Lombok – Perjalanan Untuk Melupakan

“Nis, Tema perjalan sekarang pokoknya menuju kuat 2018 ya nis!”  ucapku pelan penuh keyakinan. 

 Denpasar, (sekitar) 4 Desember (an) 2017.

Entah darimana, yang pasti lagi diatas motor dan di lampu merah Jalan Tukad Yeh Aya ajakan dari Nisa (27) berawal. Yang bersangkutan ber-ide buat ngabisin jalan aspal  Denpasar – Lombok dalam rangka menghabiskan jatah liburan akhir tahun dari kantor kami. Oiya, Nisa juga berkantor di kantor yang sama yaitu WWF – Indonesia SBS. Jatah libur akhir tahun yang menjadi hak kami adalah lima hari kerja (25 – 29 Desember 2017)  kurang lebih, total satu minggu lebih kami bisa off kalo digabung sabtu minggu.

Kembali ke soal ajakan Nisa. Jadi Nisa punya ide untuk liburan ke Lombok itu karena ada temennya juga disana. Temen masa kuliah dia di Universitas Indonesia. Lumayan sih, adanya kenalan di tempat tujuan perjalanan itu sangat menghemat cost-mu (hahaha). Perjalanan ini memang kami konsepkan dengan standar low-budget atau sering dikerenin dengan istilah backpackeran. Rencana perjalanan disusun oleh tim bentukan Nisa yang terdiri dari tiga anggota yang dipimpin sama Nisa sendiri. Anggota tim Perumusan Persiapan Perjalanan Keliling Lombok (P3KL) – istilah yang saya buat sendiri – ini antara lain, Nisa sekaligus ketua rombongan, Nobi, dan Tika. Beragam rencana perjalanan hadir silih berganti, malahan ada wacana buat lanjut ke Sumbawa pula. Hebatnya cewek-cewek ini, batinku.

Rencana perjalanan dari Bali kami susun mulai dari waktu keberangkatan, jumlah orang yang akan terlibat, kendaraan dan jalur yang akan kita lewati. Perjalanan kami rencanakan dimulai tanggal Sabtu 23 Desember 2017 dari Denpasar, dan beat putih andalan Nisa yang akrab dipanggil Sambit oleh si penunggangnya kita pilih untuk mengantarkan kami. Sambit lebih kami percaya daripada si biru andalanku, dengan alasan Sambit punya ruang didepan khas motor matic untuk naruh tas jadi perjalanan lebih nyaman dan menyenangkan. Platform whatsapp dipilih oleh P3KL untuk saling komunikasi antar Bali – Lombok. Saya memilih untuk ngga jadi anggota P3KL, dengan alasan mengurangi jumlah kepala di dalemnya jadi harusnya lebih gampang sih ya mutusin rencananya, tapi ternyata enggak!.

Ini bukan pertama kaliku main ke lombok. tapi ini kayanya pertama kali sih kesini murni untuk main.

Denpasar, 7 sampai 1 hari sebelum keberangkatan

“Sambit harus diservis dulu nih, biar prima berangkatnya”

Itenerary masih belum beres juga. Jumlah orang masih berubah-ubah

Tempat bermalam masih “yha gampanglah dipikir nanti aja, adit gampang kan tidur dimana juga”

“DIT, HAPE AKU RUSAK DONG! (PANIK)”

Dapet pinjeman tab dari mba Nur

servis hape, tapi ngga beres beres (PANIK – 2)

Beli carrier eiger yang 35L

Makan bakso di Bakso Mahkota, trus si Aditnya akhirnya dimasukkin ke dalem grup “kuy ga nih” karena Nisa ngga bisa standby di tab terus. Yasudah ngalah.

 

Denpasar, 23 Desember 2017.

“Nis, berapa hari sih jadinya? ini tentang daleman” dan sepakat bawa tujuh unit + satu yang nempel.

Rencana awal 07.30 harus ngalah sama keadaan kita. Perjalanan Denpasar – PadangBai baru kita mulai sekitar 10.00 WITA dari kantor WWF di Renon. Saran sih kalo mau ke Padang Bai pas lagi cerah, mending mulai lebih pagi biar ngga kepanesan.

 

Padang Bai – Lembar

 

 

 

 

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai