…………………… VS ……………………

(kantor, 24 Agustus 2015 15:15 WITA)

Sekali lagi sosial media mengusik ketenangan yang mulia aditlazu. Bukan tentang aplikasi yang dikeluarkan, bukan tentang tampilan, bukan tentang mark zuckerberg (tapi mungkin juga sih karna dia) juga. Keresahan yang muncul adalah apa yang ditampilkan oleh para penggunanya di Indonesia (saya tidak tau bagaimana mereka diluar sana mempergunakan sosial media itu).

Okke kita mulai..

Menjadi bebas dan tidak terbatas merupakan konsekuensi dari berkembangnya zaman. Hal tersebut didukung oleh banyak hal, terkhusus di Indonesia. Pasca bergolaknya aksi massa besar-besaran yang menuntut rezim orde baru untuk menyudahi dominasi mereka, reformasi mulai masuk ini ditandai dengan merdekanya hak untuk berpendapat.

Baik saya rasa cukup untuk memperkenalkan awal mula demokrasi di Indonesia. Akan lebih baik untuk langsung ke bagian yang cukup mengganggu saya sebagai salah satu warga negara di Indonesia.

Keresahan saya mulai muncul setiap saya membuka sosial media untuk kemudian menikmati apa yang disediakan didalamnya, apapun sosial media tersebut yang jelas sosial media itu menyediakan fasilitas home, timeline, feed atau apapun jenisnya. Fasilitas itu menyediakan fitur share, retweet, regram, repath, dan teman-temannya yang isinya berbagai macam hal. Banyak dari pengguna sosmed itu menggunakannya secara bijak hingga memiliki dampak yang positif bagi mereka, misalnya beberapa minggu lalu ada seorang teman yang kehilangan dua (atau tiga aku lupa) anjingya dan bisa ditemukan karena ia memposting informasi kehilangan dan banyak yang ikut ‘ngeshare’ juga. Beberapa waktu lalu juga kita dihebohkan dengan postingan anak hilang di sosial media dan berujung pada matinya anak tersebut secara tragis, ya itu kisah tentang angeline. Namun, tidak semua fitur tersebut dimanfaatkan secara bijak oleh penggunanya.

Salah satunya dan yang paling membuat saya kecewa adalah mereka (pengguna sosial media) yang menggunakan fitur tersebut untuk mensharing hal hal yang bersifat sensitif contohnya ngeshare isu SARA.

Sebelum jauh, mari saya ajak rehat sejenak untuk menyatukan maksud dulu.

Dumay yang akan saya bahas disini adalah facebook. Saya merupakan salah satu orang yang kembali menikmati sosial media tersebut. Apabila ditanya alasannya, jawabannya adalah facebook enak dibuka lewat leptop jadi bisa tetep keliatan kerja ngadep leptop walopun di layar bukan kerjaan yang dibuka (hahahaha). Selain itu facebook juga merupakan salah satu sosmed yang masih dipakai teman-teman saya untuk lebih banyak membagi banyak hal informatif. Tidak seperti di facebook, teman-teman saya di sosial media lain yang lebih banyak menggunakan akun mereka untuk (maaf, bisa dibilang) sekedar pamer walaupun sebagian kecil tidak, ingat! Hanya “Sebagian kecil”.

Sip,,

Bagi temen-temen yang masih menikmati facebook pasti akan merasakan apa yang saya rasakan saat ini, yaitu home akan berisi postingan tentang agama, politik, atau hal lain yang sifatnya sensitif dan empuk untuk menjadi perdebatan. Seperti sudah saya tulis di tulisan sebelum-sebelumnya, entah kenapa masyarakat kita ni gampang banget masuk ke arus perdebatan. Walaupun berdebat itu ada baiknya untuk saling bertukar pendapat, tapi yang ada di halaman (beranda) facebook saya lebih banyak perdebatan yang tidak berkualitas sifatnya. Walaupun kualitas itu sifatnya relatif, dan relatif yang saya gunakan adalah relatif yang menurut saya.

Pendebat yang sering saya temukan di halaman facebook saya biasanya didominasi oleh banyak kalangan, ada agamawan, politikus, anak awam, anak awam yang keagamaan, anak awam yang kepolitik-politikan dan banyak macamnya. Tidak sedikit dari mereka yang membagikan atau membuat status yang sumbernya tidak bisa dipertanggung jawabkan dan justru menimbulkan kontroversi dan persinggungan terhadap kaum lainnya. Hal ini (membuat status dan membagi link) juga biasanya ditujukan untuk menyindir golongan lain atau ingin menunjukkan bahwa ‘nehkan keyakinanku bener’.

Perdebatan yang paling saya sorot disini adalah tentang agama dan politik. Alasannya adalah kedua perdebatan ini saling berkaitan dan inilah perdebatan yang tidak akan pernah ada selesainya (hehehehe). Perdebatan politik yang biasanya saya temui adalah perdebatan antara anak loyalis indonesia hebat dan loyalis merah putih. Kalo kalian pikir persaingan ini sudah selesai pasca datengnya pak prabowo ke pelantikannya pak jokowi, ternyata pikiran kalian sama seperti saya. Hhahaha. Ini belum beres bor.

Para loyalis indonesia hebat akan mati-matian menjadi ujung lidah dari rencana rencana ‘kabinet kerja’ presiden kita. Sedangkan loyalis merah putih akan selalu mengomentari negatif segala bentuk rencana pemerintah sampe paket internet mereka habis dan diisi lagi. Di awal keadaan ini, saya sempat berpikir positif bahwa keadaan ini akan menjadi keren karena akan selalu ada keseimbangan antara koalisi dan oposisi, namun yang terjadi tidak secantik harapan saya. Karena banyak pendebat yang tidak memberikan tanggapan dengan dewasa dan malah justru menyampaikan pendapatnya tidak dengan elegan. Elegan yang saya maksud adalah cara penyampaian gagasan yang diberikan oleh orang itu seharusnya dengan bahasa yang tidak menyinggung dan memberikan seharusnya pendapat tersebut juga mengandung jalan keluar.

Situasi seperti ini dikhawatirkan akan membuat publik yang masih lugu atau tidak mengerti tentang politik akan semakin tidak tertarik dengan politik. Apabila hal tersebut terjadi maka bersiaplah seluruh masyarakat tidak akan lagi percaya dengan politik dan tidak akan ada lagi generasi emas yang diizinkan masuk ke dunia politik oleh orang tuanya.

Ah, lebay kamu dit, masak sampe segitunya sih?!

Mungkin memang ini keliatan luar biasa lebay, tapi entah kenapa saya yakin sekali ini bisa terjadi. Alasannya, gausah jauh jauh mbayangin yang belum terjadi di masa depan deh, kita bercermin aja dengan apa yang terjadi hari ini. Guru-guru di sekolah khususnya guru IPS akan selalu menceritakan kehebatan tokoh-tokoh nasional yang terlibat dalam pembentukan awal negara kita, kemudian ketika anak-anak murid itu pulang kerumah apakah ada diantara orang tua mereka yang mencita-citakan anaknya untuk menjadi seorang politikus? Kebanyakan dari orang tua tersebut pasti menyiapkan anaknya untuk menjadi seorang pilot, dokter, polisi, guru, dan cita cita lain selain politikus, kalaupun itu ada angkanya pasti sangat kecil.

Lah terus kenapa kalo itu terjadi? Kan semua profesi itu juga bagus dan mulia asalkan dijalankan sesuai sebagaimana mestinya.

Iya, memang semua profesi itu baik dan bagus apalagi dijalankan sesuai dengan kaidah, tapi kalo semua orang benci dan gamau masuk ke lingkungan politik, gimana sistem negara kita jalan?. Banyak yang udah beranggapan bahwa kalo semua orang baik gamau lagi masuk politik ya politik akan selalu dipegan oleh orang ga baik yang orientasinya di politik cuman uang dan keuntungan aja tanpa berpikir bagaimana seharusnya mereka menjabat.

Oke, aku sepakat deh jadinya. Nah sekarang hubungannya sama masalah yang kamu tulis tadi apa?

Ya sekarang pembentuk opini publik adalah media massa, apapun media massa itu bentuknya. Terlebih sosial media, dan kalo terus orang-orang itu berdebat tentang siapa yang lebih pantas, program siapa yang lebih pantas, kebijakan yang kaya apa yang lebih pantas, nah bagaimana publik bisa percaya sama politik. Yang harusnya dibangun adalah kepercayaan publik terhadap pemerintahan dalam tataran apapun (koalisi maupun oposisi, eksekutif maupun legislatif). Sehingga akan mudah kita melibatkan masyarakat untuk membantu membangun dan menata negara ini kedepannya karena masyarakat kita sudah saling percaya dan tidak saling curiga dan saling menyalahkan melainkan saling mengisi kekurangan masing-masing. Dan negara kita akan dikenal bukan lagi sebagai negara yang hebat beromong kosong tapi juga hebat dalam menjalankan negaranya. Wuhuuuuuuuwwww!!!!

Okkelah yaaaa, hhaha. Aku anggep beres aja deh yang satu ini, trus gimana dengan pendebat agama yang kamu ceritain diawal tadi? Apa salahnya bertukar pendapat?

Ya, seperti yang saya singgung di awal bahwa saya sangat tertarik dengan dua perihal ini (poitik dan agama). Untuk isu ini mungkin lebih seksi daripada politik karena yang kita hadapi bukan tentang common sense lagi, tapi ayat yang ada di setiap kitab di masing-masing kepercayaan. Iya engga sih sebenernya? Ya anggap aja iya deh ya.

Agama memang menjadi isu yang makin hari makin sering dibahas dimanapun itu. Perdebatan antar agama memiliki tujuan yang entah apa sih itu (menurut saya). Saya bilang gitu karena memang, agama tidak akan pernah bisa diperdebatkan, karna ya agama untuk dijalankan bagi setiap pemeluknya.

Perdebatan paling banyak timbul antara agama timur tengah dan agama barat (maaf kalo saya salah sebut). Ya, (mungkin) banyak yang mengatakan dua kutub itu saling berebut hegemoni. Indonesia menjadi salah satu lahan yang tidak luput dari target mereka untuk menyebarkan pengaruh. Pengaruh yang disebarkan melalui cara yang sangat beragam, mulai dari fashion, food, hingga lifestyle.

Contoh nyata adalah bagaimana perdebatan tentang cara berpakaian di lingkungan kita. Antara pihak yang saya sebut dengan baju rapat tertutup dan pihak dengan baju ketat terbuka.

Bagi mereka yang masuk ke dalam team ketat terbuka akan mengatakan bahwa jangan sampai Indonesia terlalu terobsesi dengan negara timur tengah, biarkan Indonesia ini barjaya dengan ciri khas budayanya. Team ini selalu berpendapat bahwa Indonesia harus menjaga teguh budaya aslinya jangan terpengaruh oleh budaya negara lain. biarkan masyarakat Indonesia hidup dengan gaya hidupnya disini, tidak seperti di timur tengah sana, yang terlalu mencampuri urusan personal orang hingga ke tatacaranya berpakaian. Sungguh tidak sesuai dengan negara kita yang menganut demokrasi yang membebaskan rakyatnya untuk berekspresi.

Team rapat tertutup juga akan berstatemen, bahwa mereka tidak hidup dengan cara atau budaya negara lain tetapi mereka hidup dengan aturan dari kitab agama yang mereka percayai. Kalian telah salah kaprah mengenai gaya hidup kami. Kami tidak mengkiblatkan negara Arab atau negara timur tengah lain sebagai aturan hidup kami tapi kami menggunakan kitab kami. Sedangkan bagaimana dengan kalian? Kalian menggunakan jeans yang jelas bukan budaya kita, itu budaya negara barat yang dikomandoi oleh Amerika. Hidup kalian bebas seperti tidak ada aturan tentang hak individu.

Dalam kehidupan nyata, kedua perdebatan ini lebih seru dan panjang daripada dua paragraf seperti ilustrasi tersebut. Sedangkan menurut saya dua kutub ini sama benar dengan argumen mereka masing-masing sehingga tidak akan pernah menemukan titik akhir. Sekiranya akan lebih baik apabila kedua belah pihak akan lebih bijak dalam menanggapi setiap issu, saya yakin tidak akan ada lagi perpecahan. Walaupun perbedaan pendapat akan tetap ada tetapi itu akan mengarah ke penyatuan persepsi yang lebih baik.

Lagi-lagi saya mengingatkan bahwa tulisan ini bebas nilai yang saya tulis hanya berdasarkan apa yang saya lihat, jadi jangan pernah menggunakannya sebagai sumber tulisan ilmiah.

Salam.

Juli.

Sudah dua bulan lamanya semenjak saya memutuskan diri untuk menyudahi masa perkuliahanku atau banyak yang menyebutnya sebagai wisuda.

Ya, saya seorang sarjana ilmu politik lulusan hubungan internasional Universitas Udayana. Sedikit mereview tentang gimana sih program studi hubungan internasional di Universitas Udayana (universitas nomer satu di Bali ‘katanya’) itu.

Program Studi ini bagiku program studi yang keren. Memang, memang keren bagi kalian yang tidak ada di dalamnya karena akan banyak yang berspekulasi bahwa di dalamnya akan banyak terdapat orang-orang hebat yang berbicara politik di luar negeri, akan banyak bertebaran isu luar negeri, bertebaran buku keren berbahasa asing, orang yang ada di dalamnya khatam dengan bahasa asing minimal bahasa inggris. Wuhuuuuw. Idealnya memang seperti itu kawan, atau memang seperti itu sebenernya cuman akunya aja yang ngga sadar.

Sekitar tiga tahun dua puluh bulan sebelum hari kelulusanku, aku memutuskan untuk mendaftar pada program studi tersebut dan dua bulan berikutnya memang aku diterima dan resmi terdaftar sebagai mahasiswa hubungan internasional. Banyak perasaan yang timbul pada waktu itu dan yang paling mendominasi adalah perasaan bangga disaat temen-temenku yang lain masih sibuk dengan mencari kuliah dan saya sudah duduk ongkang-ongkang kaki (ya, saya memang masuk melalui jalur PMDK I yang pada masa itu merupakan jalur penyaringan pertama di jamannya). Sedikit sombong karena tidak harus memikirkan dimana akan melanjutkan studi dan juga karena ketika ditanya

“Kuliah dimana sekarang?”

saya sudah enteng untuk menjawab “masuk HI Unud”

Dan mereka akan menjawab “uhkle keren nok”.

“Wahahahaha,” ya itu memang kebanggaan tersendiri di jamannya.

Kurang lebih dua bulan berikutnya saya sudah mengikuti segala aktivitas dari pendaftaran hingga ospek. Kegiatan perkuliahan pun dimulai pada tanggal 1 September 2010 yang ditandai dengan kebingunganku memilih tempat duduk karena memang saya bukan mahasiswa yang masuk ke HI bersama gerombolan teman SMA, dari SMA PGRI 2 saya satu-satunya yang masuk HI di tahun tersebut. Melihat teman lain yang berkumpul dengan temannya saya hanya bisa bingung dan akhirnya memutuskan untuk memilih bangku di baris ketiga dari depan karena disana ada temenku sewaktu SD.

Hari perkuliahankupun dimulai.

Singkatnya (ga sesingkat dicerita ini sebenarnya) 3 tahun 19 bulan berlalu dan akhirnya lulus juga.

Wisuda.

Wisuda yang dirindukan (walaupun tidak pernah bertemu sebelumnya) datang juga. Tanggal 30 Mei adalah hari bersejarah itu, biarpun banyak yang menganggap wisuda ga penting tapi bagi saya itu tetap penting (hahahaha) karena suatu alasan. Saya menganggap ini penting karena wisuda adalah momen dimana kita kayak tukik yang dilepas ke laut, disanalah kalian akan menentukan nasib kalian sendiri.

Bekerja

Keadaan setelah wisuda memang banyak ditakuti oleh mahasiswa, tentu tidak untuk seorang aditlazu (oke ini nadanya terlihat sombong) karna dia bukan orang yang bingung menjawab pertanyaan ‘kerja dimana sekarang?’. Ya adit sudah lulus dan tidak lebih dari seminggu dia sudah bekerja di sebuah yayasan yang bergerak di bidang HIV & AIDS yaitu Yayasan Bali Peduli. Saya bekerja disana sebagai Operational Asisstant.

Sebagai sarjana hubungan internasional mungkin banyak yang bertanya mengapa saya masuk ke yayasan yang bergerak di bidang kesehatan. Okke, jawaban yang pertama adalah, yayasan itu yang menerima lamaran saya, kedua saya orang yang pilih pilih pekerjaan dalam hal ini saya memilih pekerjaan yang tidak hanya mengejar profit oriented saja, dan yang terakhir adalah di yayasan ini tidak mengikat saya. Hahahaha. Selain itu Hubungan Internasional merupakan disiplin ilmu yang beragam jadi ya bebas lah lulusannya kerja dimana kannnnn? Njajahahahahahaaaa…

 

Gajian

Masuk ke mozaik berikutnya, fase umum dalam sebuah pekerjaan adalah gajian. Ya inilah yang selalu menjadi pertanyaan lanjutan setelah pertanyaan ‘kerja dimana kalian’ terjawab. Gaji pertama saya bertepatan dengan dekatnya hari raya idul fitri jadi untuk gaji yang besarannya UMR daerah ubud dan padatnya agenda hari raya pada saat itu, gaji sayapun numpang lewat saja. Walau bagaimanapun ya memang ada beberapa nominal yang saat ini sudah berubah bentuk menjadi barang.

“Jadi inti dari episode ini apa?”

Okke, sekarang saya akan menjawab.

Mengapa judulnya adalah ‘Juli dan Berkah di Dalamnya’, karena dalam bulan ini ada hari raya idul fitri, ada gajian, ada jawaban dari pertanyaan kapan lulus, ada jawaban dari pertanyaan kerja dimana, walaupun belum ada jawaban dari pertanyaan kapan menyudahi hubungan kaya gini sama Febi.

“Siapa Febi?”

Oh maaf kalo belum aku jelasin. Febi, anak beribu karakter yang aku kenal kenal baik sejak enam taun lalu di bulan ini juga.

“Okke, terus kenapa pertanyaannya putus? Kamu ada masalah? Kan eman udah 6 taun terus udahan”

“Hmmm, emang menyudahi status pacaran harus ada masalah? Kan bisa selesai pacaran terus menjalin hubungan yang lebih baik lagi kedepannya.”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai