Nonton Harga – Wiji Thukul

ayo keluar keliling kota

tak perlu ongkos tak perlu biaya

masuk toko perbelanjaan tingkat lima

tak beli tak apa

lihat-lihat saja

kalau pingin durian

apel-pisang-rambutan-anggur

ayo..

kita bisa mencium baunya

mengumbar hidung cuma-cuma

tak perlu ongkos tak perlu biaya

di kota kita

buah macam apa

asal mana saja

ada

kalau pingin lihat orang cantik

di kota kita banyak gedung bioskop

kita bisa nonton posternya

atau ke diskotik

di depan pintu

kau boleh mengumbar telinga cuma-cuma

mendengarkan detak musik

denting botol

lengking dan tawa

bisa juga kau nikmati

aroma minyak wangi luar negeri

cuma-cuma

aromanya saja

ayo..

kita keliling kota

hari ini ada peresmian hotel baru

berbintang lima

dibuka pejabat tinggi

dihadiri artis-artis ternama ibukota

lihat

mobil para tamu berderet-deret

satu kilometer panjangnya

kota kita memang makin megah dan kaya

tapi hari sudah malam

ayo kita pulang

ke rumah kontrakan

sebelum kehabisan kendaraan

ayo kita pulang

ke rumah kontrakan

tidur berderet-deret

seperti ikan tangkapan

siap dijual di pelelangan

besok pagi

kita ke pabrik

kembali bekerja

sarapan nasi bungkus

ngutang

seperti biasa

18 november 96

Pram dan Teman-teman Fiksinya

bumi manusia karya Pramoedya Ananta Toer
karena sepertinya keren kalo diisi gambar.

Oke, saya hadir kembali disini setelah sekian lama bergelut dengan niatan yang tak kunjung tertuang. Tulisan ini muncul karena keindahan karya sastra yang saya baca dari tulisan seorang Pramoedya Ananta Toer. Sebenaranya saya salah satu orang yang sudah telat terlampau telat untuk menikmati karyanya, bayangkan saja ini sudah tahun 2015 dan usia saya saat ini adalah 22 tahun, dan baru memulai tetralogi pertamanya yaitu bumi manusia (hahaha). Ya alasannya memang karena saya merupakan orang baru dalam penikmat karya sastra jadi ya mohon dimaklumkeun.

Oke saya lanjutkan ke bagian yang lebih inti.

Jadi yang mau saya ceritakan disini sebenernya bukan karya ini, tapi bagaimana kehebatan seorang pram yang bisa membuat saya (sebagai orang baru) jadi merasa masuk kedalam bagian ceritanya. Hahaha, padahal untuk saya bahasa mas pram ini susah untuk bisa saya terima, ya memang karena generasi yang terpaut cukup jauh. Tapi yang membuat saya sangat salut itu adalah cara beliau yang dalam menggambarkan setiap tokohnya terutama annelies dan ibunya, Nyai Ontosoroh.

Entah kenapa saya merasa bisa melihat annelies ini dalam bayangan yang nyata, seorang putri campuran Belanda dan Pribumi yang ditokohkan sebagai seorang wanita yang lugu, polos, pandai dalam memimpin suatu perusahaan, namun sangat kesepian. Pram sukses membuat saya terkesan dengan keluguan dari Annelies hanya karena ia menceritakan bahwa dirinya dicium oleh Minke kepada ibunya Nyai Ontosoroh. kesederhanaan dalam adegan ini membuat saya berdecak kagum (maaf kalo ini agak berlebihan).

Dan seorang Ontosoroh, wanita pribumi yang ditokohkan sebagai gundik Belanda yang berubah menjadi orang yang sangat tegas, keras, namun tetap memiliki kelembutan seorang ibu. Sifat dominannya membuat tokoh di bumi manusia terbius kharismanya, bahkan berimbas ke pembaca awam seperti saya juga.

Untuk keseluruhan cerita, jujur saya belum menamatkannya (sampe sekarang) karna ya memang sulit mencari waktu yang pas untuk membaca (sekali lagi ini klise). Tapi sekali lagi bagi penikmat sastra yang masih awam, saya sangat kagum dengan cara mas pram menyampaikan dan menggambarkan setiap tokoh yang berperan disini. Tidak hanya mereka berdua (Nyai Ontosoroh & putrinya Annelies) tapi setiap tokoh yang bermain sukses memerankan karakter yang diinginkan oleh mas Pram ini. Jadi buku ini sangat rekomended bagi kalian pecinta roman.

Okke, segini dulu, saya harus menyelesaikan bacaan ini. Supaya bisa cerita lebih banyak apa sebenarnya isi dari bumi manusia yang kita tinggali ini. Hhaha.

Salam.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai