Cantigi Zahira Prameswari

“Cantigi, nama anakku cantigi kalo perempuan nanti. ngga tau kalo anaknya laki nanti. kamu gimana? udah nyiapin nama belum?” tanya nisa di sela obrolan kami di kantor

“Pramudya kalo anakku cowok, kalo cewek pinginnya Zahra. Manis aja gitu rasanya” jawabku yakin dengan ide itu. Kalo alasan kenapa pramudya, sederhana, Pramoedya Ananta Toer! Saya suka dengan karyanya – tetralogi buru itu pemicunya. Alasan selanjutnya adalah pramoedya mempunyai arti bijaksana. Suatu kelebihan yang menurutku harus ada di setiap manusia.

16 Maret 2019 tanpa sengaja kami akhirnya menikah

iya ini foto MC-nya, Gratis. Agus Jaenudin namanya.

Waktu berlalu, rezeki yang kami tunggu akhirnya datang. Masih teringat tanggal 10 Maret 2021 waktu itu. Dua garis merah menghibur waktu subuh kami. Sampai pada akhirnya jenis kelamin terbaca di mesin canggih bernama USG, nama pun kami finalkan.

Cantigi Zahira Prameswari!

Cantigi – flora indah di puncak tinggi. Eksistensinya kalah dengan edelweis sang bunga abadi. Namun manfaatnya sangat memudahkan para pendaki. Nama Cantigi kami pilih karena kegemaran kami berdua yang suka berjalan mendaki gunung dan mencapai puncak tinggi. Selain itu Cantigi memiliki makna bagi kami.

Jika kita ketik “cantigi” di mesin pencari ‘google’, akan muncul di sana beragam cerita tentang tanaman ini. Satu kutipan yang paling saya suka adalah “Jadilah seperti cantigi, walau diterjang badai sekencang apapun, tetap tegak berdiri”. Kutipan yang diambil dari takarir instagram milik KLHK ini bukan tanpa alasan. Cantigi memang tumbuh baik sekalipun dengan tanah ber-ph rendah dan juga mengandung alumunium yang tinggi. Selain itu, dengan posisi tumbuhnya yang ada di dataran tinggi membuat terpaan badai dan cuaca ekstrim merupakan kondisi sehari-hari yang harus dihadapi oleh tanaman ini.

Cantigi kami terlahir dengan segala tantangannya, ibunya pejuang hebat yang rela melakukan apapun untuk anaknya. Perjuangan itu bahkan dimulai sebelum cantigi ada di rahim ibunya. Ibunya penyintas vaginismus, kondisi langka ini membuat kami harus berjuang lebih ekstra agar cantigi bisa lahir di dunia. Sampai akhirnya di tahun ke dua pernikahan kami cantigi muncul menghibur kami dengan tanda dua garis di test pack yang kami beli.

Hingga akhirnya di bulan ke lima cantigi bermukim di rahim ibunya, Cantigi harus menerima kondisi ibunya yang lumpuh karena diserang banyak penyakit. Sampai dengan kelahirannya, Cantigi harus menerima dirinya menjadi piatu di usia satu bulan satu minggu.

Beragam tantangan Cantigi membuat kami semakin yakin untuk memilih nama ini melekat erat pada anak kami.

Harapan dari nama yang kami beri adalah, utamanya pasti Cantigi bisa kuat dengan segala kondisi yang dia alami nanti. Cantigi bisa beradaptasi dengan kondisi di sekitarnya bahkan dalam situasi terburuk pun. Selain itu harapan kami dari pemberian nama Cantigi agar nantinya cantigi besar bisa membawa manfaat bagi orang sekitarnya. Cantigi ngga harus terlihat hebat untuk bisa bermanfaat.

Zahira – Menyalurkan keinginan saya apabila mempunyai anak perempuan dengan nama Zahra, akhirnya Zahira yang kami pilih. Zahira merupakan kata yang diambil dari bahasa arab dengan arti, cemerlang/bersinar. mengapa tidak jadi memilih zahra alasannya sangat sederhana, zahra artinya bunga dan cantigi tanaman. terlalu banyak flora dalam satu nama. -hahaha

Zahira dipilih dengan harapan buah hati kami berdua bisa cemerlang dengan segala hal yang dimiliki. Sebagai individu yang berdiri sendiri Zahira dapat memilih apa yang ia mau pilih, menjadi apa yang ia mau, semoga tidak banyak intervensi dan tuntutan dari orang-orang di sekitarnya. Zahira bisa bersinar dengan caranya sendiri.

Prameswari – Suku kata ketiga ini mengambil sanskrit jawa. hal ini merupakan permintaan dari sang ibu agar Cantigi tau darimana ia berasal. darah yang mengalir dalam tubuhnya adalah darah jawa, jadi sang Ibu yang besar di Ibu Kota mengharapkan anaknya memiliki kejawaan yang setidaknya sudah tersemat di namanya.

Selain itu Prameswari juga merupakan pelarian dari sang bapak yang berkeinginan untuk membuatkan nama anak laki-lakinya pramoedya. Karena perempuan, jadilah Prameswari dipilih agar tetap ada unsur Pram di namanya. Terkesan memaksa memang untuk alasan ini.

Prameswari berdiri atas harapan kami agar nantinya Cantigi bisa menjadi pribadi selayaknya permaisuri, atau wanita yang agung. Setelah harapan kami di nama pertama dan kedua yaitu Cantigi bisa menjadi kuat, bermanfaat dan menjadi penerang. Sebagai seorang wanita unsur kelembutan ala wanita yang agung semoga tetap menjadi ciri khas dari anak kami. Prameswari seperti menjadi perangkum dari do’a yang kami sematkan di suku kata pertama dan kedua.

Mungkin sementara ini dulu yang bisa saya ceritakan. Semoga bisa cukup untuk jadi bahan bacaan cantigi nanti ketika dia sudah bisa baca tentunya. dan yang terpenting, semoga apa yang kami harapkan ini tidak menjadi beban buat anak kami.

Kehilangan Nisa

Perpisahan adalah pencuri yang handal, karena selain mengambil sosok yang kita cintai ia juga mengambil kebahagiaan dan semangat hidup orang yang ditinggalkan. Memutar kembali kenangan merupakan satu-satunya aktivitas yang bisa dilakukan bersama pasangan, walau tak berasama tentunya. Menahan rindu dan menyalurkannya ke aktivitas lain merupakan kesibukan baruku untuk meralirkan diri dari kerinduan.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai