mengutip quote Anies Baswedan – Anak muda itu memang minim pengalaman, maka dari itu mereka tidak menawarkan masa lalu. Mereka menawarkan masa depan. Ungkapan tersebutlah yang memunculkan kembali rasa optimis terhadap keberlangsungan negri sekaligus menjadi barometer untuk menyiapkan motor-motor penggerak bangsa di masa mendatang.
Namun, jauh panggang dari api. Peran pemuda di era ini masih belum terlihat mengambil andil dalam upaya memperbaiki wajah politik dan carut marutnya sistem yang ada di negara kita. Pemuda yang diharapkan mampu menjadi ujung tombak dalam perubahan nasib, justru tidak beripikiran tentang nasib bangsanya. Kondisi pemuda saat ini seperti kehilangan jati diri sebagai cendekiawan muda, mereka terjebak dalam gaya hidup yang pragmatis.
Memilih jalan pintas untuk mencapai segala keperluan mereka, anak muda sekarang terjebak dalam lingkaran kapitalisme global yang merasuki segala sendi kehidupan. Kita sedang dijajah oleh negara asing dengan bentuk yang berbeda. Jika dahulu kita dijajah dengan militer saat ini kita sedang dijajah oleh 3F yaitu Food, Fashion dan Fun yang mana tiga hal tersebut merupakan bagian dari yang sering kita sebut sebagai gaya hidup ataulifestyle. Menganggap apa yang berasal dari luar negeri itu lebih keren apapun itu bentuknya. Sehingga pemuda mulai kehilangan jati diri lokalnya.
Dampak dari penjajahan tersebut adalah anak muda (pelajar dan mahasiswa) sekarang ini, banyak yang tidak lagi memiliki sikap kritis, banyak memilih hidup hura-hura, menjadi mahasiswa “kupu-Kupu” atau Kuliah Pulang-kuliah pulang daripada ikut organisasi yang sibuk dengan diskusi-diskusi.
Selain itu, ada dampak lanjutan dari terjebaknya pemuda dalam gaya hidup yang pragmatis adalah membuat pemuda kita akan lebih memilih untuk tidak tersingkir dari kehidupan yang elitis daripada hidup dengan idealis. Mengambil apa yang bermanfaat dan berguna bagi mereka dan tidak mempedulikan serta mengabaikan segala hal yang tidak memunculkan manfaat baginya walaupun dapat membawa banyak manfaat bagi sekitarnya.
Hal ini juga yang menjadi satu alasan mengapa saat ini sangat sedikit mahasiswa yang mau memberikan sedikit perhatian mereka terhadap carut marutnya keadaan bangsa saat ini. Padahal menurut pengamatan mata bodoh saya, pemuda kita ini memiliki karakter yang cukup unik yaitu karakter mereka yang ‘latah’. Latah dengan segala hal yang sedang hits, latah dengan segala hal yang sering muncul di media. Andai saja ada yang membuat diskusi tentang buku dan debat-debat politik sederhana menjadi tren anak muda, mungkin kehidupan kampus akan lebih berdinamika disana. Khususnya kehidupan kampus di Bali – tempat saya berkuliah. Sayang, tren jalan-jalan ke tempat makan hits sambil gosip sana-sini yang lebih dominan disana (termasuk saya).
***
Membawakan materi tentang kepemimpinan di acara ini saya sedikit ingin menghubungkan fenomena tersebut dengan, bagaimana sebenarnya mahasiswa harus barkontribusi sebagai calon pemimpin masa depan. Ya, pemuda lah yang harus berperan atas keberlangsungan negara kita ini. Kitalah yang masih punya ide-ide kreatif, tenaga kita masih segar, waktu kita masih banyak, dan yang terpenting adalah kita ngga punya pengalaman masa lalu yang suram. (hahaha)
Fungsi kita adalah sebagai suplier utama kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan sosial. Hal utama yang akan saya tekankan disini adalah mahasiswa sebagai agent of change. Sebagai agen perubahan, ini dapat diwujudkan dengan mengembangkan pendidikan politik dan demokratisasi, sumberdaya ekonomi, kepedulian terhadap masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi, olahraga, seni, dan budaya, kepedulian terhadap lingkungan hidup, pendidikan kewirausahaan, serta kepemimpinan dan kepeloporan pemuda.
Ide-ide dan semangat baru yang kita tawarkan akan sangat berguna bagi perubahan, sob.Bayangin aja kalo semua sendi yang saya sebut di paragraf sebelumnya itu bisa kita kelola secara maksimal dan tanpa kepentingan segelintir pihak, bukan tidak mungkin kalo kita bisa semakin berdikari. Kitalah yang punya tanggung jawab untuk menciptakan terobosan-terobosan baru dengan gaya yang lebih fresh dan dapat diterima di semua kalangan.
Namun, Pemuda tidak akan mempunyai semangat yang abadi dalam pembangunan Indonesia melalui perubahan, bila bekerja secara sendiri. Oleh karena itu, diperlukan komunitas yang konsisten dengan perubahan tersebut. Disinilah kemudian lahir peran organisasi dalam mewujudkan tujuan pemuda dalam membangun Indonesia. Organisasi yang dimaksud tidak hanya organisasi yang terlihat saja, tetapi juga organisasi yang terselubung. Dalam organisasi akan lahir diskusi-diskusi dan budaya yang mendukung adanya sebuah perubahan. Perubahan di lingkungan sekitar hingga skala yang paling luas sekalipun sehingga organisasi dapat dianalogikan sebagai “kendaraan” pemuda sebagai agent of change (agen perubahan).
Pemuda Indonesia harus berani melakukan otokritik, sekaligus membenahi diri, meningkatkan kualitas sumberdaya manusianya, dan siap berkiprah di tengah-tengah masyarakat, mewarnai di berbagai lini kehidupan bangsa. Bangsa ini membutuhkan peran dan sumbangsih kalangan pemuda secara nyata, sehingga tentu sesungguhnya tugas dan peran pemuda tidaklah ringan. Pemuda Indonesia diharapkan mampu mengambil setiap peluang yang ada dan memanfaatkannya secara baik, demi kemajuan bangsa.
***
Bicara tentang kepemimpinan, ini bukan melulu tentang bagaimana mencapai pucuk kekuasaan di suatu kelompok, organisasi ataupun komunitas. Karena yang terpenting dari kepemimpinan itu sendiri adalah sifat dan pola pikir kita. Teringat celetukan sederhana dari peserta LKMM kemarin yaitu “setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri”, ya! semua orang harus punya sikap kepemimpinan.
Sikap kepemimpinan memiliki dasar yang sederhana menurut versi saya, yaitu kritis, bertanggung jawab dan peka terhadap keadaan sekitar, bagi saya inilah elemen yang harus dimiliki setiap orang. Mengapa kritis, bertanggung jawab dan harus peka?
Kalau kita kembali ke sub sebelum bagian ini, saya sudah membahas sedikit tentang ekspektasi bangsa terhadap pemudanya, kita juga sudah membahas tentang degradasi moral yang terjadi. Dengan menjadi lebih kritis, niscaya semua generasi muda akan selalu melihat semua hal dengan sudut pandang yang berbeda dari sudut pandang orang pada umumnya. Pemuda yang berpikir kritis akan selalu mempertanyakan segala hal yang terkadang tidak pernah orang umum pikirkan atau justru orang umum itu enggan memikirkannya. Sekaligus mereka akan selalu mencari jawaban dari pertanyaan yang mereka utarakan sampai mereka puas. Itu sederhananya.
Abistu, bertanggung jawab. Setelah mengkritisi sesuatu, kita juga harus menyiapkan solusi yang akan kita tawarkan. Disinilah sifat bertanggung jawab itu diperlukan, dengan bertanggung jawab segala tindak tanduk kita tidak akan sembarangan. Kita akan selalu berfikir dua langkah lebih depan sebelum kita bergerak satu langkah. Ini yang membedakan pola pikir dari pemimpin dengan orang sembarangan.
peka akan saya bahas di paragraf ini. Peka akan akan menuntut kita untuk sensitif terhadap segala hal, apapun itu. Orang yang peka akan merasakan hal-hal yang tidak semua orang bisa rasakan dan tau, sehingga ini juga akan membantu kita bersikap dan mengambil keputusan apakah berdampak negatif bagi orang lain atau tidak. Orang peka juga akan selalu bertindak tanpa komando, karena mereka akan tahu harus berbuat apa lebih dahulu dari orang lain.
Terkait hal tersebut, maka dapat kita simpulkan bahwa apabila setiap generasi muda kita memiliki aspek fundamental (menurut saya) dalam dirinya maka ekspektasi Indonesia terhadap pemudanya benar-benar bisa terjadi. Tidak perlu menunggu situasi pemerintah collapse pemuda kita akan selalu menjadi agent of change dan agent of control, mereka akan lebih kreatif dalam melihat keadaan dan menanggapinya. Tidak lagi anti politik, tidak lagi antipati terhadap pemerintahan, mereka akan selalu punya cara kreatif dalam menanggapi permasalahan yang sedang terjadi di negri ini. Tidak perlu menunggu menjadi ketua atau pemimpin dari suatu organisasi, menjadi orang di bali layar juga akan bermanfaat.
Menjadi salah satu agen dari kontrol pemerintah juga bukan berarti dari sebagai pemuda harus menjadi oposisi permanen dari segala kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Yang harus diperbaiki dari kata oposisi permanen itu adalah, kita harus mengambil peran sebagai oposisi permanen dari segala kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat, jadi kita akan terus mengontrol kebijakan yang dibuat oleh pemerintah kita. Jika kebijakannya baik kita harus dukung, dan apabila tidak baik maka harus kita evaluasi.
Bagaimana kita mengevaluasinya? ya itu kembali ke minat kalian masing-masing, tidak harus turun ke jalan kok, masih banyak cara lain yang mungkin lebih efektif.
***
Selain tentang kepemimpinan, dalam kesempatan itu saya juga lebih banyak menegaskan bahwa kita juga harus ikut berperan dalam rencana pembangunan nasional. Caranya? gampang, cukup dengan kita harus sedikit keluar dari zona nyaman kita, kita harus membuka sedikit pola pikir kita, dan yang terpenting adalah kita harus terus berkarya sesuai dengan minat dan potensi yang kita miliki.
Bayangkan, kalau kita sadar banyak potensi dari bakat yang dimiliki anak muda kita justru dikembangkan oleh negara lain. kenapa? karena negara kita masih belum memberikan apresiasi terhadap pemuda yang berkarya. Ini mengakibatkan tereduksinya minat generasi muda kita dalam menciptakan suatu karya-karya. Kita masih terjebak dalam generasi serba instan, gamau mikir ribet. Jadi ayo kita mulai lah dengan sedikit menyibukkan diri kita dengan karya-karya kreatif dan juga sibukkan dengan kegiatan yang sesuai dengan minat kita apapun itu, seni, olahraga, bisnis, jurnalis, fotografi, atau apapun itu. Siapa tau kegiatan kita itu bisa memberi sumbangsih lebih kan.
***
Melihat kenyataan tentang degradasi moral yang dialami pemuda jaman sekarang, mungkin beberapa orang semakin tidak yakin dengan rencana pembangunan nasional kedepan. Karena kemajuan bangsa tidak akan dilihat dari kekayaan sumber daya alamnya saja, tapi seperti apa negara tersebut mengolah sumber daya manusianya.
Tidak dengan saya. Saya sangat yakin dengan bangsa ini kedepannya. Kemajuan signifikan sudah mulai terlihat, ini ditunjukkan dengan semakin banyaknya generasi muda yang mulai ikut terjun di dunia sosial dengan alasan ingin menjadi salah satu penyebab dari kemajuan bangsa kelak, entah kapan itu akan terjadi namun saya yakin itu pasti.
***
Kesempatan kala itu saya tutup dengan sedikit ajakan kepada semua peserta LKMM untuk menikmati masa kuliahnya dan mulai mencari jati diri. Sibukkan dirimu di organisasi yang sesuai dengan minat kalian, kembangkan semua potensi yang kalian rasa itu passion kalian, jangan sampai kalian menyesal dengan fase ini yang tidak kalian maksimalkan untuk itu.
Bangku perguruan tinggi adalah bukan melulu tentang belajar di kelas, tapi juga tentang bagaimana kalian menggembleng pola pikir kalian untuk terjun di masyarakat.
90 menit waktu yang diberikan sudah habis, sesi saya akhiri dengan pekikan
Senin ini saya mulai dengan aktivitas rutin. Bangun jam 5 pagi untuk solat subuh, dilanjutkan dengan kembali tidur untuk terbangun lagi pukul 7 dan snoozing alarm sampai pukul 8 (ini bukan untuk ditiru kawan). Andaikata ibu sang fajar ngga teriak nyuruh mandi karna khawatir air mati lagi, mungkin saya masih nggeletak kaya baju kotor di kasur. Ya, rumah saya di daerah padang sambian beberapa minggu ini sering dapet giliran pemadaman air dari PDAM. Walaupun saya suka kesel sama rutinitas pemadaman bergilir ini tapi saya tetep memilih pake jasa mereka buat ngalirin air ke rumah. Ngebor sumur kayanya bukan pilihan bijak buat daerah rumah saya yang rata-rata sudah di paping, kasian air tanahnya habis di sedot tapi ngga dapet suplai dari atas tanah (logika saya sih bilang gitu, kurang tau ya teorinya bener engga).
Ritual mandi udah beres, hari ini saya menghabiskan kurang lebih 15 menit dari waktu hidup saya untuk mandi. Sekedar saran aja, Handphone / gadget di kamar mandi emang ganggu banget, kurang-kurangi melibatkan mereka dalam kegiatan MCK dan waktu hidupmu akan lebih berguna.
earphone sudah terpasang, scanning frekuensi dan yang terpilih 101.2 fm buat denger “mata sapi” sepanjang perjalanan rumah – ubud. Sebenernya pake earphone selama perjalanan yang menggunakan motor itu dilarang sob, karna ya emang bisa ganggu konsentrasi kita. Tapi ada daya, jarak rumah ke kantor sekitar 21 KM lumayan bikin ngantuk kalo ngga ada hiburan selama perjalanan, hehehehe. Okke, salim sama emak udah, sarapan sudah, bekel sudah masuk tas, semua keperluan juga sudah masuk tas, kunci sudah di motor, gas motor udah ditarik.
Hari sudah dimulai.
Selama perjalanan, banyak ide yang muncul dan membuat jari saya pingin balik kesini lagi. Nasib baik, karna kesibukan kantor lagi agak mereda jadi hasrat jaripun bisa tersalurkan. Salah satu alasan kenapa pingin nulis lagi adalah selama perjalanan tadi si dj mata sapi sedikit membahas tentang salah satu kegiatan sosial (yang saya lupa jenis kegiatannya apaan) dengan tujuan menghimpun dana bantuan untuk masyarakat Indonesia yang daerahnya lagi apes diselimuti jarebu. Beberapa daerah di Indonesia khususnya bagian barat memang beberapa bulan terakhir lagi kena bencana kabut asap. Penyebabnya adalah kebakaran hutan yang terjadi di beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan serta kemarau panjang sehingga hujan tak kunjung datang. Sehingga kita kembali menjadi exportir asap terhebat di dunia.
Kalo kita bicara tentang penyebab kebakaran yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan memang sudah pasti bakal gampang banget buat ditebak siapa dalang dibalik ini semua. Ya, perusahaan kelapa sawit yang mau meluaskan lahan sawit mereka, pemerintah daerah yang kurang peka terhadap kebijakan tentang perlindungan hutan, dan yang paling utama adalah masih rendahnya tingkat kepedulian manusia terhadap keadaan alamnya.
Dari obrolan sama temen dagang bakso yang pernah ke kalimantan dan liat keadaan lahan disana saya sedikit dapet informasi kenapa para investor memilih kelapa sawit sebagai komoditi dan metode membakar hutan untuk perluasan lahannya. Tekstur tanah gambut yang ada di Kalimantan memang membuat masyarakat sulit untuk menanam tanaman pangan. Mas Zitni bilang dalam jawanya yang sudah saya terjemahkan, “soalnya di lahan gambut ada unsur sejenis logam yang dalemnya ngga kurang dari 50 cm dari permukaan tanah jadi buat beberapa taneman ga bisa tumbuh disini, dit”. Itu alasan kenapa di Kalimantan sedikit orang yang bisa nanem tanaman pangan, kalopun ada yang bisa memanfaatkan lahan gambut ini biar bisa ditanami tanaman pangan itu perlu anggaran tinggi dan membuat masyarakat lebih melihat kelapa sawit sebagai komoditi menjanjikan.
Masnya juga bilang alasan kenapa pengusaha-pengusaha milih bakar hutan. Soalnya kalo pake buldozer itu mahal biayanya dan sulit karna medan gambut engga kaya’ tanah pada umumnya yang padet, jadi cuman beberapa aja yang pake buldozer, selebihnya pake cara yang lebih instan yaitu bakar hutannya.
Kenapa kok biasanya bakar hutan juga, tapi ngga sebanyak ini asapnya?
jawabannya karena sekarang hujannya ngga turun-turun. Kalo biasanya habis dibakar paling tiga bulan berikutnya udah hujan, kalo sekarang kemaraunya panjang jadi makin memperparah keadaannya. Bahkan beberapa hutan juga jadi kebakar alami karna ngga ada hujan. Pohonnya meranggas, rantingnya pada saling gesekan, jadi muncul api terus kebakaran juga.
Okke kita beralih lagi.
Selepas tadi bahas tentang penyebab asap. Disini saya juga pingin bahas keyakinan saya tentang akan selalu ada hikmah dibalik musibah. Setiap ada musibah yang terjadi saya selalu berkeyakinan “Sang Arsitek” kehidupan pasti punya rencana nan indah. Sampai sekarang hal ini selalu terbukti.
Bencana asap taun ini menurut saya berhasil menyatukan masyarakat kita yang semakin hari semakin merenggang hubungannya. Perselisihan setiap hari ada terus, perdebatan tentang perbedaan prinsip selalu muncull, setiap hari gengsi selalu dilombakan, kepentingan pribadi yang selalu diutamakan. Bencana yang terjadi kali ini seperti oase di tengah gurun kering, kalo kita ibaratkan. Gurun kering ini ibarat dari keadaan sosial yang tadi saya jelaskan, dan oasenya adalah bencana asap. Ya, karena bencana ini muncul beragam aksi sosial. Konser amal, aksi turun ke jalan yang dilakukan aktivis untuk meminta sumbangan ke setiap pengendara, penjualan produk yang sebagian keuntungannya diperuntukan bagi korban asap, penanaman pohon, revitalisasi hutan, dan program serta kegiatan lain lah.
Walaupun aksi yang dilakukan beragam mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu mengurangi penderitaan yang dialami oleh para korban asap disana.
Pasca bencana ini saya sangat berharap karakter ini tidak berubah. Bisa mulai berpikir untuk tanggap bencana jangka panjang, Bisa selalu meningkatkan kepedulian terhadap sesama, menyampingkan ego dan kepentingan pribadi, mau bergerak bersama untuk menyelesaikan masalah Indonesia tanpa harus menunggu ada bencana yang datang melanda.
setidaknya kita bisa memulai dari hal yang paling kecil. yaitu ikut bergerak mencari dan memberi solusi. ayo sama sama berdoa, semoga kita lekas sembuh dan bisa main lagi ya.
Oiya satu lagi, semoga kita semua bisa selalu peduli sama alam sekitar ya. Sumpah ngeri aja mbayangin kalo keadaan kaya’ gini terus menerus terjadi sampe 20 tahun ke depan.
ya, tepat tiga bulan lalu saya resmi diterima bekerja sebagai asisten operasional di sebuah yayasan di Ubud. yayasan bali peduli judulnya. yayasan yang bergerak di bidang penanggulangan HIV – AIDS.
jadi pekerja di sebuah lembaga swadaya punya kelebihan tersendiri memang daripada kerja di perusahaan yang profit oriented, terutama di sistem dan cara kerja mereka. Bagi kalian yang berpikir kerja untuk diri sendiri memang ga bakal bisa nikmatin yang namanya kerja untuk orang banyak dan digaji sedikit. bekerja di perusahaan dengan target dan aturan yang sangat mengikat ketat.
tapi sebelum saya keterima disini, saya sempat dibuat pusing dengan sedikitnya pilihan NGO yang bermarkas di Bali. entah karna emang sedikit atau saya yang kuper. walau akhirnya dibantu web, akhirnya Allah mendaratkanku disini untuk pengalaman awal.
ya, bekerja di yayasan memang lebih santai, jam kerjanya santai, dresscode santai, dan gajipun santai. Banyak yang selalu nanya, “kenapa qe milih kerja disana?” saya cuman bisa jawab, ya passion sekarang masih disini gatau besok kalo udah bosen dan pingin uang yang lebih banyak ya mungkin pindah orientasi jadi lebih profit.
bakal banyak hal baru yang saya ternyata ga tau, dan disini banyak yang mengajarkan tentang hal itu. salah satunya yang mungkin buat saya jadi lebih terbuka sama kehidupan. entah apa maksud tulisan tadi. kalo kalian jadi saya mungkin juga bingung gimana cara nuang ke tulisan.
Kerja di LSM sudah mbuka mata saya, kalo ternyata yang lebih peduli sama keadaan kita itu orang lain, iya itu kalimat sederhana dari “bule lebih peduli sama keadaan negara kita”. entah pernyataan tadi itu bener apa engga, tapi sampai tulisan ini saya posting, saya masih membenarkannya. alasan kenapa saya agak ragu dengan pernyataan itu soalnya pasti banyak yang berpikir bahwa itu strategi asing untuk ngiket kita, untuk nyari simpati kita, untuk buat kita kagum sama negaranya.
okke!
kalopun emang itu tujuan mereka, jujur saya pribadi jadi korban dari strategi mereka dan mengakui mereka hebat.
“iya, hebat.”
kalian ga pingin gitu nanya “kenapa?”.
kalopun kalian ngga nanya, bakal tetep saya jawab. iya saya kagum sama sikap mereka yang masih bisa berpikir dan peduli dengan sekitarnya ngga cuman sama diri mereka sendiri. walaupun tetep ada bisnis dibalik semuanya, ya dapur emang harus tetep ngepul bos!. cuman bedanya kalo orang kita tega kalo harus ngepul sendiri kalo mereka (saya sangat berharap kalian mengerti siapa ‘mereka’ itu) ngga tega kalo harus ngepul sendiri.
tapi saya ngga bilang orang pribuminya ngga ada sama sekali yang tergerak. orang kita banyak juga yang kaya mereka itu kok. dan semoga semakin banyak jadi kita ga lagi harus sirik sama bantuan negara lain atau justru kita bisa jadi kaya mereka atau lebih dari mereka.
sekian aja. Doain juga bisa dapet yang lebih keren lagi kalo selesai disini.
ini tampang depan kantor yayasan bali pedulifoto diambil waktu lagi sepi.salah satu kegiatan penjangkauan lapangan
Sekali lagi sosial media mengusik ketenangan yang mulia aditlazu. Bukan tentang aplikasi yang dikeluarkan, bukan tentang tampilan, bukan tentang mark zuckerberg (tapi mungkin juga sih karna dia) juga. Keresahan yang muncul adalah apa yang ditampilkan oleh para penggunanya di Indonesia (saya tidak tau bagaimana mereka diluar sana mempergunakan sosial media itu).
Okke kita mulai..
Menjadi bebas dan tidak terbatas merupakan konsekuensi dari berkembangnya zaman. Hal tersebut didukung oleh banyak hal, terkhusus di Indonesia. Pasca bergolaknya aksi massa besar-besaran yang menuntut rezim orde baru untuk menyudahi dominasi mereka, reformasi mulai masuk ini ditandai dengan merdekanya hak untuk berpendapat.
Baik saya rasa cukup untuk memperkenalkan awal mula demokrasi di Indonesia. Akan lebih baik untuk langsung ke bagian yang cukup mengganggu saya sebagai salah satu warga negara di Indonesia.
Keresahan saya mulai muncul setiap saya membuka sosial media untuk kemudian menikmati apa yang disediakan didalamnya, apapun sosial media tersebut yang jelas sosial media itu menyediakan fasilitas home, timeline, feed atau apapun jenisnya. Fasilitas itu menyediakan fitur share, retweet, regram, repath, dan teman-temannya yang isinya berbagai macam hal. Banyak dari pengguna sosmed itu menggunakannya secara bijak hingga memiliki dampak yang positif bagi mereka, misalnya beberapa minggu lalu ada seorang teman yang kehilangan dua (atau tiga aku lupa) anjingya dan bisa ditemukan karena ia memposting informasi kehilangan dan banyak yang ikut ‘ngeshare’ juga. Beberapa waktu lalu juga kita dihebohkan dengan postingan anak hilang di sosial media dan berujung pada matinya anak tersebut secara tragis, ya itu kisah tentang angeline. Namun, tidak semua fitur tersebut dimanfaatkan secara bijak oleh penggunanya.
Salah satunya dan yang paling membuat saya kecewa adalah mereka (pengguna sosial media) yang menggunakan fitur tersebut untuk mensharing hal hal yang bersifat sensitif contohnya ngeshare isu SARA.
Sebelum jauh, mari saya ajak rehat sejenak untuk menyatukan maksud dulu.
Dumay yang akan saya bahas disini adalah facebook. Saya merupakan salah satu orang yang kembali menikmati sosial media tersebut. Apabila ditanya alasannya, jawabannya adalah facebook enak dibuka lewat leptop jadi bisa tetep keliatan kerja ngadep leptop walopun di layar bukan kerjaan yang dibuka (hahahaha). Selain itu facebook juga merupakan salah satu sosmed yang masih dipakai teman-teman saya untuk lebih banyak membagi banyak hal informatif. Tidak seperti di facebook, teman-teman saya di sosial media lain yang lebih banyak menggunakan akun mereka untuk (maaf, bisa dibilang) sekedar pamer walaupun sebagian kecil tidak, ingat! Hanya “Sebagian kecil”.
Sip,,
Bagi temen-temen yang masih menikmati facebook pasti akan merasakan apa yang saya rasakan saat ini, yaitu home akan berisi postingan tentang agama, politik, atau hal lain yang sifatnya sensitif dan empuk untuk menjadi perdebatan. Seperti sudah saya tulis di tulisan sebelum-sebelumnya, entah kenapa masyarakat kita ni gampang banget masuk ke arus perdebatan. Walaupun berdebat itu ada baiknya untuk saling bertukar pendapat, tapi yang ada di halaman (beranda) facebook saya lebih banyak perdebatan yang tidak berkualitas sifatnya. Walaupun kualitas itu sifatnya relatif, dan relatif yang saya gunakan adalah relatif yang menurut saya.
Pendebat yang sering saya temukan di halaman facebook saya biasanya didominasi oleh banyak kalangan, ada agamawan, politikus, anak awam, anak awam yang keagamaan, anak awam yang kepolitik-politikan dan banyak macamnya. Tidak sedikit dari mereka yang membagikan atau membuat status yang sumbernya tidak bisa dipertanggung jawabkan dan justru menimbulkan kontroversi dan persinggungan terhadap kaum lainnya. Hal ini (membuat status dan membagi link) juga biasanya ditujukan untuk menyindir golongan lain atau ingin menunjukkan bahwa ‘nehkan keyakinanku bener’.
Perdebatan yang paling saya sorot disini adalah tentang agama dan politik. Alasannya adalah kedua perdebatan ini saling berkaitan dan inilah perdebatan yang tidak akan pernah ada selesainya (hehehehe). Perdebatan politik yang biasanya saya temui adalah perdebatan antara anak loyalis indonesia hebat dan loyalis merah putih. Kalo kalian pikir persaingan ini sudah selesai pasca datengnya pak prabowo ke pelantikannya pak jokowi, ternyata pikiran kalian sama seperti saya. Hhahaha. Ini belum beres bor.
Para loyalis indonesia hebat akan mati-matian menjadi ujung lidah dari rencana rencana ‘kabinet kerja’ presiden kita. Sedangkan loyalis merah putih akan selalu mengomentari negatif segala bentuk rencana pemerintah sampe paket internet mereka habis dan diisi lagi. Di awal keadaan ini, saya sempat berpikir positif bahwa keadaan ini akan menjadi keren karena akan selalu ada keseimbangan antara koalisi dan oposisi, namun yang terjadi tidak secantik harapan saya. Karena banyak pendebat yang tidak memberikan tanggapan dengan dewasa dan malah justru menyampaikan pendapatnya tidak dengan elegan. Elegan yang saya maksud adalah cara penyampaian gagasan yang diberikan oleh orang itu seharusnya dengan bahasa yang tidak menyinggung dan memberikan seharusnya pendapat tersebut juga mengandung jalan keluar.
Situasi seperti ini dikhawatirkan akan membuat publik yang masih lugu atau tidak mengerti tentang politik akan semakin tidak tertarik dengan politik. Apabila hal tersebut terjadi maka bersiaplah seluruh masyarakat tidak akan lagi percaya dengan politik dan tidak akan ada lagi generasi emas yang diizinkan masuk ke dunia politik oleh orang tuanya.
Ah, lebay kamu dit, masak sampe segitunya sih?!
Mungkin memang ini keliatan luar biasa lebay, tapi entah kenapa saya yakin sekali ini bisa terjadi. Alasannya, gausah jauh jauh mbayangin yang belum terjadi di masa depan deh, kita bercermin aja dengan apa yang terjadi hari ini. Guru-guru di sekolah khususnya guru IPS akan selalu menceritakan kehebatan tokoh-tokoh nasional yang terlibat dalam pembentukan awal negara kita, kemudian ketika anak-anak murid itu pulang kerumah apakah ada diantara orang tua mereka yang mencita-citakan anaknya untuk menjadi seorang politikus? Kebanyakan dari orang tua tersebut pasti menyiapkan anaknya untuk menjadi seorang pilot, dokter, polisi, guru, dan cita cita lain selain politikus, kalaupun itu ada angkanya pasti sangat kecil.
Lah terus kenapa kalo itu terjadi? Kan semua profesi itu juga bagus dan mulia asalkan dijalankan sesuai sebagaimana mestinya.
Iya, memang semua profesi itu baik dan bagus apalagi dijalankan sesuai dengan kaidah, tapi kalo semua orang benci dan gamau masuk ke lingkungan politik, gimana sistem negara kita jalan?. Banyak yang udah beranggapan bahwa kalo semua orang baik gamau lagi masuk politik ya politik akan selalu dipegan oleh orang ga baik yang orientasinya di politik cuman uang dan keuntungan aja tanpa berpikir bagaimana seharusnya mereka menjabat.
Oke, aku sepakat deh jadinya. Nah sekarang hubungannya sama masalah yang kamu tulis tadi apa?
Ya sekarang pembentuk opini publik adalah media massa, apapun media massa itu bentuknya. Terlebih sosial media, dan kalo terus orang-orang itu berdebat tentang siapa yang lebih pantas, program siapa yang lebih pantas, kebijakan yang kaya apa yang lebih pantas, nah bagaimana publik bisa percaya sama politik. Yang harusnya dibangun adalah kepercayaan publik terhadap pemerintahan dalam tataran apapun (koalisi maupun oposisi, eksekutif maupun legislatif). Sehingga akan mudah kita melibatkan masyarakat untuk membantu membangun dan menata negara ini kedepannya karena masyarakat kita sudah saling percaya dan tidak saling curiga dan saling menyalahkan melainkan saling mengisi kekurangan masing-masing. Dan negara kita akan dikenal bukan lagi sebagai negara yang hebat beromong kosong tapi juga hebat dalam menjalankan negaranya. Wuhuuuuuuuwwww!!!!
Okkelah yaaaa, hhaha. Aku anggep beres aja deh yang satu ini, trus gimana dengan pendebat agama yang kamu ceritain diawal tadi? Apa salahnya bertukar pendapat?
Ya, seperti yang saya singgung di awal bahwa saya sangat tertarik dengan dua perihal ini (poitik dan agama). Untuk isu ini mungkin lebih seksi daripada politik karena yang kita hadapi bukan tentang common sense lagi, tapi ayat yang ada di setiap kitab di masing-masing kepercayaan. Iya engga sih sebenernya? Ya anggap aja iya deh ya.
Agama memang menjadi isu yang makin hari makin sering dibahas dimanapun itu. Perdebatan antar agama memiliki tujuan yang entah apa sih itu (menurut saya). Saya bilang gitu karena memang, agama tidak akan pernah bisa diperdebatkan, karna ya agama untuk dijalankan bagi setiap pemeluknya.
Perdebatan paling banyak timbul antara agama timur tengah dan agama barat (maaf kalo saya salah sebut). Ya, (mungkin) banyak yang mengatakan dua kutub itu saling berebut hegemoni. Indonesia menjadi salah satu lahan yang tidak luput dari target mereka untuk menyebarkan pengaruh. Pengaruh yang disebarkan melalui cara yang sangat beragam, mulai dari fashion, food, hingga lifestyle.
Contoh nyata adalah bagaimana perdebatan tentang cara berpakaian di lingkungan kita. Antara pihak yang saya sebut dengan baju rapat tertutup dan pihak dengan baju ketat terbuka.
Bagi mereka yang masuk ke dalam team ketat terbuka akan mengatakan bahwa jangan sampai Indonesia terlalu terobsesi dengan negara timur tengah, biarkan Indonesia ini barjaya dengan ciri khas budayanya. Team ini selalu berpendapat bahwa Indonesia harus menjaga teguh budaya aslinya jangan terpengaruh oleh budaya negara lain. biarkan masyarakat Indonesia hidup dengan gaya hidupnya disini, tidak seperti di timur tengah sana, yang terlalu mencampuri urusan personal orang hingga ke tatacaranya berpakaian. Sungguh tidak sesuai dengan negara kita yang menganut demokrasi yang membebaskan rakyatnya untuk berekspresi.
Team rapat tertutup juga akan berstatemen, bahwa mereka tidak hidup dengan cara atau budaya negara lain tetapi mereka hidup dengan aturan dari kitab agama yang mereka percayai. Kalian telah salah kaprah mengenai gaya hidup kami. Kami tidak mengkiblatkan negara Arab atau negara timur tengah lain sebagai aturan hidup kami tapi kami menggunakan kitab kami. Sedangkan bagaimana dengan kalian? Kalian menggunakan jeans yang jelas bukan budaya kita, itu budaya negara barat yang dikomandoi oleh Amerika. Hidup kalian bebas seperti tidak ada aturan tentang hak individu.
Dalam kehidupan nyata, kedua perdebatan ini lebih seru dan panjang daripada dua paragraf seperti ilustrasi tersebut. Sedangkan menurut saya dua kutub ini sama benar dengan argumen mereka masing-masing sehingga tidak akan pernah menemukan titik akhir. Sekiranya akan lebih baik apabila kedua belah pihak akan lebih bijak dalam menanggapi setiap issu, saya yakin tidak akan ada lagi perpecahan. Walaupun perbedaan pendapat akan tetap ada tetapi itu akan mengarah ke penyatuan persepsi yang lebih baik.
Lagi-lagi saya mengingatkan bahwa tulisan ini bebas nilai yang saya tulis hanya berdasarkan apa yang saya lihat, jadi jangan pernah menggunakannya sebagai sumber tulisan ilmiah.
Sudah dua bulan lamanya semenjak saya memutuskan diri untuk menyudahi masa perkuliahanku atau banyak yang menyebutnya sebagai wisuda.
Ya, saya seorang sarjana ilmu politik lulusan hubungan internasional Universitas Udayana. Sedikit mereview tentang gimana sih program studi hubungan internasional di Universitas Udayana (universitas nomer satu di Bali ‘katanya’) itu.
Program Studi ini bagiku program studi yang keren. Memang, memang keren bagi kalian yang tidak ada di dalamnya karena akan banyak yang berspekulasi bahwa di dalamnya akan banyak terdapat orang-orang hebat yang berbicara politik di luar negeri, akan banyak bertebaran isu luar negeri, bertebaran buku keren berbahasa asing, orang yang ada di dalamnya khatam dengan bahasa asing minimal bahasa inggris. Wuhuuuuw. Idealnya memang seperti itu kawan, atau memang seperti itu sebenernya cuman akunya aja yang ngga sadar.
Sekitar tiga tahun dua puluh bulan sebelum hari kelulusanku, aku memutuskan untuk mendaftar pada program studi tersebut dan dua bulan berikutnya memang aku diterima dan resmi terdaftar sebagai mahasiswa hubungan internasional. Banyak perasaan yang timbul pada waktu itu dan yang paling mendominasi adalah perasaan bangga disaat temen-temenku yang lain masih sibuk dengan mencari kuliah dan saya sudah duduk ongkang-ongkang kaki (ya, saya memang masuk melalui jalur PMDK I yang pada masa itu merupakan jalur penyaringan pertama di jamannya). Sedikit sombong karena tidak harus memikirkan dimana akan melanjutkan studi dan juga karena ketika ditanya
“Kuliah dimana sekarang?”
saya sudah enteng untuk menjawab “masuk HI Unud”
Dan mereka akan menjawab “uhkle keren nok”.
“Wahahahaha,” ya itu memang kebanggaan tersendiri di jamannya.
Kurang lebih dua bulan berikutnya saya sudah mengikuti segala aktivitas dari pendaftaran hingga ospek. Kegiatan perkuliahan pun dimulai pada tanggal 1 September 2010 yang ditandai dengan kebingunganku memilih tempat duduk karena memang saya bukan mahasiswa yang masuk ke HI bersama gerombolan teman SMA, dari SMA PGRI 2 saya satu-satunya yang masuk HI di tahun tersebut. Melihat teman lain yang berkumpul dengan temannya saya hanya bisa bingung dan akhirnya memutuskan untuk memilih bangku di baris ketiga dari depan karena disana ada temenku sewaktu SD.
Hari perkuliahankupun dimulai.
Singkatnya (ga sesingkat dicerita ini sebenarnya) 3 tahun 19 bulan berlalu dan akhirnya lulus juga.
Wisuda.
Wisuda yang dirindukan (walaupun tidak pernah bertemu sebelumnya) datang juga. Tanggal 30 Mei adalah hari bersejarah itu, biarpun banyak yang menganggap wisuda ga penting tapi bagi saya itu tetap penting (hahahaha) karena suatu alasan. Saya menganggap ini penting karena wisuda adalah momen dimana kita kayak tukik yang dilepas ke laut, disanalah kalian akan menentukan nasib kalian sendiri.
Bekerja
Keadaan setelah wisuda memang banyak ditakuti oleh mahasiswa, tentu tidak untuk seorang aditlazu (oke ini nadanya terlihat sombong) karna dia bukan orang yang bingung menjawab pertanyaan ‘kerja dimana sekarang?’. Ya adit sudah lulus dan tidak lebih dari seminggu dia sudah bekerja di sebuah yayasan yang bergerak di bidang HIV & AIDS yaitu Yayasan Bali Peduli. Saya bekerja disana sebagai Operational Asisstant.
Sebagai sarjana hubungan internasional mungkin banyak yang bertanya mengapa saya masuk ke yayasan yang bergerak di bidang kesehatan. Okke, jawaban yang pertama adalah, yayasan itu yang menerima lamaran saya, kedua saya orang yang pilih pilih pekerjaan dalam hal ini saya memilih pekerjaan yang tidak hanya mengejar profit oriented saja, dan yang terakhir adalah di yayasan ini tidak mengikat saya. Hahahaha. Selain itu Hubungan Internasional merupakan disiplin ilmu yang beragam jadi ya bebas lah lulusannya kerja dimana kannnnn? Njajahahahahahaaaa…
Gajian
Masuk ke mozaik berikutnya, fase umum dalam sebuah pekerjaan adalah gajian. Ya inilah yang selalu menjadi pertanyaan lanjutan setelah pertanyaan ‘kerja dimana kalian’ terjawab. Gaji pertama saya bertepatan dengan dekatnya hari raya idul fitri jadi untuk gaji yang besarannya UMR daerah ubud dan padatnya agenda hari raya pada saat itu, gaji sayapun numpang lewat saja. Walau bagaimanapun ya memang ada beberapa nominal yang saat ini sudah berubah bentuk menjadi barang.
“Jadi inti dari episode ini apa?”
Okke, sekarang saya akan menjawab.
Mengapa judulnya adalah ‘Juli dan Berkah di Dalamnya’, karena dalam bulan ini ada hari raya idul fitri, ada gajian, ada jawaban dari pertanyaan kapan lulus, ada jawaban dari pertanyaan kerja dimana, walaupun belum ada jawaban dari pertanyaan kapan menyudahi hubungan kaya gini sama Febi.
“Siapa Febi?”
Oh maaf kalo belum aku jelasin. Febi, anak beribu karakter yang aku kenal kenal baik sejak enam taun lalu di bulan ini juga.
“Okke, terus kenapa pertanyaannya putus? Kamu ada masalah? Kan eman udah 6 taun terus udahan”
“Hmmm, emang menyudahi status pacaran harus ada masalah? Kan bisa selesai pacaran terus menjalin hubungan yang lebih baik lagi kedepannya.”