Agama dan Publik

“Lakum Dinukum Waliyadin – Bagimu Agamamu dan Bagiku Agamaku. QS Al-Kafirun ayat ke-6.”

Siang ini hariku diisi oleh ramainya pemberitaan di facebook, twitter, serta media online lain (karna memang kantor saya tidak menyediakan televisi diruangannya entah mengapa) tentang seorang artis yang memutuskan dirinya untuk pindah agama. Sesuatu yang menarik bukanlah ke agama apakah ia pindah, atau alasan mengapa artis tersebut memutuskan untuk pindah agama, tetapi melihat respon dan komentar netizen tentang keputusan yang diambil oleh artis tersebut.

beragam respon saya dapatkan dari yang mendukung maupun yang mengecam keras. tetapi yang menjadi pertanyaan mendasar saya adalah, “seberapa berhak orang lain menentukan keputusan yang diambil seseorang?”, terlebih keputusan tersebut merupakan suatu yang sifatnya sangat pribadi yaitu memilih agama atau menganut kepercayaan tertentu. Hal tersebut sudah diatur oleh konstitusi kita di pasal 28 E, dan pasal 29 (yang isinya bisa digugling).

Pertanyaan lain kemudian muncul (walaupun pertanyaan pertama belum terjawab), Apakah ini wujud kepedulian mereka para masyarakat luas kepada artis tersebut?, lalu reaksi apa yang diharapkan nantinya ketika cara menunjukan kepedulian itu disampaikan dengan bentuk yang seperti itu adanya?, inikah hasil dari pendidikan yang mengajarkan kita untuk saling peduli dengan orang lain?.

Berdebat terkait perbedaan memang selalu menjadi topik menarik yang dipilih oleh banyak orang baik itu perseorangan ataupun kelompok. Agama juga menjadi salah satu topik favorit yang dipilih untuk mengacaukan perbincangan hangat yang diselingi oleh sruput suara kopi. Huh, padahal betapa indahnya agama itu sebenarnya apabila kita menjalankan dengan aturan yang kita yakini masing-masing bukan untuk diperdebatkan apalagi untuk saling memecah suatu golongan antar umat.

Hmmh, saya memang tidak lahir dan besar di lingkungan keluarga yang berbeda keyakinan, dan bapak ibu saya merupakan seorang muslim yang benar-benar menjalankan aturan agamanya (benar menurut ilmu yang kami pelajari). Tetapi saya cukup senang ketika mendengar cerita mereka tentang perjalanan hidup mereka berdua yang sudah berkeliling Indonesia dan hidup di banyak suku, ras, adat dan agama yang berbeda. Tidak jarang mereka juga dituntut untuk survive dengan daerah yang membuat mereka menjadi minoritas. Tetapi mereka selalu bercerita kepada anak-anaknya tentang toleransi yang dilakukan oleh masyarakat mayoritas di setiap daerah yang mereka tinggali.

Tapi cerita yang mereka berdua ceritakan itu berlatar waktu “sekian tahun silam”. Saat itu orang orang belum terlalu mengenal TV, Radio, Surat Kabar,  dan hanya sedikit mungkin yang mengenyam bangku pendidikan. Sehingga saya berkesimpulan sementara, “Mungkin ilmu pengetahuan yang menjadi latar belakang ini semua”.

Ah, entahlah. toh semua pertanyaan dan praduga ini akan berakhir pada “kembali pada sudut pandang dan pribadi masing-masing”. Sudah masuk waktu dzuhur lebih baik saya shalat.

Terimakasih. Salam

toleransi beragama

Halo!

salam kenal saya aditlazu anggota baru wordpress. sebelum disini saya sudah pernah menulis di coretansemrawut.blogspot.com jadi silahkan dikritik dan dinikmati disana tulisan tulisan saya sebelumnya. Dengan alasan pingin warna blog yang baru jadi saya memutuskan pindah kesini. Salam kenal sekali lagi dan selamat menikmati. Salam, aditlazu.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai