Bekerja Untuk Keabadian

Menulis adalah terapi, dan usaha mengabadikan diri. “Cuitan” Pramoedya Ananta Toer tentang Bekerja Untuk Keabadian mulai saya rasakan pasca kepergian istri saya. Usaha untuk mengenang kembali kebersamaan kami saat ini hanya bisa saya kenang dengan melihat karya-karyanya, baik yang ia abadikan dengan gambar maupun tulisan. Banyak hal kecil yang membuat saya merasa sangat dekat dengannya. Takarir instagram @nisa.syahidah salah satunya. Lewat ketikannya saya bisa memanggil kembali memori kami berdua, bagaimana cerianya, batunya, manjanya, dan anehnya ia. Semua yang sempat ia rekam menjadi senjata saya untuk membunuh rasa rindu itu. ya walau itu juga hanya sementara.

Berbeda dengannya, saya pribadi yang kurang piawai dalam memegang kamera gawai. Hasil jepretan saya tidak banyak membawa cerita. Menjadi salah satu penyesalan juga tentunya. Saya harus membuka galeri nisa untuk melihat kegiatan kami berdua, di sana lebih banyak gambar saya. Karna saya sangat jarang mengambil gambarnya. Memahami kekurangan dalam mengabadikan citra, saya mencoba jalan lain. Saya ingin menulis untuk mengabadikan diri. Salah satu terapi, yang semoga juga bisa menjadi senjata cantigi ketika merindukan saya nanti. Semoga saya tidak malas lagi membagi cerita. Atau bukan malas, tapi malu. Malu tulisan saya tidak enak dibaca, malu kalau ternyata terlalu berlebihan dalam berbagi cerita, dan hal lain yang membuat saya enggan menulis.

“Di beberapa malam, di antara pejam mata dan naik turun nafasmu aku bertanya, berapa banyak waktu yang kita punya?” pertanyaan ibu’ ke ayah, yang sekarang ayah juga tanya ke cantigi.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai