Belajar Dari Cerita Kehilangan

Beberapa hari terakhir kita sungguh dekat dengan kesedihan lewat cerita kehilangan. Berita tentang putra gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang hilang di Sungai Aare menjadi pencetusnya. Kehilangan yang ditutup dengan keihklasan dari keluarga untuk menyatakan bahwa Emmeril Khan Mumtaz meninggal dunia sontak membuat ratusan, atau mungkin ribuan bahkan jutaan warga Indonesia turut bersedih dengan kabar itu.

Sampai akhirnya proses penerimaan ini diputuskan oleh kang Emil melalui kanal media sosialnya, saya sangat yakin bahwa proses yang harus dilalui beliau itu tidaklah mudah. Beliau harus berjuang dengan perasaan denial bahwa sang putra pasti masih bisa ditemukan dengan kondisi selamat. Ibu Atalia bahkan sempat menyampaikan permohonan maaf kepada kang Emil karena tidak bisa menjaga sang anak. Perasaan perasaan yang juga saya rasakan. Bahkan sampai tulisan ini dibuat.

Hari ini, saya juga baru mengetahui kabar bahwa salah satu teman baru mendapatkan ujian dari Sang Pencipita melalui titipannya yang harus pergi mendahuluinya. Bahkan saat ia sendiri belum sempat berjumpa. Membaca tulisannya saja sanggup membuat saya menyeka air mata, tak terbayang rasanya jika itu terjadi pada saya dan Nisa.

Dalam ceritanya ia membagikan perasaan bersalahnya tidak bisa menjaga titipanNya dengan baik, di sana juga saya temukan tahapan penyangkalan dan rasa tidak terima dengan kondisi yang harus diderita. Sampai akhirnya di ujung paragraf ia tutup dengan optimisme yang sangat ciamik. Ceritanya membuat saya salut, di samping karena ia memang penulis hebat, saya mengenal ia memang sebagai pribadi yang kuat.

Pernah terpikir jika malaikat Allah tertukar menyampaikan titipan ujian dari Sang pencipta kepada saya. Karena kita semua sepakat nama Adit sangat banyak beredar di Indonesia. Pikiran itu muncul karena dalam Firman Allah dijelaskan bahwa Allah tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan dari umatNya, namun saya merasa ujian yang diberikan Allah terlalu hebat untuk saya pikul sendiri. Dan dengan bodohnya saya su’udzon bahwa malaikat salah kirim alamat cobaan, AHAHAHA.

Setelah saya membaca dua kisah ini membuat saya tersadar kembali bahwa dunia tidak hanya berputar untuk saya saja. Semua makhlukNya mendapatkan cobaan dengan kadarnya masing-masing. Tuhan menyiapkan ruangan ujian yang beragam, disiapkan untuk level masing-masing umat. Kepulangan kita menghadap yang Esa sudah tertulis rapi dalam buku-Nya, bahkan sebelum kita lahir di dunia. Kita tak punya kuasa untuk merubah ceritanya.

Rasa bersalah yang selama ini menghantui saya, saat ini mulai berangsur sirna (semoga). Pikiran tentang kegagalan menjadi suami yang baik, harus berganti dengan optimisme menjadi seorang ayah yang hebat. Saya harus percaya Allah sudah mengatur semuanya, akan indah apabila kita tetap tawakal kepada-Nya. Turut berduka untuk semua yang sudah merasakan kehilangan. Semoga kita bisa meneruskan impian dan menyiapkan bekal untuk menyusul mereka yang sudah pergi duluan.

Westlife Februari 2023

Akhirnya tiket Westlife terbeli!. Dan saya harus pusing mikir cara cari uang untuk ganti uang tiket yang seharusnya mungkin itu haknya cantigi. Mungkin ga apa-apa ya sesekali ngasih makan inner child, wasek.

“iso nonton Shane karo Mark, tapi arek’e diombeni banyu taji!”

Ngga sabar ngerasain vibesnya GBK Madya nanti. Mesti ngguateli tenane.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai