Bergerak, Berserikat dan Berkumpul

November telah tiba.

Senin ini saya mulai dengan aktivitas rutin. Bangun jam 5 pagi untuk solat subuh, dilanjutkan dengan kembali tidur untuk terbangun lagi pukul 7 dan snoozing alarm sampai pukul 8 (ini bukan untuk ditiru kawan). Andaikata ibu sang fajar ngga teriak nyuruh mandi karna khawatir air mati lagi, mungkin saya masih nggeletak kaya baju kotor di kasur. Ya, rumah saya di daerah padang sambian beberapa minggu ini sering dapet giliran pemadaman air dari PDAM. Walaupun saya suka kesel sama rutinitas pemadaman bergilir ini tapi saya tetep memilih pake jasa mereka buat ngalirin air ke rumah. Ngebor sumur kayanya bukan pilihan bijak buat daerah rumah saya yang rata-rata sudah di paping, kasian air tanahnya habis di sedot tapi ngga dapet suplai dari atas tanah (logika saya sih bilang gitu, kurang tau ya teorinya bener engga).

Ritual mandi udah beres, hari ini saya menghabiskan kurang lebih 15 menit dari waktu hidup saya untuk mandi. Sekedar saran aja, Handphone / gadget di kamar mandi emang ganggu banget, kurang-kurangi melibatkan mereka dalam kegiatan MCK dan waktu hidupmu akan lebih berguna.

earphone sudah terpasang, scanning frekuensi dan yang terpilih 101.2 fm buat denger “mata sapi” sepanjang perjalanan rumah – ubud. Sebenernya pake earphone selama perjalanan yang menggunakan motor itu dilarang sob, karna ya emang bisa ganggu konsentrasi kita. Tapi ada daya, jarak rumah ke kantor sekitar 21 KM lumayan bikin ngantuk kalo ngga ada hiburan selama perjalanan, hehehehe. Okke, salim sama emak udah, sarapan sudah, bekel sudah masuk tas, semua keperluan juga sudah masuk tas, kunci sudah di motor, gas motor udah ditarik.

Hari sudah dimulai.

Selama perjalanan, banyak ide yang muncul dan membuat jari saya pingin balik kesini lagi. Nasib baik, karna kesibukan kantor lagi agak mereda jadi hasrat jaripun bisa tersalurkan. Salah satu alasan kenapa pingin nulis lagi adalah selama perjalanan tadi si dj mata sapi sedikit membahas tentang salah satu kegiatan sosial (yang saya lupa jenis kegiatannya apaan) dengan tujuan menghimpun dana bantuan untuk masyarakat Indonesia yang daerahnya lagi apes diselimuti jarebu. Beberapa daerah di Indonesia khususnya bagian barat memang beberapa bulan terakhir lagi kena bencana kabut asap. Penyebabnya adalah kebakaran hutan yang terjadi di beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan serta kemarau panjang sehingga hujan tak kunjung datang. Sehingga kita kembali menjadi exportir asap terhebat di dunia.

Kalo kita bicara tentang penyebab kebakaran yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan memang sudah pasti bakal gampang banget buat ditebak siapa dalang dibalik ini semua. Ya, perusahaan kelapa sawit yang mau meluaskan lahan sawit mereka, pemerintah daerah yang kurang peka terhadap kebijakan tentang perlindungan hutan, dan yang paling utama adalah masih rendahnya tingkat kepedulian manusia terhadap keadaan alamnya.

Dari obrolan sama temen dagang bakso yang pernah ke kalimantan dan liat keadaan lahan disana saya sedikit dapet informasi kenapa para investor memilih kelapa sawit sebagai komoditi dan metode membakar hutan untuk perluasan lahannya. Tekstur tanah gambut yang ada di Kalimantan memang membuat  masyarakat sulit untuk menanam tanaman pangan. Mas Zitni bilang dalam jawanya yang sudah saya terjemahkan, “soalnya di lahan gambut ada unsur sejenis logam yang dalemnya ngga kurang dari 50 cm dari permukaan tanah jadi buat beberapa taneman ga bisa tumbuh disini, dit”. Itu alasan kenapa di Kalimantan sedikit orang yang bisa nanem tanaman pangan, kalopun ada yang bisa memanfaatkan lahan gambut ini biar bisa ditanami tanaman pangan itu perlu anggaran tinggi dan membuat masyarakat lebih melihat kelapa sawit sebagai komoditi menjanjikan.

Masnya juga bilang alasan kenapa pengusaha-pengusaha milih bakar hutan. Soalnya kalo pake buldozer itu mahal biayanya dan sulit karna medan gambut engga kaya’ tanah pada umumnya yang padet, jadi cuman beberapa aja yang pake buldozer, selebihnya pake cara yang lebih instan yaitu bakar hutannya.

Kenapa kok biasanya bakar hutan juga, tapi ngga sebanyak ini asapnya?

jawabannya karena sekarang hujannya ngga turun-turun. Kalo biasanya habis dibakar paling tiga bulan berikutnya udah hujan, kalo sekarang kemaraunya panjang jadi makin memperparah keadaannya. Bahkan beberapa hutan juga jadi kebakar alami karna ngga ada hujan. Pohonnya meranggas, rantingnya pada saling gesekan, jadi muncul api terus kebakaran juga.

Okke kita beralih lagi.

Selepas tadi bahas tentang penyebab asap. Disini saya juga pingin bahas keyakinan saya tentang akan selalu ada hikmah dibalik musibah. Setiap ada musibah yang terjadi saya selalu berkeyakinan “Sang Arsitek” kehidupan pasti punya rencana nan indah. Sampai sekarang hal ini selalu terbukti.

Bencana asap taun ini menurut saya berhasil menyatukan masyarakat kita yang semakin hari semakin merenggang hubungannya. Perselisihan setiap hari ada terus, perdebatan tentang perbedaan prinsip selalu muncull, setiap hari gengsi selalu dilombakan, kepentingan pribadi yang selalu diutamakan. Bencana yang terjadi kali ini seperti oase di tengah gurun kering, kalo kita ibaratkan. Gurun kering ini ibarat dari keadaan sosial yang tadi saya jelaskan, dan oasenya adalah bencana asap. Ya, karena bencana ini muncul beragam aksi sosial. Konser amal, aksi turun ke jalan yang dilakukan aktivis untuk meminta sumbangan ke setiap pengendara, penjualan produk yang sebagian keuntungannya diperuntukan bagi korban asap, penanaman pohon, revitalisasi hutan, dan program serta kegiatan lain lah.

Walaupun aksi yang dilakukan beragam mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu mengurangi penderitaan yang dialami oleh para korban asap disana.

Pasca bencana ini saya sangat berharap karakter ini tidak berubah. Bisa mulai berpikir untuk tanggap bencana jangka panjang, Bisa selalu meningkatkan kepedulian terhadap sesama, menyampingkan ego dan kepentingan pribadi, mau bergerak bersama untuk menyelesaikan masalah Indonesia tanpa harus menunggu ada bencana yang datang melanda.

setidaknya kita bisa memulai dari hal yang paling kecil. yaitu ikut bergerak mencari dan memberi solusi. ayo sama sama berdoa, semoga kita lekas sembuh dan bisa main lagi ya.

Oiya satu lagi, semoga kita semua bisa selalu peduli sama alam sekitar ya. Sumpah ngeri aja mbayangin kalo keadaan kaya’ gini terus menerus terjadi sampe 20 tahun ke depan.

Amin.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai