Membaca Nisa-n

Lebaran tahun ini saya memutuskan untuk merayakannya bersama keluarga di Depok. Tujuannya adalah melepas rindu saya dengan istri, selain itu supaya Cantigi tau dimana kota masa kecil ibunya. Cantigi harus tau bahwa ia punya keluarga di sana, ada eyang, om, tante, dan sepupunya. Semua merupakan kerabat sedarah cantigi.

Pulang ke sana ternyata tidak mudah buat saya. Walaupun, iya, apapun sekarang memang sedang tidak mudah sepertinya. Namun ternyata pulang ke sana memberikan sensasi sentimentil yang kuat. Terlebih ketika saya menuju pusara tempat Nisa beristirahat menunggu saya, habis habisan saya menangis di sana. beberapa rekan saya hubungi karena ternyata saya tidak bisa melewatinya sendiri. masih tidak percaya, ada nama “Nisa Syahidah” tertulis tegas di batu nisan yang di sampingnya ada saya duduk mengirimkannya sedikit do’a. Nama yang biasa saya baca di notif whatsapp, sekarang harus abadi terpampang dalam sebuah nisan sebagai penanda ada istri saya sedang santai di dalamnya.

Lebaran yang sangat emosionil buat saya. Sulit untuk tidak menangis ketika saya harus mengingat kembali momen pertama saya datang ke rumah pondok mandala dan duduk di kursi tempat saya harus berbicara bertemu dengan kedua orang tua Nisa yang saat ini jadi orang tua saya juga. Sulit untuk menghalangi memori awal saya menikmati setiap sudut rumah itu bersama sang istri, dan berulang kali saya harus tumbang dalam tangis. Ditambah setiap sanak saudara yang hadir selalu bercerita tentang Nisa dan moment lebaran pertama tanpanya di sana.

Entah kenapa, saya masih bingung dengan perasaan ini. Tidak kuat setiap membuka kembali memori tentangnya, namun selalu mencari memori itu dan memanggilnya kembali. Harus berapa lama lagi untuk saya bisa menerima bahwa dia sudah tiada. Harus berapa lama lagi untuk saya bisa berdamai dengan diri sendiri? Sampai saat itu tiba mungkin saya masih akan menikmati ini.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai