
Kalo qe tau ya dit, banyak diksi yang kita pake tu bahasa asing daripada bahasa indonesia. Contohnya kita lebih familiar dengan kata Apartment daripada wisma, lebih seneng pake kata download daripada unduh, lebih milih upload daripada unggah. Padahal bahasa kita kaya banget kalo kita mau sadar dan make! – Nizar
Ngga semua orang yang mungkin sadar tentang terancamnya kedaulatan bahasa kita ini, saya salah satunya. Menjadi orang Indonesia sejak lahir membuat kita terlalu nyaman dengan keadaan bahasa kita. Sehingga kita menjadi kurang peka terhadap keberadaannya. Banyak istilah-istilah bahasa Indonesia yang posisinya mulai tergantikan oleh istilah-istilah bule. Bahkan kita sering dibuat bingung dan ketawa sendiri kalo ditanya bahasa indonesia dari istilah asing yang kita pake justru kita sampe lupa atau bahkan ngga tau, contohnya: mungkin ada diantara kita yang kurang ngeh istilah bahasa indonesia dari email itu apa(?).
Seminggu lalu, Kak Nizar (23 tahun) ini tumben ke rumah saya. Tujuannya, buat berbagi dan ngisi formulir bareng tentang program dikti ‘Menyapa Negriku. Ya, kita berdua punya rencana buat ikutan itu, jadi kita sharing aja tentang peluang daerah yang kita pilih sama rencana ke depannya. Saya lupa alasan kenapa si sarjana pendidikan yang lagi menempuh studi S2-nya ini mau ikutan program turun ke daerah pelosok, padahal dia ini salah satu orang ‘super kota’ yang pernah saya kenal. Dalam proses pemilihan daerah penempatan, kami dibuat bingung tentang makanan dan tempat ibadah kalo kira-kira nanti kita keterima di daerah pelosok (padahal belum tentu kepilih juga’. hhaha). Akhirnya saya juga lupa dia milih dimana dan saya memilih untuk ditempatin di Aceh, Ende, dan Raja Ampat, kalian taulah alasannya apalagi kalau bukan instagramable nya.
Prosesi pengisian form dan ngobrol tentang program ini terpaksa diputus oleh padamnya listrik di rumah saya. Engga mau rugi waktu karna jarang ketemu, babibu ini kami lanjut dengan beberapa obrolan tanpa nilai dan makna. Sampai akhirnya kita ketemu di satu topik yang menarik. Kalo saya tarik judul ilmiahnya, kurang lebih jadi seperti ini: Ancaman Keutuhan Bahasa Indonesia di Era Global. Studi Kasus: Berkurangnya Minat Pemuda Indonesia Menggunakan Bahasa Lokal.
Bahasa pada dasarnya tidak dapat terpisahkan dari dua konteks yaitu konteks sosial dan budaya. Dalam konteks sosial, bahasa merupakan suatu bentuk perilaku sosial yang digunakan sebagai sarana komunikasi yang menunjang interaksi antar individu. Dalam konteks budaya, bahasa merupakan sarana untuk mengekspresikan nilai budaya bagi masyarakat yang menuturkannya.
Bagi Nizar, penting bagi masyarakat indonesia terutama anak mudanya untuk mulai menumbuhkan kepedulian mereka terhadap bahasa indonesia. Perlunya mempertahankan kedaulatan bahasa Indonesia ditujukan agar bangsa Indonesia tidak terbawa arus pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan bahasa dan budaya bangsa Indonesia. Sebagai sarana komunikasi, bahasa merupakan salah satu identitas bangsa yang paling mudah untuk digoyah oleh perkembangan global. Menurunnya kepedulian anak muda terhadap bahasanya akan berpengaruh terhadap masa depan budaya kita. Hal ini dikarenakan pola pikir anak muda akan lebih merasa keren apabila memilih budaya asing yang dianggap lebih gaul.
Efek dari fenomena tersebut beragam. Salah satu dampaknya adalah seperti yang sudah disebutkan diatas, yaitu dapat menjadikan anak muda tidak percaya diri lagi untuk menggunakan budaya aslinya. Dengan menggunakan bahasa asing yang lebih gaul, anak muda akan sedikit demi sedikit menganggap penggunaan bahasa asli mereka menjadi kurang gaul atau takut dicap ‘kampungan’ apabila kita tidak menggunakan apalagi tidak tau istilah asing. Sehingga, saat ini kita bisa melihat beberapa bahasa asli kita mulai kehilangan tempat dalam setiap penggunaannya baik lisan maupun tulisan.
Apabila hal ini terus menerus terjadi, maka bukan tidak mungkin jika generasi muda bangsa kita akan mulai meninggalkan segala hal yang diproduksi dalam negeri mereka. Kebiasaan mereka untuk selalu menerima tanpa memfiltrasi atau menyaring terlebih dahulu budaya asing yang datang akan membuat psikologi mereka terbiasa menerima. Terlebih jika mereka selalu menganggap apa yang berasal dari luar negeri akan lebih keren, kreatifitas anak negeri akan sedikit demi sedikit tereduksi karena tidak ada lagi yang memberi apresiasi. Kita akan terus menjadi anak muda yang berada dalam posisi nyaman dengan import produk asing apapun bentuknya (bahasa, budaya, barang, gaya hidup, dan lain sebagainya). Sehingga kita tidak lagi terdorong untuk berkreasi.
Kembali ke persoalan bahasa, Nizar sebagai sarjana pendidikan mempunyai tekad untuk kembali mengeksistensikan bahasa indonesia untuk digunakan sebagai bahasa sehari-hari. Bahkan anak muda ini bercita-cita untuk menginternasionalkan beberapa kata maupun suku kata dari bahasa indonesia. Bagi dia, kedaulatan bahasa merupakan salah satu aspek penting paling fundamental apabila kita mau mempertahankan keberadaan dan eksistensi dari budaya dalam negeri kita.
Semoga tujuan muliamu bisa segera terwujud kak! Saya mendukung.
*nb: email bahasa kitanya adalah surel atau surat elektronik. Saya baru tau ini, hahaha.
Pemuda berdarahPakistan ini adalah alumnus dari S1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Bahasa Inggris) di Universitas Pendidikan Ganesha Denpasar dan saat ini sedang berjuang untuk mendapatkan gelar Magister Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Ganesha.