Lama tidak muncul, dan ternyata kita sudah di sini. Di awal tahun ini, ya tahun 2018.
Tahun lalu pergi belum genap 24 jam. Tapi sudah terasa sangat jauh. pun dengan segala cerita dan kenangannya. tiga ratus enam puluh lima hari – jika merujuk perhitungan matematika – di tahun 2017 sudah berlalu, dan mari bersiap untuk 365 hari berikutnya.
Menulis ini memaksa otak kembali kepada aktivitas memilah kenangan yang sudah-sudah. dan sialnya hanya ada satu kisah yang paling terngiang, AH!.
Tahun ini menjadi tahun pertama berkesempatan ke kepulauan Kei di Maluku. Subhanallah! asik. Perjalanan yang disertai dengan pekerjaan tentunya. Ya! WWF yang membayarkan tiket dan akomodasi saya selama satu minggu bekerja disana. Disini saya bertemu dan bicara banyak tentang bagaimana kamu harus bersikap dengan pekerjaanmu, sesi yang diisi oleh manager di divisi general support berlangsung dengan khidmat disela makan malam maupun disela makan siang. dilengkapi dengan dua hari tambahan liburan – yang tentunya kami bayar dengan biaya sendiri – ke pulau ba’ir dan bermalam di pantai pasir panjang.
Selain Kei, ada beberapa tempat yang jadi tempat perjalanan pertama kali juga, diantaranya: Nusa Penida (ini selama 23 tahun hidup di bali, baru pertama kali kesini inih!), Bromo, Alor, Gili Trawangan dan sekitarnya. Dan juga beberapa tempat ulangan antara lain: Jogjakarta, Lombok, Malang, dan Kupang. Beragam kegiatan, mulai dari pekerjaan, keharusan ikut test CPNS, sampai memang pingin buang uang. Semuanya berkesan, karena disetiap perjalanan selalu ada cerita yang bisa disiapkan untuk diceritakan ke siapapun.
2017 menyisakan duka juga, salah satu teman terbaik harus mendahului kami. Om Christian Holeng, General Support untuk tim WWF LSS harus pergi. Kepergian om Tian semakin menyadarkan saya, sebagai seorang manusia kita ngga bisa menerka sama sekali kisah kita. Pribadi yang terlihat prima, pribadi yang tidak merokok disetiap harinya, ternyata lebih sakit daripada pribadi lain yang acuh tak acuh dengan dirinya sendiri. dan dengan segala cerita dari Om Tian, Tuhan memberikan akhir yang baik mungkin bagi mendiang maupun keluarga. Sebagai manusia memang sudah menjadi kewajiban kita untuk berprasangka baik dengan rencana Yang Maha Segalanya.
Selamat jalan Om Tian! Ko orang baik om, kami ngga akan lupa!
Tahun ini juga diselipkan beberapa kali kegiatan luar ruangan. Ada camp di danau tamblingan, ndaki dan nge-camp di Gunung Agung, Gunung Batukaru, Bukit Pergasingan di Lombok, snorkeling di amed, serangan, juga di bali Barat. Semuanya menghitamkan raga yang memang sudah gelap. Paling berkesan memang puncak sih. ah, semoga 2018 ada salah satu dari tujuh puncak yang bisa kutengok, atau bahkan jangan cuman satu. semoga lah.
di tahun ini juga merupakan saat dimana pendewasaan saya benar benar teruji. satu alasan yang membuat saya cukup masygul. kebersamaan selama delapan tahun harus terhenti di tahun ini. Perpisahan yang tidak terlalu apik, setidaknya itu menurut saya. Tergantikan itu lebih menyesakkan daripada ditinggalkan. Tanpa temu, hanya berujung di chat WhatsApp. untuk urusan perpisahan seharusnya memang sudah saya siapkan dari waktu yang sudah cukup lama, namun entah kenapa saat tiba waktunya justru rasanya beda, ngga sesiap yang seharusnya. Marah, sakit hati, bingung bercampur saat itu.
Tapi makin kesini, semakin berasa kalo Allah itu baik banget. sudah ditunjukin bahwa jawaban dari permintaan hambaNya ini bukan Ya atau Nanti, tapi Jangan yang itu, ini nih yang lebih baik. yah walaupun yang “ini nih” belum dateng sih, tapi saya yakin kalo yang sebelumnya itu memang bukan yang baik untuk saya menurut versiNya. Satu hal yang saya inget pesen dari bapak, “jangan benci sama dia, wong selama ini juga udah banyak baik sama kita”. Siap Pak! dan akhirnya saya masih tetap bisa hidup dengan bahagia sentausa. Sehat selalu ya kamu!
Di Tahun ini juga lebih luas lagi, alam Bali lagi bergejolak. Gunung Agung beberapa kali erupsi, Bali jadi beberapa hari meningkatkan status rawan bencananya. Pariwisata Bali sempat menurun kadar kebahagiaannya. hotel hotel sepi, tempat hiburan juga sendu, para pengungsi sih yang paling pilu. mereka harus pulang untuk sekedar liat ternak masih sehat ngga, atau bebersih rumah alakadarnya. tapi apa daya mereka juga ngga bisa mengira-ira kapan kira-kira puncak erupsi. mereka hanya bisa berdoa. ya, BERDOA.
Dan lebih meluas lagi, tahun ini kondisi politik di Indonesia dan dunia memburuk. Isu SARA menyeruak, toleransi hilang, ke-indonesiaan menjadi abu-abu. Banyak pihak yang memanas-manasi situasi ini. Entah tujuan akhirnya apa yang jelas, buruk.
Di Dunia, tahun 2017 ditutup dengan statement Trump soal Jerussalem. Pengakuan ini memperkuat pengakuan Israel sebagai negara. Statement resmi presiden Amerika Serikat ini menggemparkan politisi dunia. Bahkan beberapa anggota PBB juga sudah menentukan sikap untuk tidak mendukung sikap dari Amerika Serikat ini.
Ini beberapa hal yang bisa saya ingat selama tahun 2017. Tahun ini ditutup dengan akhir perjalanan yang baik saya rasa. Dan tulisan ini ditulis dengan tujuan menjadi pengingat dikemudian hari bahwa ternyata minim alasan untuk ngga bersyukur dengan semuanya. Satu yang perlu diingat adalah Allah adalah bagaimana kita berprasangka denganNya. Ketika kita yakin, maka itu akan terjadi (apapun itu).
Dan untuk 365 hari kedepan, semua masih misteri. Namun yang jelas harus lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Sudah ada beberapa rencana untuk bagaimana nanti hidup di tahun ini. Semoga rencana itu bisa berjalan dengan baik. dan selalu dipertemukan dengan orang baik pula.
Banyak semoga yang ingin saya ucapkan. Tapi sepertinya lebih baik diurungkan. Biarkan menjadi rahasiaku dan Nya di akhir sholatku, atau sepertiga malamku. semoga.
“yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Yang hancur lebur akan terobati. Yang sia-sia akan jadi makna, yang terus berulang suatu saat akan terhenti, yang pernah jatuh akan berdiri lagi, yang patah tumbuh dan yang hilang berganti”.
-Banda Neira – Yang Patah Tumbuh yang Hilang Berganti-

Alhamdulillah, sekali lagi terima kasih untuk semuanya.