LKMM TD FISIP UNUD

IMG-20151121-WA0004_(2)[1]
Moderator, Gubernur BEM FISIP, sama Ketua Panitia

Pernah bergelut di organisasi mahasiswa ketika masa kuliah membuat BEM FISIP UNUD lewat panitia LKMM-nya menghubungi saya untuk menjadi pembicara di acara pelatihan kepemimpinan dan manajemen dasar untuk mahasiswa. Setidaknya itu yang mereka utarakan kepada saya ketika saya tanya mereka terkait alasan mengapa menunjuk saya untuk sharing pemikiran dengan sub-tema “Membentuk Jiwa Muda Revolusioner pada Era Kontemporer”. Adalah Putri Cahya sebagai ketua panitia acara, orang pertama yang menghubungi saya meminta untuk mau berbagi cerita ke peserta LKMM TD, yang kemudian diikuti panitia humas untuk masalah undangan, Diah LG untuk masalah tor plus materi dan pak gub – mas Arif untuk masalah haha-hihi.

***

IPD – Sabtu, 21 November 2015 / 10.00

Setelah berjuang untuk bangun pagi pasca perhelatan UJF yang pecah ambyar di malam sebelumnya, akhirnya saya bisa dateng tepat waktu ke lokasi LKMM berlangsung. Padang Sambian – Bukit, jimbaran yang biasanya memerlukan waktu tempuh sekitar 3/4 jam ternyata untuk hari ini bisa saya tempuh setengah jam, suatu pencapaian fantastis menurutku. Sesampainya di IPD, saya disambut panitia yang cukup cantik di meja registrasi, ternyata ini Diah LG yang di hari itu sekaligus menjadi moderator ku.

“Keputusan tepat untuk ngga ngajak febi kesini”, batinku.

Setelah pamit ke toilet sebelum saya memilih untuk masuk ke ruangan langsung dan menolak tawarannya untuk ke ruang tunggu pembicara terlebih dahulu. Berdalih pingin liat Clara-presma bem pm sebagai pemateri pertama, saya masuk ke ruangan acara berlangsung. Clara membawa materi dengan apik ngga keliatan kalo dia baru tidur 3 jam sebelumnya karna afgan. Selain itu, ngga nyangka juga kalo dia dulu pernah jadi anak baru di kampus, sekarang udah berubah. hha

Sesi pertama selesai, tiba waktuku ke depan untuk sesi kedua. Berbekal materi di TOR, saya mulai membawa materi dengan sub tema “Membentuk Jiwa Muda Revolusioner pada Era Kontemporer”.

***

Materi saya awali dengan keadaan pemuda sekarang.

Bicara tentang pemuda dan kepemimpinan, memang merupakan dua hal yang tidak terpisahkan akhir-akhir ini. Melihat keadaan bangsa sekarang, memang bukan berlebihan kalo kita para pemuda diharapkan mampu muncul membawa harapan baru, muncul dengan semangat baru, membawa ide baru. Mengutip quote Anies Baswedan – Anak muda itu memang minim pengalaman, maka dari itu mereka tidak menawarkan masa lalu. Mereka menawarkan masa depan. Ungkapan tersebutlah yang memunculkan kembali rasa optimis terhadap keberlangsungan negri sekaligus menjadi barometer untuk menyiapkan motor-motor penggerak bangsa di masa mendatang.

Namun, jauh panggang dari api. Peran pemuda di era ini masih belum terlihat mengambil andil dalam upaya memperbaiki wajah politik dan carut marutnya sistem yang ada di negara kita. Pemuda yang diharapkan mampu menjadi ujung tombak dalam perubahan nasib, justru tidak beripikiran tentang nasib bangsanya. Kondisi pemuda saat ini seperti kehilangan jati diri sebagai cendekiawan muda, mereka terjebak dalam gaya hidup yang pragmatis.

Memilih jalan pintas untuk mencapai segala keperluan mereka, anak muda sekarang terjebak dalam lingkaran kapitalisme global yang merasuki segala sendi kehidupan. Kita sedang dijajah oleh negara asing dengan bentuk yang berbeda. Jika dahulu kita dijajah dengan militer saat ini kita sedang dijajah oleh 3F yaitu Food, Fashion dan Fun yang mana tiga hal tersebut merupakan bagian dari yang sering kita sebut sebagai gaya hidup atau lifestyle. Menganggap apa yang berasal dari luar negeri itu lebih keren apapun itu bentuknya. Sehingga pemuda mulai kehilangan jati diri lokalnya.

Dampak dari penjajahan tersebut adalah anak muda (pelajar dan mahasiswa) sekarang ini, banyak yang tidak lagi memiliki sikap kritis, banyak memilih hidup hura-hura, menjadi mahasiswa “kupu-Kupu” atau Kuliah Pulang-kuliah pulang daripada ikut organisasi yang sibuk dengan diskusi-diskusi.

Selain itu, ada dampak lanjutan dari terjebaknya pemuda dalam gaya hidup yang pragmatis adalah membuat pemuda kita akan lebih memilih untuk tidak tersingkir dari kehidupan yang elitis daripada hidup dengan idealis. Mengambil apa yang bermanfaat dan berguna bagi mereka dan tidak mempedulikan serta mengabaikan segala hal yang tidak memunculkan manfaat baginya walaupun dapat membawa banyak manfaat bagi sekitarnya.

Hal ini juga yang menjadi satu alasan mengapa saat ini sangat sedikit mahasiswa yang mau memberikan sedikit perhatian mereka terhadap carut marutnya keadaan bangsa saat ini. Padahal menurut pengamatan mata bodoh saya, pemuda kita ini memiliki karakter yang cukup unik yaitu karakter mereka yang ‘latah’. Latah dengan segala hal yang sedang hits, latah dengan segala hal yang sering muncul di media. Andai saja ada yang membuat diskusi tentang buku dan debat-debat politik sederhana menjadi tren anak muda, mungkin kehidupan kampus akan lebih berdinamika disana. Khususnya kehidupan kampus di Bali – tempat saya berkuliah. Sayang, tren jalan-jalan ke tempat makan hits sambil gosip sana-sini yang lebih dominan disana (termasuk saya).

***

Membawakan materi tentang kepemimpinan di acara ini saya sedikit ingin menghubungkan fenomena tersebut dengan, bagaimana sebenarnya mahasiswa harus barkontribusi sebagai calon pemimpin masa depan. Ya, pemuda lah yang harus berperan atas keberlangsungan negara kita ini. Kitalah yang masih punya ide-ide kreatif, tenaga kita masih segar, waktu kita masih banyak, dan yang terpenting adalah kita ngga punya pengalaman masa lalu yang suram. (hahaha)

Fungsi kita adalah sebagai suplier utama kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan sosial. Hal utama yang akan saya tekankan disini adalah mahasiswa sebagai agent of change. Sebagai agen perubahan, ini dapat diwujudkan dengan mengembangkan pendidikan politik dan demokratisasi, sumberdaya ekonomi, kepedulian terhadap masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi, olahraga, seni, dan budaya, kepedulian terhadap lingkungan hidup, pendidikan kewirausahaan, serta kepemimpinan dan kepeloporan pemuda.

Ide-ide dan semangat baru yang kita tawarkan akan sangat berguna bagi perubahan, sob.Bayangin aja kalo semua sendi yang saya sebut di paragraf sebelumnya itu bisa kita kelola secara maksimal dan tanpa kepentingan segelintir pihak, bukan tidak mungkin kalo kita bisa semakin berdikari. Kitalah yang punya tanggung jawab untuk menciptakan terobosan-terobosan baru dengan gaya yang lebih fresh dan dapat diterima di semua kalangan.

Namun, Pemuda tidak akan mempunyai semangat yang abadi dalam pembangunan Indonesia melalui perubahan, bila bekerja secara sendiri. Oleh karena itu, diperlukan komunitas yang konsisten dengan perubahan tersebut. Disinilah kemudian lahir peran organisasi dalam mewujudkan tujuan pemuda dalam membangun Indonesia. Organisasi yang dimaksud tidak hanya organisasi yang terlihat saja, tetapi juga organisasi yang terselubung. Dalam organisasi akan lahir diskusi-diskusi dan budaya yang mendukung adanya sebuah perubahan. Perubahan di lingkungan sekitar hingga skala yang paling luas sekalipun sehingga organisasi dapat dianalogikan sebagai “kendaraan” pemuda sebagai agent of change (agen perubahan).

Pemuda Indonesia harus berani melakukan otokritik, sekaligus membenahi diri, meningkatkan kualitas sumberdaya manusianya, dan siap berkiprah di tengah-tengah masyarakat, mewarnai di berbagai lini kehidupan bangsa. Bangsa ini membutuhkan peran dan sumbangsih kalangan pemuda secara nyata, sehingga tentu sesungguhnya tugas dan peran pemuda tidaklah ringan. Pemuda Indonesia diharapkan mampu mengambil setiap peluang yang ada dan memanfaatkannya secara baik, demi kemajuan bangsa.

***

Bicara tentang kepemimpinan, ini bukan melulu tentang bagaimana mencapai pucuk kekuasaan di suatu kelompok, organisasi ataupun komunitas. Karena yang terpenting dari kepemimpinan itu sendiri adalah sifat dan pola pikir kita. Teringat celetukan sederhana dari peserta LKMM kemarin yaitu “setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri”, ya! semua orang harus punya sikap kepemimpinan.

Sikap kepemimpinan memiliki dasar yang sederhana menurut versi saya, yaitu kritis, bertanggung jawab dan peka terhadap keadaan sekitar, bagi saya inilah elemen yang harus dimiliki setiap orang. Mengapa kritis, bertanggung jawab dan harus peka?

Kalau kita kembali ke sub sebelum bagian ini, saya sudah membahas sedikit tentang ekspektasi bangsa terhadap pemudanya, kita juga sudah membahas tentang degradasi moral yang terjadi. Dengan menjadi lebih kritis, niscaya semua generasi muda akan selalu melihat semua hal dengan sudut pandang yang berbeda dari sudut pandang orang pada umumnya. Pemuda yang berpikir kritis akan selalu mempertanyakan segala hal yang terkadang tidak pernah orang umum pikirkan atau justru orang umum itu enggan memikirkannya. Sekaligus mereka akan selalu mencari jawaban dari pertanyaan yang mereka utarakan sampai mereka puas. Itu sederhananya.

Abistu, bertanggung jawab. Setelah mengkritisi sesuatu, kita juga harus menyiapkan solusi yang akan kita tawarkan. Disinilah sifat bertanggung jawab itu diperlukan, dengan bertanggung jawab segala tindak tanduk kita tidak akan sembarangan. Kita akan selalu berfikir dua langkah lebih depan sebelum kita bergerak satu langkah. Ini yang membedakan pola pikir dari pemimpin dengan orang sembarangan.

peka akan saya bahas di paragraf ini. Peka akan akan menuntut kita untuk sensitif terhadap segala hal, apapun itu. Orang yang peka akan merasakan hal-hal yang tidak semua orang bisa rasakan dan tau, sehingga ini juga akan membantu kita bersikap dan mengambil keputusan apakah berdampak negatif bagi orang lain atau tidak. Orang peka juga akan selalu bertindak tanpa komando, karena mereka akan tahu harus berbuat apa lebih dahulu dari orang lain.

Terkait hal tersebut, maka dapat kita simpulkan bahwa apabila setiap generasi muda kita memiliki aspek fundamental (menurut saya) dalam dirinya maka ekspektasi Indonesia terhadap pemudanya benar-benar bisa terjadi. Tidak perlu menunggu situasi pemerintah collapse pemuda kita akan selalu menjadi agent of change dan agent of control, mereka akan lebih kreatif dalam melihat keadaan dan menanggapinya. Tidak lagi anti politik, tidak lagi antipati terhadap pemerintahan, mereka akan selalu punya cara kreatif dalam menanggapi permasalahan yang sedang terjadi di negri ini. Tidak perlu menunggu menjadi ketua atau pemimpin dari suatu organisasi, menjadi orang di bali layar juga akan bermanfaat.

Menjadi salah satu agen dari kontrol pemerintah juga bukan berarti dari sebagai pemuda harus menjadi oposisi permanen dari segala kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Yang harus diperbaiki dari kata oposisi permanen itu adalah, kita harus mengambil peran sebagai oposisi permanen dari segala kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat, jadi kita akan terus mengontrol kebijakan yang dibuat oleh pemerintah kita. Jika kebijakannya baik kita harus dukung, dan apabila tidak baik maka harus kita evaluasi.

Bagaimana kita mengevaluasinya? ya itu kembali ke minat kalian masing-masing, tidak harus turun ke jalan kok, masih banyak cara lain yang mungkin lebih efektif.

***

Selain tentang kepemimpinan, dalam kesempatan itu saya juga lebih banyak menegaskan bahwa kita juga harus ikut berperan dalam rencana pembangunan nasional. Caranya? gampang, cukup dengan kita harus sedikit keluar dari zona nyaman kita, kita harus membuka sedikit pola pikir kita, dan yang terpenting adalah kita harus terus berkarya sesuai dengan minat dan potensi yang kita miliki.

Bayangkan, kalau kita sadar banyak potensi dari bakat yang dimiliki anak muda kita justru dikembangkan oleh negara lain. kenapa? karena negara kita masih belum memberikan apresiasi terhadap pemuda yang berkarya. Ini mengakibatkan tereduksinya minat generasi muda kita dalam menciptakan suatu karya-karya. Kita masih terjebak dalam generasi serba instan, gamau mikir ribet. Jadi ayo kita mulai lah dengan sedikit menyibukkan diri kita dengan karya-karya kreatif dan juga sibukkan dengan kegiatan yang sesuai dengan minat kita apapun itu, seni, olahraga, bisnis, jurnalis, fotografi, atau apapun itu. Siapa tau kegiatan kita itu bisa memberi sumbangsih lebih kan.

***

Melihat kenyataan tentang degradasi moral yang dialami pemuda jaman sekarang, mungkin beberapa orang semakin tidak yakin dengan rencana pembangunan nasional kedepan. Karena kemajuan bangsa tidak akan dilihat dari kekayaan sumber daya alamnya saja, tapi seperti apa negara tersebut mengolah sumber daya manusianya.

Tidak dengan saya. Saya sangat yakin dengan bangsa ini kedepannya. Kemajuan signifikan sudah mulai terlihat, ini ditunjukkan dengan semakin banyaknya generasi muda yang mulai ikut terjun di dunia sosial dengan alasan ingin menjadi salah satu penyebab dari kemajuan bangsa kelak, entah kapan itu akan terjadi namun saya yakin itu pasti.

***

Kesempatan kala itu saya tutup dengan sedikit ajakan kepada semua peserta LKMM untuk menikmati masa kuliahnya dan mulai mencari jati diri. Sibukkan dirimu di organisasi yang sesuai dengan minat kalian, kembangkan semua potensi yang kalian rasa itu passion kalian, jangan sampai kalian menyesal dengan fase ini yang tidak kalian maksimalkan untuk itu.

Bangku perguruan tinggi adalah bukan melulu tentang belajar di kelas, tapi juga tentang bagaimana kalian menggembleng pola pikir kalian untuk terjun di masyarakat.

90 menit waktu yang diberikan sudah habis, sesi saya akhiri dengan pekikan

UNITY TO GLORY…. FISIP!!!!!

Belajar dari Seorang Sarjana Pendidikan: Aku Bakal Ngelindungin Bahasa dari Kepunahan.

Foto Kak Nizar yang saya ambil dari facebooknya.
Foto Kak Nizar yang saya unduh dari facebooknya.

Kalo qe tau ya dit, banyak diksi yang kita pake tu bahasa asing daripada bahasa indonesia. Contohnya kita lebih familiar dengan kata Apartment daripada wisma, lebih seneng pake kata download daripada unduh, lebih milih upload daripada unggah. Padahal bahasa kita kaya banget kalo kita mau sadar dan make! – Nizar

Ngga semua orang yang mungkin sadar tentang terancamnya kedaulatan bahasa kita ini, saya salah satunya. Menjadi orang Indonesia sejak lahir membuat kita terlalu nyaman dengan keadaan bahasa kita. Sehingga kita menjadi kurang peka terhadap keberadaannya. Banyak istilah-istilah bahasa Indonesia yang posisinya mulai tergantikan oleh istilah-istilah bule. Bahkan kita sering dibuat bingung dan ketawa sendiri kalo ditanya bahasa indonesia dari istilah asing yang kita pake justru kita sampe lupa atau bahkan ngga tau, contohnya: mungkin ada diantara kita yang kurang ngeh istilah bahasa indonesia dari email itu apa(?).

Seminggu lalu, Kak Nizar (23 tahun) ini tumben ke rumah saya. Tujuannya, buat berbagi dan ngisi formulir bareng tentang program dikti ‘Menyapa Negriku. Ya, kita berdua punya rencana buat ikutan itu, jadi kita sharing aja tentang peluang daerah yang kita pilih sama rencana ke depannya. Saya lupa alasan kenapa si sarjana pendidikan yang lagi menempuh studi S2-nya ini mau ikutan program turun ke daerah pelosok, padahal dia ini salah satu orang ‘super kota’ yang pernah saya kenal. Dalam proses pemilihan daerah penempatan, kami dibuat bingung tentang makanan dan tempat ibadah kalo kira-kira nanti kita keterima di daerah pelosok (padahal belum tentu kepilih juga’. hhaha). Akhirnya saya juga lupa dia milih dimana dan saya memilih untuk ditempatin di Aceh, Ende, dan Raja Ampat, kalian taulah alasannya apalagi kalau bukan instagramable nya.

Prosesi pengisian form dan ngobrol tentang program ini terpaksa diputus oleh padamnya listrik di rumah saya. Engga mau rugi waktu karna jarang ketemu, babibu ini kami lanjut dengan beberapa obrolan tanpa nilai dan makna. Sampai akhirnya kita ketemu di satu topik yang menarik. Kalo saya tarik judul ilmiahnya, kurang lebih jadi seperti ini: Ancaman Keutuhan Bahasa Indonesia di Era Global. Studi Kasus: Berkurangnya Minat Pemuda Indonesia Menggunakan Bahasa Lokal.

Bahasa pada dasarnya tidak dapat terpisahkan dari dua konteks yaitu konteks sosial dan budaya. Dalam konteks sosial, bahasa merupakan suatu bentuk perilaku sosial yang digunakan sebagai sarana komunikasi yang menunjang interaksi antar individu. Dalam konteks budaya, bahasa merupakan sarana untuk mengekspresikan nilai budaya bagi masyarakat yang menuturkannya.

Bagi Nizar, penting bagi masyarakat indonesia terutama anak mudanya untuk mulai menumbuhkan kepedulian mereka terhadap bahasa indonesia. Perlunya mempertahankan kedaulatan bahasa Indonesia ditujukan agar bangsa Indonesia tidak terbawa arus pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan bahasa dan budaya bangsa Indonesia. Sebagai sarana komunikasi, bahasa merupakan salah satu identitas bangsa yang paling mudah untuk digoyah oleh perkembangan global. Menurunnya kepedulian anak muda terhadap bahasanya akan berpengaruh terhadap masa depan budaya kita. Hal ini dikarenakan pola pikir anak muda akan lebih merasa keren apabila memilih budaya asing yang dianggap lebih gaul.

Efek dari fenomena tersebut beragam. Salah satu dampaknya adalah seperti yang sudah disebutkan diatas, yaitu dapat menjadikan anak muda tidak percaya diri lagi untuk menggunakan budaya aslinya. Dengan menggunakan bahasa asing yang lebih gaul, anak muda akan sedikit demi sedikit menganggap penggunaan bahasa asli mereka menjadi kurang gaul atau takut dicap ‘kampungan’ apabila kita tidak menggunakan apalagi tidak tau istilah asing. Sehingga, saat ini kita bisa melihat beberapa bahasa asli kita mulai kehilangan tempat dalam setiap penggunaannya baik lisan maupun tulisan.

Apabila hal ini terus menerus terjadi, maka bukan tidak mungkin jika generasi muda bangsa kita akan mulai meninggalkan segala hal yang diproduksi dalam negeri mereka. Kebiasaan mereka untuk selalu menerima tanpa memfiltrasi atau menyaring terlebih dahulu budaya asing yang datang akan membuat psikologi mereka terbiasa menerima. Terlebih jika mereka selalu menganggap apa yang berasal dari luar negeri akan lebih keren, kreatifitas anak negeri akan sedikit demi sedikit tereduksi karena tidak ada lagi yang memberi apresiasi. Kita akan terus menjadi anak muda yang berada dalam posisi nyaman dengan import produk asing apapun bentuknya (bahasa, budaya, barang, gaya hidup, dan lain sebagainya). Sehingga kita tidak lagi terdorong untuk berkreasi.

Kembali ke persoalan bahasa, Nizar sebagai sarjana pendidikan mempunyai tekad untuk kembali mengeksistensikan bahasa indonesia untuk digunakan sebagai bahasa sehari-hari. Bahkan anak muda ini bercita-cita untuk menginternasionalkan beberapa kata maupun suku kata dari bahasa indonesia. Bagi dia, kedaulatan bahasa merupakan salah satu aspek penting paling fundamental apabila kita mau mempertahankan keberadaan dan eksistensi dari budaya dalam negeri kita.

Semoga tujuan muliamu bisa segera terwujud kak! Saya mendukung.

*nb: email bahasa kitanya adalah surel atau surat elektronik. Saya baru tau ini, hahaha.


Pemuda berdarahPakistan ini adalah alumnus dari S1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Bahasa Inggris) di Universitas Pendidikan Ganesha Denpasar dan saat ini sedang berjuang untuk mendapatkan gelar Magister Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Ganesha.

Bergerak, Berserikat dan Berkumpul

November telah tiba.

Senin ini saya mulai dengan aktivitas rutin. Bangun jam 5 pagi untuk solat subuh, dilanjutkan dengan kembali tidur untuk terbangun lagi pukul 7 dan snoozing alarm sampai pukul 8 (ini bukan untuk ditiru kawan). Andaikata ibu sang fajar ngga teriak nyuruh mandi karna khawatir air mati lagi, mungkin saya masih nggeletak kaya baju kotor di kasur. Ya, rumah saya di daerah padang sambian beberapa minggu ini sering dapet giliran pemadaman air dari PDAM. Walaupun saya suka kesel sama rutinitas pemadaman bergilir ini tapi saya tetep memilih pake jasa mereka buat ngalirin air ke rumah. Ngebor sumur kayanya bukan pilihan bijak buat daerah rumah saya yang rata-rata sudah di paping, kasian air tanahnya habis di sedot tapi ngga dapet suplai dari atas tanah (logika saya sih bilang gitu, kurang tau ya teorinya bener engga).

Ritual mandi udah beres, hari ini saya menghabiskan kurang lebih 15 menit dari waktu hidup saya untuk mandi. Sekedar saran aja, Handphone / gadget di kamar mandi emang ganggu banget, kurang-kurangi melibatkan mereka dalam kegiatan MCK dan waktu hidupmu akan lebih berguna.

earphone sudah terpasang, scanning frekuensi dan yang terpilih 101.2 fm buat denger “mata sapi” sepanjang perjalanan rumah – ubud. Sebenernya pake earphone selama perjalanan yang menggunakan motor itu dilarang sob, karna ya emang bisa ganggu konsentrasi kita. Tapi ada daya, jarak rumah ke kantor sekitar 21 KM lumayan bikin ngantuk kalo ngga ada hiburan selama perjalanan, hehehehe. Okke, salim sama emak udah, sarapan sudah, bekel sudah masuk tas, semua keperluan juga sudah masuk tas, kunci sudah di motor, gas motor udah ditarik.

Hari sudah dimulai.

Selama perjalanan, banyak ide yang muncul dan membuat jari saya pingin balik kesini lagi. Nasib baik, karna kesibukan kantor lagi agak mereda jadi hasrat jaripun bisa tersalurkan. Salah satu alasan kenapa pingin nulis lagi adalah selama perjalanan tadi si dj mata sapi sedikit membahas tentang salah satu kegiatan sosial (yang saya lupa jenis kegiatannya apaan) dengan tujuan menghimpun dana bantuan untuk masyarakat Indonesia yang daerahnya lagi apes diselimuti jarebu. Beberapa daerah di Indonesia khususnya bagian barat memang beberapa bulan terakhir lagi kena bencana kabut asap. Penyebabnya adalah kebakaran hutan yang terjadi di beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan serta kemarau panjang sehingga hujan tak kunjung datang. Sehingga kita kembali menjadi exportir asap terhebat di dunia.

Kalo kita bicara tentang penyebab kebakaran yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan memang sudah pasti bakal gampang banget buat ditebak siapa dalang dibalik ini semua. Ya, perusahaan kelapa sawit yang mau meluaskan lahan sawit mereka, pemerintah daerah yang kurang peka terhadap kebijakan tentang perlindungan hutan, dan yang paling utama adalah masih rendahnya tingkat kepedulian manusia terhadap keadaan alamnya.

Dari obrolan sama temen dagang bakso yang pernah ke kalimantan dan liat keadaan lahan disana saya sedikit dapet informasi kenapa para investor memilih kelapa sawit sebagai komoditi dan metode membakar hutan untuk perluasan lahannya. Tekstur tanah gambut yang ada di Kalimantan memang membuat  masyarakat sulit untuk menanam tanaman pangan. Mas Zitni bilang dalam jawanya yang sudah saya terjemahkan, “soalnya di lahan gambut ada unsur sejenis logam yang dalemnya ngga kurang dari 50 cm dari permukaan tanah jadi buat beberapa taneman ga bisa tumbuh disini, dit”. Itu alasan kenapa di Kalimantan sedikit orang yang bisa nanem tanaman pangan, kalopun ada yang bisa memanfaatkan lahan gambut ini biar bisa ditanami tanaman pangan itu perlu anggaran tinggi dan membuat masyarakat lebih melihat kelapa sawit sebagai komoditi menjanjikan.

Masnya juga bilang alasan kenapa pengusaha-pengusaha milih bakar hutan. Soalnya kalo pake buldozer itu mahal biayanya dan sulit karna medan gambut engga kaya’ tanah pada umumnya yang padet, jadi cuman beberapa aja yang pake buldozer, selebihnya pake cara yang lebih instan yaitu bakar hutannya.

Kenapa kok biasanya bakar hutan juga, tapi ngga sebanyak ini asapnya?

jawabannya karena sekarang hujannya ngga turun-turun. Kalo biasanya habis dibakar paling tiga bulan berikutnya udah hujan, kalo sekarang kemaraunya panjang jadi makin memperparah keadaannya. Bahkan beberapa hutan juga jadi kebakar alami karna ngga ada hujan. Pohonnya meranggas, rantingnya pada saling gesekan, jadi muncul api terus kebakaran juga.

Okke kita beralih lagi.

Selepas tadi bahas tentang penyebab asap. Disini saya juga pingin bahas keyakinan saya tentang akan selalu ada hikmah dibalik musibah. Setiap ada musibah yang terjadi saya selalu berkeyakinan “Sang Arsitek” kehidupan pasti punya rencana nan indah. Sampai sekarang hal ini selalu terbukti.

Bencana asap taun ini menurut saya berhasil menyatukan masyarakat kita yang semakin hari semakin merenggang hubungannya. Perselisihan setiap hari ada terus, perdebatan tentang perbedaan prinsip selalu muncull, setiap hari gengsi selalu dilombakan, kepentingan pribadi yang selalu diutamakan. Bencana yang terjadi kali ini seperti oase di tengah gurun kering, kalo kita ibaratkan. Gurun kering ini ibarat dari keadaan sosial yang tadi saya jelaskan, dan oasenya adalah bencana asap. Ya, karena bencana ini muncul beragam aksi sosial. Konser amal, aksi turun ke jalan yang dilakukan aktivis untuk meminta sumbangan ke setiap pengendara, penjualan produk yang sebagian keuntungannya diperuntukan bagi korban asap, penanaman pohon, revitalisasi hutan, dan program serta kegiatan lain lah.

Walaupun aksi yang dilakukan beragam mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu mengurangi penderitaan yang dialami oleh para korban asap disana.

Pasca bencana ini saya sangat berharap karakter ini tidak berubah. Bisa mulai berpikir untuk tanggap bencana jangka panjang, Bisa selalu meningkatkan kepedulian terhadap sesama, menyampingkan ego dan kepentingan pribadi, mau bergerak bersama untuk menyelesaikan masalah Indonesia tanpa harus menunggu ada bencana yang datang melanda.

setidaknya kita bisa memulai dari hal yang paling kecil. yaitu ikut bergerak mencari dan memberi solusi. ayo sama sama berdoa, semoga kita lekas sembuh dan bisa main lagi ya.

Oiya satu lagi, semoga kita semua bisa selalu peduli sama alam sekitar ya. Sumpah ngeri aja mbayangin kalo keadaan kaya’ gini terus menerus terjadi sampe 20 tahun ke depan.

Amin.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai