Sudah dua bulan lamanya semenjak saya memutuskan diri untuk menyudahi masa perkuliahanku atau banyak yang menyebutnya sebagai wisuda.
Ya, saya seorang sarjana ilmu politik lulusan hubungan internasional Universitas Udayana. Sedikit mereview tentang gimana sih program studi hubungan internasional di Universitas Udayana (universitas nomer satu di Bali ‘katanya’) itu.
Program Studi ini bagiku program studi yang keren. Memang, memang keren bagi kalian yang tidak ada di dalamnya karena akan banyak yang berspekulasi bahwa di dalamnya akan banyak terdapat orang-orang hebat yang berbicara politik di luar negeri, akan banyak bertebaran isu luar negeri, bertebaran buku keren berbahasa asing, orang yang ada di dalamnya khatam dengan bahasa asing minimal bahasa inggris. Wuhuuuuw. Idealnya memang seperti itu kawan, atau memang seperti itu sebenernya cuman akunya aja yang ngga sadar.
Sekitar tiga tahun dua puluh bulan sebelum hari kelulusanku, aku memutuskan untuk mendaftar pada program studi tersebut dan dua bulan berikutnya memang aku diterima dan resmi terdaftar sebagai mahasiswa hubungan internasional. Banyak perasaan yang timbul pada waktu itu dan yang paling mendominasi adalah perasaan bangga disaat temen-temenku yang lain masih sibuk dengan mencari kuliah dan saya sudah duduk ongkang-ongkang kaki (ya, saya memang masuk melalui jalur PMDK I yang pada masa itu merupakan jalur penyaringan pertama di jamannya). Sedikit sombong karena tidak harus memikirkan dimana akan melanjutkan studi dan juga karena ketika ditanya
“Kuliah dimana sekarang?”
saya sudah enteng untuk menjawab “masuk HI Unud”
Dan mereka akan menjawab “uhkle keren nok”.
“Wahahahaha,” ya itu memang kebanggaan tersendiri di jamannya.
Kurang lebih dua bulan berikutnya saya sudah mengikuti segala aktivitas dari pendaftaran hingga ospek. Kegiatan perkuliahan pun dimulai pada tanggal 1 September 2010 yang ditandai dengan kebingunganku memilih tempat duduk karena memang saya bukan mahasiswa yang masuk ke HI bersama gerombolan teman SMA, dari SMA PGRI 2 saya satu-satunya yang masuk HI di tahun tersebut. Melihat teman lain yang berkumpul dengan temannya saya hanya bisa bingung dan akhirnya memutuskan untuk memilih bangku di baris ketiga dari depan karena disana ada temenku sewaktu SD.
Hari perkuliahankupun dimulai.
Singkatnya (ga sesingkat dicerita ini sebenarnya) 3 tahun 19 bulan berlalu dan akhirnya lulus juga.
Wisuda.
Wisuda yang dirindukan (walaupun tidak pernah bertemu sebelumnya) datang juga. Tanggal 30 Mei adalah hari bersejarah itu, biarpun banyak yang menganggap wisuda ga penting tapi bagi saya itu tetap penting (hahahaha) karena suatu alasan. Saya menganggap ini penting karena wisuda adalah momen dimana kita kayak tukik yang dilepas ke laut, disanalah kalian akan menentukan nasib kalian sendiri.
Bekerja
Keadaan setelah wisuda memang banyak ditakuti oleh mahasiswa, tentu tidak untuk seorang aditlazu (oke ini nadanya terlihat sombong) karna dia bukan orang yang bingung menjawab pertanyaan ‘kerja dimana sekarang?’. Ya adit sudah lulus dan tidak lebih dari seminggu dia sudah bekerja di sebuah yayasan yang bergerak di bidang HIV & AIDS yaitu Yayasan Bali Peduli. Saya bekerja disana sebagai Operational Asisstant.
Sebagai sarjana hubungan internasional mungkin banyak yang bertanya mengapa saya masuk ke yayasan yang bergerak di bidang kesehatan. Okke, jawaban yang pertama adalah, yayasan itu yang menerima lamaran saya, kedua saya orang yang pilih pilih pekerjaan dalam hal ini saya memilih pekerjaan yang tidak hanya mengejar profit oriented saja, dan yang terakhir adalah di yayasan ini tidak mengikat saya. Hahahaha. Selain itu Hubungan Internasional merupakan disiplin ilmu yang beragam jadi ya bebas lah lulusannya kerja dimana kannnnn? Njajahahahahahaaaa…
Gajian
Masuk ke mozaik berikutnya, fase umum dalam sebuah pekerjaan adalah gajian. Ya inilah yang selalu menjadi pertanyaan lanjutan setelah pertanyaan ‘kerja dimana kalian’ terjawab. Gaji pertama saya bertepatan dengan dekatnya hari raya idul fitri jadi untuk gaji yang besarannya UMR daerah ubud dan padatnya agenda hari raya pada saat itu, gaji sayapun numpang lewat saja. Walau bagaimanapun ya memang ada beberapa nominal yang saat ini sudah berubah bentuk menjadi barang.
“Jadi inti dari episode ini apa?”
Okke, sekarang saya akan menjawab.
Mengapa judulnya adalah ‘Juli dan Berkah di Dalamnya’, karena dalam bulan ini ada hari raya idul fitri, ada gajian, ada jawaban dari pertanyaan kapan lulus, ada jawaban dari pertanyaan kerja dimana, walaupun belum ada jawaban dari pertanyaan kapan menyudahi hubungan kaya gini sama Febi.
“Siapa Febi?”
Oh maaf kalo belum aku jelasin. Febi, anak beribu karakter yang aku kenal kenal baik sejak enam taun lalu di bulan ini juga.
“Okke, terus kenapa pertanyaannya putus? Kamu ada masalah? Kan eman udah 6 taun terus udahan”
“Hmmm, emang menyudahi status pacaran harus ada masalah? Kan bisa selesai pacaran terus menjalin hubungan yang lebih baik lagi kedepannya.”